jump to navigation

Kenangan di Pulau Seribu, Batam; Menyisakan Trauma yang Indah! May 23, 2009

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
trackback

P9020483Orang tua dulu sering berujar, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung!”. Pepatah yang membuat saya selalu ingin mengetahui lebih dalam tentang suatu daerah yang saya singgahi. Sama halnya dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, diberikan kesempatan tinggal di Batam tentu tak akan saya sia-siakan begitu saja. Kaki ini tidak nyaman rasanya kalau hanya berdiam diri tanpa menikmati semua yang ada di kota pulau ini. Tidak ada salahnya bukan menikmati keindahan ciptaan Tuhan?

Perjalanan ke pulau Puteri akhir pekan lalu membuka ingatan lama saya tentang salah satu pulau perawan yang sempat saya kunjungi beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih baru beberapa bulan menetap di Batam. Banyak orang menyebutnya pulau Seribu.

Entah kenapa dinamakan pulau Seribu. Yang jelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan pulau Seribu yang ada di wilayah Jakarta. Nama ini juga mungkin gambaran yang paling mudah karena keberadaan pulau ini di antara banyak pulau kecil yang mengelilinginya.

Waktu itu kebetulan ada acara berlibur bersama teman-teman sekantor. Dan untungnya semua akomodasi ditanggung kantor. Rombongan kami berjumlah sekitar tiga puluh orang. Berangkat dari base camp (kantor kami di daerah Tanjung Uncang), pagi hari sekitar jam sepuluh kami berangkat menggunakan mini bus sewaan kantor menuju pelabuhan Punggur, Batam.

Sepanjang perjalanan kami sangat menikmati suasana yang terjadi. Ada kebersamaan tercipta meski kami tidak berlatar belakang yang sama. Ada Jawa dengan kehalusannya, ada Batak dengan ketegasannya, ada pulau Sunda dengan keceriaannya. Semua menjadi satu dalam kebersamaan yang mampu menghilangkan sekat-sekat yang ada.

Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan, kami sampai di pelabuhan Punggur Batam. Tadinya saya kira, perjalanan akan dilanjutkan dengan menggunakan kapal laut atau setidaknya kapal Ferry. Ternyata tidak! Perjalanan menuju lokasi dilanjutkan dengan perahu nelayan tradisional. Mereka menyebutnya pompong. Dan yang lebih mengejutkan, meskipun menggunakan motor, perahu ini tidak cukup besar, sehingga untuk menampung kami diperlukan sekitar empat pompong.

Hati saya berdebar kencang. Maklum meski saya sebelumnya pernah merasakan berada di atas perahu pompong, namun dengan ukuran dan kondisi yang jauh lebih kokoh dari ini. Apalagi saya tidak pandai berenang.

Setelah perjalanan beberapa lama, akhirnya sampailah kita di sebuah pulau kecil. Tetapi saya agak merasa aneh karena pulau yang saya datangi ini berpenghuni hanya satu rumah saja. Saya juga agak bingung, kenapa kita berkunjung ke tempat seperti ini. Mana pantai dengan pasir putihnya, yang orang bilang indah dan masih relatif perawan? Tetapi pertanyaan itu saya kunci rapat-rapat di pikiran saya. Karena saya yakin, kami tidak mungkin salah tujuan berlibur!

Dan ternyata benar adanya. Rumah yang kami kunjungi itu adalah memang rumah satu-satunya yang ada di pulau itu. Rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu. Di samping rumah ada tempat yang sengaja dibuat untuk orang bersantai, cocok untuk menikmati sore sambil memancing. Jarak beberapa meter dari rumah, ada jaring cukup lebar dipasang, yang kata sang nelayan difungsikan untuk menjerat ikan yang kebetulan lewat di atasnya. Untuk penerangan, di siang hari keluarga nelayan ini hanya memanfaatkan sinar matahari. Sedangkan untuk malam hari, mereka menggunakan mesin diesel berukuran kecil sebagai tenaga untuk menyalakan lampu.

IMG_6071

Rasa penasaran tentang tempat ini membuat saya melupakan rasa capai setelah perjalanan bus dan perahu pompong. Saya dan beberapa rekan berjalan masuk ke tengah pulau, yang arahnya menjauh dari rumah panggung sederhana itu. Dan ternyata, semua pertanyaan yang tadi menghuni benak saya terjawab sudah. Setelah berjalan melewati tengah pulau, kami mendapati pantai yang benar-benar indah, bersih, dan berpasir putih cokelat. Yang lebih unik, jarak beberapa meter dari bibir pantai yang nota bene berair asin, ada sumber mata air tawar.

Berjemur

Di pantai pulau Seribu, kami mengabadikan semuanya. Tidak hanya dalam ingatan tetapi juga dalam jepretan kamera foto. Setelah sore menjelang, kami kembali ke rumah panggung nelayan sederhana itu. Rumah kayu dengan dua kamar, satu ruang tamu, teras, dan dapur seakan menjadi saksi kebersamaan kami. Menikmati malam sambil makan-makan ikan bakar, ditemani redupnya cahaya lampu tenaga diesel, membuat kami sulit melupakan momen-momen itu.

IMG_6061

Malam berlalu tidak terasa, udara segar laut di pagi hari membangunkan tidur kami. Meski tentu ada juga yang masih asyik dengan mimpinya. Duduk di tepi laut sambil menghadap kearah gugusan pulau-pulau kecil di arah depan sungguh pengalaman yang sangat berharga. Dalam benak saya timbul lagi pertanyaan, kira-kira kegiatan apa lagi yang akan saya lakukan untuk mengisi beberapa jam sebelum kepulangan….

Entah kebetulan atau tidak, beberapa orang rekan mengajak saya ke tempat pelelangan ikan. Kami bermaksud membeli ikan untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Bersama dengan beberapa orang teman, kami diantar pemilik rumah mengunjungi tempat pelelangan ikan. Dengan perahu pompong yang sama kami berangkat. Wah ternyata perjalanan kali ini jauh lebih ngeri kami rasakan karena posisi kami yang berlawanan dengan arah angin sehingga membuat perahu kami beberapa kali terayun-ayun cukup keras. Takut dan keinginan cepat sampai di tujuan, itulah yang terpikirkan oleh saya saat itu.

Setelah beberapa lama, sampailah kami ke tempat pelelangan ikan. Di situ kami bisa memilih ikan-ikan segar yang baru dibawa nelayan sebagai hasil tangkapan ikan malam tadi. Setelah beberapa lama memilih ikan dan akhirnya memutuskan membeli beberapa kilogram, kami melanjutkan perjalanan kembali ke rumah sang pemilik perahu. Dalam hati ingin rasanya tidak menggunakan perahu ini lagi, atau jika mungkin ada jalan darat yang bisa ditempuh. Tetapi semua itu kan hanya angan, yang ada dihadapan kami hanya perahu pompong kecil yang siap mengantar kami dan membuat kami berdebar-debar sepanjang perjalanan.

P9020476

Setelah sampai kembali di rumah kayu itu, dan menikmati pemandangan laut menjelang siang, kami memutuskan pulang. Dengan perahu pompong yang sama, kami diantar ke pelabuhan Punggur. Karena kapasitas perahu yang kecil, kami harus mengantri untuk bisa kembali pulang. Saat itulah kembali saya merasakan situasi yang mendebarkan. Gunjangan jauh lebih keras dibanding dengan perjalanan berangkat dan menuju tempat pelelangan ikan. Mungkin karena saat itu banyak kapal ferry berlalu-lalang yang membuat ombak menjadi terasa jauh lebih besar. Bahkan air laut beberapa kali masuk ke dalam perahu kami. Untungnya kami bisa tiba dengan selamat di pelabuhan Punggur.

Pengalaman di atas laut yang luar biasa. Pengalaman yang sampai sekarang membuat saya selalu mengenang perjalanan itu. Perjalanan indah yang sekaligus memberikan efek jera bagi saya. dan jika ditawarkan sekali lagi ke sana, saya memilih berkata, “ada pilihan tempat lain?” Bukan karena tempatnya yang tidak indah, tetapi lebih karena perjalanan yang cukup mendebarkan.

Advertisements

Comments»

1. fajar - December 8, 2009

ada rencana mau maen kepulau lg ngk

snhadi - December 8, 2009

Hehehe…saya sudah di tanah jawa sekarang 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: