jump to navigation

Penjahat pun Berhak Mendapat Cinta May 6, 2009

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
trackback

Entah kebetulan atau tidak, sewaktu kasus dugaan pembunuhan Nasrudin Zulkarnain memasuki babak baru dengan menyeret ketua KPK Antasari Azhar sebagai tersangka otak pembunuhan, saat itu saya menemukan referensi yang cukup menarik di beberapa sumber terutama kitab Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabiq.

Lalu apa hubungannya referensi ajaran islam dan kasus ketua KPK ini? Sebenarnya saya tidak mengkhususkan kepada kasus yang melibatkan Antasari Azhar ini, tetapi ke semua kasus kejahatan. Saya tertarik ketika dalam hadist nabi disebutkan,”

“Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan seorang Mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat. Dan barangsiapa memudahkan urusan seorang Mukmin, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” HR. Muslim (no. 2699), lihat Taudhiihul Ahkaam (no. 1276).

Dalam hati saya berkata, wah sungguh luar biasa agungnya islam. Islam memandang suatu kasus kejahatan (aib) jauh lebih jernih dan bijaksana. Kita dianjurkan menutupi aib seseorang.

Seandainya pada kenyataanya seseorang bersalah di mata hukum, tentu ia akan lebih nyaman jika aibnya itu tidak terekspose luas ke publik. Pelaku ini akan lebih mudah menjadi orang yang baru, yang jauh lebih baik dengan dukungan keluarga yang tetap mencintai dan masyarakat yang masih menyambutnya dengan tangan terbuka bukan cibiran.

Tetapi akan sangat berbeda jika kemudian masyarakat luas sudah terlanjur mengetahui aib ini melalui pemberitaan media. Cap negatif yang sudah teropinikan membuat rasa malu dan perasaan disudutkan di lingkungan masyarakat membuat pelaku atau tersangka semakin terpuruk dan ini akhirnya akan menyulitkannya untuk memperbaiki diri – jika memang pada kenyataannya ia bersalah.

Belum lagi jika ternyata itu hanya fitnah dan korban konspirasi tingkat tinggi yang hendak menghancurkannya karena selama ini tersangka dianggap banyak menyulitkan orang-orang yang hendak melakukan tindak penyelewengan, apa yang bakal terjadi dengannya? Atau lebih jauh lagi, yaitu keluarganya? Sanggupkah finah ini membuat mereka nyaman menjalani hidup?

Kembali ke kasus ketua KPK ini, penyelidikan polisi masih terus berlangsung. Dan meski status tersangka sudah disandang tetapi proses hukum belum selesai, dan itu artinya masih banyak kemungkinan, bisa jadi Antasari bersalah, bisa juga tidak bersalah! Jadi alangkah bijaknya jika publik menyerahkan semuanya kepada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan tugasnya dengan baik, dan tak menilai dan menyudutkan tersangka dengan tuduhan macam-macam yang mungkin bisa membawa masalah ini jauh lebih rumit. Mari kita lindungi asas praduga tak bersalah kepada tersangka dan juga melindungi keluarganya dari rasa malu akibat aib yang belum tentu benar dilakukan oleh Antasari Azhar.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Qur’an Surat Al-Hujurat : 12]

NB : Dalam islam cinta berhak dimiliki oleh siapapun, orang baik atau pun orang yang sudah melakukan penyelewengan. Karena semua manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Yang terbaik adalah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Dalam islam, boleh saja mengekspose luas tindak kejahatan dengan syarat-syarat tertentu:

  1. Jika banyak kebaikan yang akan ditimbulkannya, misalkan untuk pelajaran bagi masyarakat seperti cerita-cerita tentang kejahatan Abu Jahal, Fir’aun, dll dalam al qur’an.
  2. Jika memang pelaku tidak pernah jera melakukan tindakan kejahatan itu, tentu untuk melindungi masyarakat agar tidak terkena imbas dari kejahatan para pelaku ini di kemudian hari.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: