jump to navigation

Pak Suroso, Nasibmu Kini… March 19, 2009

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
trackback

Masih ingat kasus pernikahan siri pengusaha Syekh Puji dengan gadis belia,  Lutfiana Ulfa?

Yah bak selebriti, kasus ini menyeruak dan membuat banyak orang tersirap dan bertanya-tanya. Kenapa ini terjadi? Kenapa gadis belia itu mau menikah dengan orang yang usianya sekitar 4 kali darinya? Kenapa orang tuanya mau memberi ijin?

Yah sejuta tanya mungkin ada di benak kita. Dan tanya itu semakin sulit dijawab ketika kasus itu berkembang menjadi kasus hukum! Sang pengusaha dijadikan tersangka karena menikahi gadis belia, sang mertua (bpk Suroso) juga menuai getahnya dengan ikut menghuni BUI,  seperti layaknya pesakitan.

Yah pak Suroso, laki-laki yang malang! Menikahkan anaknya dianggap sebagai suatu kesalahan! Suatu aib yang harus diganjar dengan hukuman.

Padahal kenapa harus diributkan? menikah adalah hak, kenapa harus dilarang? Dengan pernikahan itu adakah yang dirugikan? Kedua mempelai ikhlas menjalani, kedua keluarga juga tak keberatan! Syarat-syarat agama juga telah terpenuhi!

Apakah kita tidak menyadari apa yang bakal terjadi setelah kasus ini di ekspos begitu luas, apalagi membuat para pelaku dan pihak yang terlibat menjadi tersangka, menjadi pesakitan yang disejajarkan dengan para pelaku kejahatan lain?

Coba bayangkan:

  1. Bagaimana perasaan keluarga pak Suroso dan pak Pujiono dengan hal ini?
  2. Bagaimana pula dengan nasib Lutfiana Ulfa selanjutnya? kuatkah mentalnya ketika melihat suami dan ayahnya menjadi pesakitan dan dikurung dalam sel seperti layaknya seorang penjahat? kuatkah mentalnya seandainya pak Pujiono memutuskan menceraikan dia, dan memberi label “JANDA” diusianya yang masih 14 tahun?
  3. Bagaimana pula dengan nasib orang-orang yang sebenarnya secara hukum agama boleh menikah tetapi hukum negara melarangnya? Apakah mereka akan tetap menikah secara diam-diam? Atau  justru takut menikah karena khawatir masuk BUI dan memutuskan melanjutkan hubungan bebas tanpa pernikahan sambil menunggu tiba waktu minimal usia yang disyaratkan hukum negara?

Dan mungkin masih banyak tanya yang lain yang akan sangat sulit kita jawab….

Mungkinkah kasus ini sebagai pertanda, kita harus banyak belajar untuk mendalami perasaan orang lain? Entahlah….

Dini hari di bulan maret 2009

mylive-signature

Comments»

1. imi surya putera - March 19, 2009

Negara ini tak semestinya mencampuri ranah agama, karena memakai hukum yang bukan syariat Islam.
Tak ada yang salah dengan pernikahan Syekh Puji dan Luthfiana Ulfa kecuali orang2 yang sok moralis mengatas namakan perlindungan hak2 anak dan wanita.
Beginikah perlakuan negara terhadap rakyat yang mestinya dilindungi hak2 pribadinya. Negara telah merampas hak pak Suroso sebagai orang tua/bapak (wali nikah), dan mengebiri hak Syekh Puji dan Luthfiana untuk menentukan masa depan mereka.

Mendiang ibu saya ketika nikah dengan bapak ketika beliau berumur 12 tahun, tak ada masalah, bahkan saya dan saudara2 tak ada kelainan genetik, orang2 yang mengenal keluarga kami bilang saya dan saudara2 saya tergolong cerdas dibanding rata2.
Suruh Kak Seto dan para aktivis sejenis berburu ke pelosok2 terpencil biar mereka puas bisa memenjarakan banyak orang lagi.
Salam dari tenggara pulau kalimantan, mampir yuk di http://www.imisuryaputera.co.cc

2. terasilmu - March 20, 2009

hehehe…ya saya setuju. Ibu saya juga dulu menikah pada usia belia, sekitar umur 14 ato 15 tahun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: