jump to navigation

Menjadi Kaya atau Miskin Adalah Sebuah Pilihan June 23, 2009

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags: ,
trackback

Mengais AirBenarkah menjadi miskin adalah sebuah takdir? Bahkan ada yang mengatakan, kalau memang garis tangan seseorang sudah miskin sampai kapan pun akan tetap miskin, seberapa gigih apapun orang terus bekerja keras untuk melepasnya.

Kita bisa melihat banyak fakta di lapangan, tentang kondisi ini, yang bisa dijadikan pembenar bagi sebagian orang bahwa kemiskinan adalah sebuah takdir. Kita tidak perlu melihat kondisi seseorang miskin karena kemalasannya. Dan bagi saya keadaan miskin karena faktor kemalasan prosentasenya tidak signifikan di negeri ini. Saya lebih ingin melihat kondisi miskin yang dialami seseorang, meskipun kerja keras telah dilakukan orang tersebut dalam menjalani hidupnya. Suka bekerja keras tetapi tetap miskin, itu yang menjadi poin utamanya.

Kita bersyukur, akhir-akhir ini banyak stasiun televisi yang mau mengangkat berita tentang kehidupan saudara-saudara kita yang tergolong berada di bawah garis kemiskinan ini, meski sisi komersialitasnya tetap menjadi poin utama. Kita bisa menyaksikan banyak program televisi yang memotret sisi kehidupan mereka, misalnya Andai Aku Menjadi, Tukar Nasib, Tangan Di Atas,  dan sederet program menyentuh lainnya. Entah seratus persen benar atau tidak, atau mungkin sedikit banyak telah dibumbui agar terlihat lebih menarik, program-program televisi ini bisa kita jadikan sedikit acuan untuk melihat bahwa kerja keras telah menjadi budaya rakyat kita, meski kemiskinan tetap mendera mereka.

Di satu sisi banyak saudara kita yang tetap miskin meskipun kerja keras sudah mereka lakukan, di sini lain tak sedikit saudara kita yang dengan kerja kerasnya mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Atau dengan kata lain, kerja keras mengantarnya kepada kesuksesan.

Banyak pengalaman hidup telah terekam dengan baik, di mana kerja keras tanpa kenal lelah pada akhirnya membuahkan hasil yang manis. Tak sedikit cerita kesuksesan diawali dengan upaya gigih dari para pelakunya meskipun keterbatasan menjadi bumbu hidup di sana-sini. Saya teringat pengalaman pribadi seseorang yang bagi saya layak dijadikan sumber motivasi kita dalam menjalani hidup. Saya beruntung orang tersebut pernah berbagi cerita kepada saya secara langsung. Dulu orang tersebut adalah atasan saya saat masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Beliau sekarang adalah seorang direktur utama dan sekaligus pemilik perusahaan swasta nasional skala menengah atas. Padahal beberapa puluh tahun yang lalu beliau adalah orang biasa yang untuk menetap tinggal bersama isterinya saja harus menumpang di rumah sahabat dekatnya.

Dua potret kehidupan yang saling bertolak belakang ini sering menimbulkan pertanyaan di benak saya. Kenapa di satu sisi ada orang yang sudah bekerja keras tetapi tetap miskin, dan di sisi lain ada orang yang dengan kerja kerasnya mampu mengantarkannya menuju kesuksesan? Apa yang menjadi perbedaan di antara mereka? Apakah ini layak menjadi pembenar bahwa miskin memang sebuah takdir?

Dari kaca mata awam, saya menangkap ada perbedaan yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Ketika kerja keras sama-sama sudah menjadi budaya di antara dua sisi ini, ada faktor yang lain yang bagi saya sering luput dari pantauan. Yah bagi saya faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menjalani hidup adalah perencanaan masa depan. Banyak dari kita yang memiliki pemikiran hidup untuk hari ini, besok biarlah besok. Rejeki yang tuhan kasih hari ini yah dinikmati hari ini, urusan besok mau makan apa biarlah besok saja dipikirkan. Bagi saya ini adalah penerjemahan yang kurang tepat dari keharusan bersyukur dan menerima apa adanya semua rejeki yang tuhan kasih kepada kita.

