Bilal, Terima Kasih Untuk Semangatmu August 23, 2009
Posted by snhadi in Senyuman Cinta.Tags: Anak Sholeh, Ramadhan
1 comment so far
Tadi pagi selepas sahur alhamdulillah kaki masih ringan dilangkahkan ke mushola dekat rumah untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Alhamdulillah juga hikmah ramadhan membuat masjid/mushola tidak sepi dari jamaah.
Tetapi, ada pemandangan yang istimewa yang saya lihat. Di antara jamaah yang ada, ada terselip satu anak kecil yang berada di jejeran jamaah. Namanya Bilal, umurnya baru sekitar 4 tahun. Dengan wajah polosnya dia berusaha khuyuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah bersama kami (bukan diam saja atau mungkin melakukan kegiatan sendiri), meski sesekali tangannya mengucek mata karena mungkin masih ada rasa kantuk yang menggelayut. Mungkin juga sehabis bangun sahur si bocah kecil ini tidak sempat tidur lagi. Dan bersama orang tuanya langsung ke mushola dekat rumah kami untuk sholat berjamaah.
Selepas sholat shubuh usai dan jamaah sudah mulai berhamburan pulang, Bilal masih tetap setia mengikuti dzikir yang diucapkan imam mushola, meski dengan suara yang sayup-sayup sampai, entah karena sulit mengikuti atau mungkin aroma kantuk yang semakin menyerang. Sampai akhirnya sholat shubuh diakhiri dengan doa dan salam-salaman, Bilal si bocah lugu ini tetap setia bersama kami, sementara mungkin anak-anak seusianya masih setia memeluk bantal guling di rumah masing-masing sambil dipeluk orang tuanya.
Mungkin tidak terlalu istimewa kalau bocah laki-laki ini hanya berada di mushola saat ramadhan saja, seperti yang sering kita lakukan, yaitu baru ingat pentingnya sholat berjamaah di masjid jika ramadhan tiba. Saya coba bertanya kepada jamaah yang lain tentang Bilal. Dan ternyata, Bilal termasuk bocah yang paling konsisten sholat berjamaah di mushola dekat rumah kami. Bahkan sejak dia masih umur belum genap tiga tahun. Saya jadi malu dibuatnya.
Sungguh luar biasa pelajaran dari Bilal. Ayah dan ibunya bukan termasuk golongan kyai atau santri, sama seperti kita kebanyakan, namun rasa cinta kepada agama ini sudah ditanamkan sejak dini kepada sang anak. Bukan diajarkan hanya dengan omongan dan perintah, melainkan dengan contoh yang nyata. Dan sudah sepantasnya saya menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya sambil terus berharap akan ada Bilal-bilal yang lain yang membuat agama ini semakin membawa rahmat bagi kita semua. Semoga Bilal yang saya lihat ini menjadi seperti Bilal sahabat nabi, yang bunyi terompah (sandal) nya terdengar dari dalam surga oleh nabi yang saat itu sedang berada di alam fana. Semoga….
Uniknya Indonesiaku; Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan August 19, 2009
Posted by snhadi in Cermin Tergores.Tags: Kemerdekaan
4 comments
64 tahun bagi usia manusia dianggap usia yang sudah sangat matang, sehingga diharapkan kebijaksanaan selalu terpancar dari setiap tindak tanduk orang tersebut. Tetapi 64 tahun untuk usia sebuah negara dianggap sebagian orang masih labil, kadang muncul kedewasaannya, tidak jarang muncul pula sifat kekanak-kanakkannya.
Kita bersyukur negeri ini kemarin merayakan ulang tahun ke-64. Dan senang rasanya masih bisa menyaksikan negeri ini tetap tegak berdiri, masyarakatnya masih dalam kebersamaan meski tidak sedikit kesulitan yang harus dihadapi. Inilah bukti bahwa sisi kedewasaan telah dimiliki.
Namun, kadang di balik sisi kedewasaan yang kita miliki, terselip juga sisi kekanak-kanakkan yang secara sadar atau tidak ikut dikedepankan. Dari mulai yang paling sederhana, yaitu perilaku kehidupan masyarakat kita sehari-hari ketika dihadapkan kepada peraturan yang ada, sampai yang cukup kompleks, misalnya sikap elit politik dan penguasa yang seringkali lebih mengutamakan kepentingan masing-masing dibanding kepentingan masyarakat yang diwakilinya.
Berikut sedikit saya perlihatkan beberapa gambar tentang sifat kekanak-kanakkan yang masih muncul dalam diri kita di balik sisi kedewasaan yang kita miliki.
Gambar 1. Seseorang yang lunglai setelah dipukuli oleh oknum satpam karena ketahuan mencuri. Idealnya setelah tertangkap langsung diserahkan ke aparat kepolisian, tetapi ini justru dipukuli terlebih dahulu, kemudian disiram dengan air bekas mandinya anjing herder milik mereka. Gambar ini saya ambil di salah satu kawasan industri terkenal, di Batam.
Gambar 2. Kotak saran ini justru berisi uang seperti layaknya kotak amal. Mungkin ini salah satu bentuk saran yang ril bagi pemerintah yang selalu bicara finansial ketika dikritik masalah fasilitas umum yang masih tidak lengkap. Gambar ini saya ambil di salah satu pelabuhan Ferry di pulau Batam.
Gambar 3. Kotak permainan anak dengan hadiah rokok. Mungkin ini bentuk pengenalan dini rokok kepada dunia anak. Gambar ini saya ambil di depan salah satu toko kelontong di Batam.
Gambar 4. Mengais air bersih di pipa yang bocor. Gambar ini diambil di salah satu wilayah di muka kuning, Batam.
Gambar 5. Tempat duduk di kereta ini idealnya diperuntukkan bagi manula, orang cacat, dan ibu hamil. Tetapi justru yang masih muda dan sehat yang mendudukinya. Gambar ini diambil dari KRL Pakuan, jurusan Jakarta – Bogor.
Semoga di usia kemerdekaannya yang semakin bertambah ini, negeri ini ke depannya bisa semakin memperbaiki diri, tentu dengan dukungan dari kita semua.
Anakku Bukan Milikku August 18, 2009
Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.Tags: Hari Anak
1 comment so far
Anak adalah titipan tuhan kepada kita. Karenanya jika kita menghargai tuhan maka kita akan selalu melakukan yang terbaik dalam menjaga anak-anak kita, baik dari kesehatannya, pendidikannya, maupun akhlak dan budi pekertinya.
Adalah suatu tantangan yang luar biasa saat kita diberi tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita tuhan, menjadikan anak-anak kita orang yang mulia di mata tuhan. Segala upaya akan kita lakukan, meski mungkin sampai harus berkorban segala yang kita miliki, dari mulai harta sampai kebahagiaan kita.
Read more…
Selalu Ada Damai di Jogja August 18, 2009
Posted by snhadi in Senyuman Cinta.add a comment
Sebenarnya kemarin agak menyesal gak bawa laptop pas ada waktu berkunjung ke Jogja. Padahal cukup banyak hal yang mau dibagi lewat blog kesayangan ini. Tapi untungnya ada hape jadi bisa foto-foto, lumayan buat bahan menulis, supaya tidak sampai terlewatkan.
Tanggal 13 –15 Agustus kemarin saya pergi ke Jogja. Dengan bekal ingatan 12 tahun lalu, saya menjelajahi beberapa wilayah Jogja, terutama UGM dan sekitarnya, juga Malioboro (Jalan A. Yani) – Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya bisa mengunjungi tempat yang lainnya juga, seperti keraton, candi, dsb.
Read more…
Sambut Ramadhan Dengan Iman Pas-pasan August 10, 2009
Posted by snhadi in Senyuman Cinta.Tags: Ramadhan
4 comments
Bulan suci Ramadhan, Insya Allah segera menjelang. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh lebih dari 1 milyar penduduk muslim di seluruh dunia. Bulan yang ditunggu karena keistimewaannya. Tuhan yang sudah Maha Pemurah akan lebih pemurah lagi. Tuhan yang sudah Maha Penyayang akan lebih penyayang lagi. Tuhan yang sudah Maha Pengampun akan jauh lebih pengampun lagi.
Tetapi sayangnya, seringkali kita merasa ada yang kurang dalam menyambut bulan mulia ini. Orang-orang mungkin akan lebih sering menjalankan puasa sunnah di bulan Sya’ban ini untuk persiapan bulan Ramadhan, kita di sini justru masih sulit meninggalkan kebiasaan sarapan dan makan siang. Perut rasanya sulit jika tidak diisi.
Read more…
Membumikan Perbankan Syariah di Bumi Indonesia August 6, 2009
Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.Tags: Bank Syariah, IB-Blog Competition
add a comment
Saat ini, dunia perbankan sangat sulit dipisahkan dari kehidupan kita. Jarang sekali transaksi yang kita lakukan tanpa melibatkan bank, dari mulai yang sederhana misalkan mengirim sejumlah uang untuk keluarga di kampung sampai mengajukan kredit usaha bertaraf milyaran rupiah. Kalau mau dibuat survey, saya yakin sebagian besar individu di negeri ini pasti memiliki account di bank, baik bank konvensional maupun bank syariah.
Terlepas dari perbedaan sistem yang dianut oleh kedua bank ini, saya lebih tertarik menyoroti perbedaan keduanya dari sisi keterkenalannya di mata masyarakat. Berkaitan dengan ini, saya pernah iseng mengajukan beberapa pertanyaan kepada sejumlah rekan kerja saya. Pertanyaan pertama adalah berapa jumlah account bank yang dimiliki saat ini. Sebagian besar rekan kerja saya menjawab memiliki lebih dari satu account. Mereka rata-rata memiliki tiga nomor rekening di tiga bank yang berbeda. Setelah mendapatkan jawaban ini, saya beralih ke pertanyaan selanjutnya, dari sejumlah nomor rekening yang dimiliki, adakah account di bank syariah. Dan cukup mengejutkan, semua rekan kerja saya ini menjawab tidak memiliki.
Read more…
Saat Kesederhanaan Menghilang di Bulan Suci August 4, 2009
Posted by snhadi in Cermin Tergores.Tags: Ramadhan
2 comments
Sebentar lagi umat muslim di Indonesia dan di belahan bumi lain, Insya Allah akan kembali menjumpai bulan suci Ramadhan. Bulan yang kehadirannya selalu dinanti. Bulan yang dianggap sebagai kawah candra dimukanya penggodokan spiritual manusia.
Bulan Ramadhan selain mampu mengubah perilaku spiritual kita – meski kadang hanya sementara – juga mampu mengubah perilaku sosial kita. Kita menjadi lebih peduli kepada orang lain. Kita menjadi bisa ikut merasakan nasib kaum miskin yang hidup apa adanya dan serba kekurangan.
Tetapi sayangnya, seringkali hakikat tujuan puasa untuk membuat kita bisa lebih ikut merasakan nasib kaum dhuafa justru menjadi hilang. Coba kita jawab secara jujur, adakah perbedaan gaya hidup kita di saat bulan puasa dengan bulan lain? Saya yakin sebagian dari kita akan menjawab iya.
Read more…
Kala Media Ikut Meneror August 4, 2009
Posted by snhadi in Cermin Tergores.Tags: HAM, Terorisme
2 comments
Siapa yang tidak tahu peristiwa bom Mega Kuningan akhir Juli lalu. Begitu pula banyak peristiwa teror lainnya yang mendera bangsa ini. Semua masih terekam dengan jelas di ingatan kita, meninggalkan trauma yang mendalam tidak hanya bagi korban dan keluarganya, tetapi juga bagi kita yang mencintai kedamaian.
Terlepas dari siapakah pelaku sebenarnya dan apa motif di belakangnya dari rentetan peristiwa teror bom di negeri ini, tentu kita harus bisa menyikapi peristiwa ini dengan bijak. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan peristiwa teror ini. Tetapi saya juga sangat tidak setuju jika kemudian kita berlaku semena-mena terhadap kelompok orang yang dituding mendalangi aksi ini. Apalagi sampai mengopinikan kelompok ini memang terbukti teroris padahal putusan hakim belum menjatuhkannya bersalah. Apalagi jika kita sampai menghubungkan teror dengan ajaran agama tertentu.
Read more…
Mensyukuri Kemerdekaan August 1, 2009
Posted by snhadi in Senyuman Cinta.Tags: Kemerdekaan
1 comment so far
Pagi ini awal Agustus 2009, ketika ribuan orang tengah berlatih menyelam penuh semangat demi mengejar rekor dunia dalam rangka menyambut peringatan dirgahayu kemerdekaan negeri ini, 17 Agustus depan, saya hanya bisa mengetik huruf per huruf kata-kata yang ingin saya tuangkan di blog saya, di kamar kos yang sebentar lagi akan saya tinggalkan.
Yah, bagi sebagian orang, sebagai sebuah negara, meski kita telah merdeka selama 64 tahun, pada hakikatnya kita masih belum merdeka. Meski penjajah asing sudah hengkang dari negeri ini sejak 64 tahun yang lalu, sebagian kita masih merasa hidup dalam kekangan. Hidup dalam belenggu kemiskinan yang tak pernah berkesudahan, hidup dalam keterbatasan dalam mendapatkan hak hidup yang layak di negeri ini. Bagi mereka kemerdekaan yang seutuhnya hanya dimiliki oleh segelintir orang, sedangkan sebagian besar lainnya hanya bisa bermimpi.
Read more…









