jump to navigation

Kejujuran Seorang Pedagang January 19, 2012

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
add a comment

Sebenarnya beberapa hari ini saya hampir-hampir kehilangan ide untuk menulis. Kondisi fisik yang masih dalam masa pemulihan pasca terkena flu beberapa hari lalu membuat otak rasanya malas sekali untuk berpikir kritis, yang ujungnya membuat imajinasi menjadi seolah terhenti. Tapi berhubung saya tidak mau otak sampai karatan karena terlalu lama diistirahatkan, saya berusaha sedikit demi sedikit mencari ide kembali. Dari beberapa topik yang ingin saya tulis di blog ini, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mendapati para pedagang yang jujur, tempatnya bukan di pelosok desa, tetapi di ibukota yang notabene kejujuran seringkali kalah dengan urusan perut.

Berbeda dengan oknum pedagang buah salak di dalam bus ekonomi jurusan Jakarta-Tasikmalaya yang dengan berbusa menawarkan salaknya yang katanya manis, tetapi ternyata masam sehingga sempat membuat komplain pembeli, berbeda juga dengan oknum pedagang kue moci khas sukabumi di terminal Bogor yang menjual moci dengan harga standar namun dengan kualitas moci yang buruk bahkan basi, atau oknum-oknum pedagang sejenis yang seenaknya menaikkan harga ketika melihat ada pembeli yang wajahnya baru dikenal, pedagang buah di pinggiran jalan UKI yang mau ke arah tol menuju Bogor dan pedagang buah sejenis di belakang warung nasi padang di perempatan simpang POLSEK Tanjung Uncang Batam begitu berbeda. Kilauan materi tak menyebabkan mereka mau mengorbankan hati nuraninya.
Read more…

Back To Dinar/Dirham; Episode Kebangkitan Ekonomi Islam January 9, 2012

Posted by snhadi in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Terus terang kalau berbicara sistem ekonomi Islam, saya termasuk yang masih sangat awam dan perlu belajar banyak. Saya hanya sebatas memanfaatkannya saja, itu pun hanya dalam bentuk memulai migrasi tabungan dari bank konvensional (dengan sistem bunga/riba) ke bank syariah (dengan sistem bagi hasil/non-riba). Begitu pula ketika orang memperkenalkan saya kepada mata uang dinar.

Awalnya saya pikir dinar yang diperkenalkan sama seperti mata uang biasa (kertas/fiat) layaknya dinar Iraq. Tapi ternyata bukan itu melainkan mata uang emas dengan kemurnian 91,7% dan sedikit campuran perak 8,3% (kadar 22 karat) dengan berat 4,25 gram. Di Indonesia sendiri ada beberapa perusahaan yang telah memproduksi koin dinar seperti PT Aneka Tambang, tbk dan PERURI yang distributor utamanya adalah GERAI DINAR. Selain itu ada juga yang diproduksi oleh Islamic Mint Nusantara (IMN) yang didistribusikan di Indonesia oleh DINAR FIRST dan World Islamic Min (WIM) oleh WAKALA NUSANTARA.

Yang menarik adalah meskipun cita-cita ketiganya (gerai dinar, dinar first, dan wakala nusantara) sama, yaitu ingin kembali kepada kejayaan sistem ekonomi Islam dengan dinar dan dirham sebagai ujung tombak transaksi ekonominya, namun perbedaan pemahaman belum bisa menyatukan mereka. Dinar yang dibeli pada distributor yang satu, belum tentu bisa diterima oleh distributor yang lainnya. Padahal sejatinya, mata uang dinar berbeda dari mata uang kertas karena yang dinilai bukan siapa yang memproduksi dan bagaimana modelnya melainkan kadar emas yang ada di dalamnya sesuai dengan standard atau tidak!
Read more…

Hati-hati, Berkebun Emas atau Berkebun Utang? January 2, 2012

Posted by snhadi in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Harga emas dalam beberapa minggu ini terjun bebas. Ini membuat banyak orang membeli emas, tentu dengan beragam tujuan. Ada yang sekedar ikut-ikutan trend, ada yang bertujuan mengamankan kekayaan, dan ada juga yang bertujuan investasi.

Untuk tujuan yang terakhir, kini banyak orang yang tidak sekedar berinvestasi dengan membeli sejumlah emas lalu menyimpannya kemudian menjual kembali saat harga emas kembali melambung tinggi, melainkan dengan menggunakan trik beli dan gadai ala berkebun emas.

Dengan cara berkebun emas, kita membeli emas misalnya 25 gram, lalu emas itu kita gadaikan di bank. Uang gadai yang kita terima, umumnya 80% dari nilai emas + 20% tambahan modal baru lalu dibelikan emas lagi. Emas tersebut lalu digadaikan kembali dan seterusnya. Dengan membayar sejumlah uang pemeliharaan di bank dan biaya administrasi kita bisa melakukan cara beli-gadai ini berulang-ulang sampai suatu saat harga emas melambung tinggi, baru kita jual emas yang terakhir. Hasil penjualannya untuk membayar biaya gadai beberapa emas lainnya. Sehingga dengan demikian si pemiliki akan menangguk untung berlipat meskipun sebenarnya tidak murni menggunakan uang sendiri (karena sekitar 60%an berasal dari bank).
Read more…

Mari Menabung Emas! January 2, 2012

Posted by snhadi in Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Saya masih ingat dengan jelas sekitar 2 tahun yang lalu, harga semangkuk bubur ayam tidak jauh dari tempat saya bekerja 5000 rupiah. Kemudian setelah 2 tahun berlalu, ternyata uang 5000 rupiah sudah tidak bisa untuk membeli bubur ayam lagi. Harga semangkok bubur ayam sekarang 8000 rupiah. Itu baru bubur ayam belum kebutuhan pokok lainnya.

Sebenarnya kenapa hal tersebut bisa terjadi ya? apa lantaran harga barangnya yang naik atau nilai uang yang kita pegang sekarang yang justru turun? Usut punya usut, setelah saya mencari-cari info ke sana-kemari, saya berujung pada satu kesimpulan, “Bukan harga barangnya yang naik, tetapi nilai uang kita yang turun!”. Kemudian saya menemukan pada suatu fakta bahwa sebenarnya dari dulu hingga sekarang, harga barang kebutuhan manusia itu cenderung stabil, kalaupun naik tidak signifikan. Tetapi nilai uang yang digunakan oleh manusia yang cenderung fruktuatif dan semakin terjun bebas. Ini lantaran uang yang kita pakai (uang kertas) nilai intrinsiknya sebenarnya jauh lebih kecil dibanding dengan nilai nominal yang tertera. Karena biaya yang rendah untuk mencetak uang kertas ini membuat kapanpun pihak yang berwenang mampu mencetaknya jika dibutuhkan, dengan nilai nominal terserah kebijakan yang mencetak uang.
Read more

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.