Dari perbedaan ini, saya kemudian menjadi pihak yang menentang dengan keras bahwa miskin adalah takdir yang tidak bisa diubah. Sebagai seorang muslim saya selalu teringat ayat tuhan di dalam alquran yang menyatakan bahwa allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasibnya sendiri. Di sini jelas tuhan mengingatkan kepada kita, kaya atau miskin adalah pilihan!

Dari pengalaman menjalani hidup mantan atasan saya sehingga menjadi orang yang cukup sukses seperti saat ini, setidaknya saya belajar banyak hal. Menjalani hidup dengan sederhana dan fungsional itu poin utamanya Dengan kita hidup sederhana dan fungsional, banyak keuntungan yang bisa kita peroleh. Kita bisa menyisihkan sebagian penghasilan kita untuk rencana masa depan, misalnya menambung atau mengikuti program asuransi, entah kesehatan dan kematian, atau yang lainnya. Bahkan di mata saya, mantan bos saya ini adalah orang yang sangat keras kepada dirinya sendiri terutama terhadap budaya menabung dan asuransi. Bagi beliau, apapun bisa terjadi di dunia ini. Mungkin saat ini kita sehat dan segar bugar, bisa jadi esok hari kita terbaring lemah tanpa daya di rumah sakit. Bisa jadi hari ini kita masih menghirup udara segar kehidupan, tetapi siapa tahu esok hari tuhan sudah memanggil kita.

Saya bersyukur saat ini telah banyak program asuransi yang bisa kita pilih untuk merencanakan masa depan, entah itu asuransi asli Indonesia seperti Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera yang berdiri sejak 1912 atau asuransi-asuransi lain yang dikeluarkan perusahaan swasta. Semuanya bisa kita jadikan sarana untuk menggapai mimpi dan cita di masa depan. Mudah-mudahan dengan demikian mulai saat ini kita bisa mengatakan dengan mantap, untuk hari esok saya dengan sepenuh hati memilih untuk menjadi orang sukses agar bisa menjadi motivasi bagi kesuksesan orang lain di masa yang akan datang! Dengan demikian belenggu kemiskinan setahap demi setahap akan sirna dari negeri kita tercinta ini.

Comments»

1. haitsam shiddiq - July 6, 2009

memang mas… kaya dan miskin tuh, sebenarnya tergantung manusianya sendiri. bagaimana cara ia berpikir kritis, cepat tanggap, dan berani ambil resiko merupakan sebagian cara yg mungkin dapat menguburkan kemiskinan manusia sejauh mungkin…

2. ArRIJAL & Partner'S - November 9, 2010

fa-idzaa massal-insaana dhurrun da’aanaa tsumma idzaa khawwalnaahu ni’matan minnaa qaala innamaa uutiituhu ‘alaa ‘ilmin bal hiya fitnah walaakinna aktsarahum laa ya’lamuuna
[39:49] Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

qaala innamaa uutiituhu ‘alaa ‘ilmin ‘indii awa lam ya’lam annallaaha qad ahlaka min qablihi minalquruuni man huwa asyaddu minhu quwwatan wa-aktsaru jam’an walaa yus-alu ‘an dzunuubihimu almujrimuuna
[28:78] Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Dalam Al Qur’an ayat dengan nada “yabsuthu alrrizqa limayyasyaau wayaqdir” (Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya) ada 9 ayat. Menyempitkan dan melapangkan bukan berarti Kaya dan Miskin, namun juga Kaya dan Miskin bisa lapang dan sempit.

lahu maqaaliidussamaawaati waal-ardh yabsuthu alrrizqa limayyasyaau wayaqdir innahu bikulli syay-in ‘aliim
[42:12] Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

walaw basathallaahurrizqa li’ibaadihi labaghaw fiil-ardh walaakin yunazzilu biqadarin maa yasyaa innahu bi’ibaadihi khabiirun bashiir
[42:27] Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: