jump to navigation

Membumikan Asuransi; Sebuah Harapan Untuk Masa Depan June 25, 2009

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags:
trackback

BumiKita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, bahkan apa yang akan terjadi satu detik kemudian. Semua kejadian bisa saja terjadi tanpa kita duga, entah itu baik atau buruk. Kita juga tak akan mampu untuk mencegahnya. Yang bisa kita lakukan adalah hanya mengantisipasinya, sehingga ketika kejadian itu datang kita telah benar-benar siap menerimanya.

Merujuk kepada data yang dimiliki PT Jamsostek, pada tahun 2008 setiap hari, delapan orang tenaga kerja meninggal karena kecelakaan kerja dan 36 orang cacat karena alasan yang sama dan pada periode yang sama pula. Belum lagi kematian akibat kecelakaan lalu lintas, yang menurut WHO (World Health Organization), 90% dari 1,27 juta orang yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya berada di negara dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah, termasuk Indonesia. Apalagi jika kita kalkulasikan dengan kematian akibat penyakit, melahirkan, dan sebagainya, maka peluang kematian tersebut akan jauh lebih besar lagi.
Dari data di atas, taruhlah yang meninggal itu adalah seorang kepala rumah tangga yang menjadi tulang punggung kehidupan rumah tangga, bagaimana nasib keluarganya pasca kematiannya? Apalagi jika keluarga tersebut memiliki banyak anak atau tanggungan, siapa yang akan bertanggung jawab untuk masa depan mereka? Siapa yang bisa memastikan kondisi mereka baik-baik saja pasca meninggalnya orang yang menjadi sumber pencari nafkah? Dan mungkin segudang pertanyaan masih akan menggelanyut di pikiran kita.

Bagi saya tingginya data kematian dari tahun ke tahun yang ada seharusnya bisa dijadikan momentum kita berbenah diri. Terlepas dari upaya apa yang akan dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk meminimalisir terjadinya kematian karena faktor kecelakaan kerja, kesehatan, lalu lintas, atau yang lainnya, sebagai masyarakat, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak pasca tragedi kematian atau kecelakaan sehingga tidak akan memberatkan keluarga yang ditinggalkannya. Salah satunya adalah dengan mengikuti program asuransi.

Kita bersyukur, perusahaan asuransi di negeri ini semakin berkembang pesat. Dari perusahaan asuransi yang sudah lama berdiri seperti Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, maupun asuransi lain yang relatif masih baru di negeri ini. Meskipun kita bisa saja mengklaim bahwa pertumbuhan asuransi yang semakin pesat di negeri ini berarti bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya asuransi semakin besar, tetapi bagi saya itu belum cukup dijadikan landasan yang tepat.

Bagi saya, masih banyak masyarakat kita yang belum terjangkau asuransi, entah karena alasan geografis atau alasan ekonomi. Belum lagi jika ditambah dengan masih ada masyarakat yang alergi dengan asuransi. Semua ini menjadi tantangan yang harus dihadapi terutama bagi perusahaan asuransi atau pemerintah untuk bisa membumikan asuransi di negeri ini.

Bagi saya, sosialisasi saja belumlah cukup untuk lebih membudayakan asuransi. Sosialisasi tentang pentingnya asuransi mungkin akan efektif untuk masyarakat kalangan tertentu. Bagi kalangan masyarakat miskin, sebesar apapun upaya sosialisasi yang dilakukan, tidak akan berdampak signifikan terhadap keikut-sertaan mereka terhadap program asuransi. Bagi mereka program asuransi akan menjadi beban tersendiri, kecuali jika memang diberikan secara cuma-cuma.

Saya cukup senang dan berterima kasih terhadap pemerintah yang telah menelurkan program asuransi bagi keluarga miskin. Upaya seperti ini sangat baik untuk bisa membumikan asuransi terutama di kalangan keluarga tidak mampu. Apalagi jika ditambah pengawasan yang baik sehingga program asuransi ini tidak sampai salah sasaran atau terjadinya kebocoran dana akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kemudahan dalam akses mendapatkan program ini yang didukung dengan birokrasi yang tidak berbelit-belit tentu juga menjadi faktor lain yang tidak kalah pentingnya bagi keberhasilan program ini.

Selain mengandalkan dana dari APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) yang tentu cukup terbatas jumlahnya untuk dapat meng-cover seluruh masyarakat miskin di negeri ini, pemerintah bisa saja bekerja sama dengan badan-badan sosial atau pun badan-badan pengumpul zakat dan sedekah sebagai alternatif sumber dana. Apalagi jika ditambah kerjasama yang erat dengan perusahaan asuransi untuk menelurkan program asuransi yang murah meriah yang kira-kira bisa dijangkau semua lapisan masyarakat.

Dengan kerjasama yang erat dari berbagai pihak, bukanlah hal yang tidak mungkin suatu saat semua penduduk Indonesia telah bisa merasakan manfaat asuransi, yang selanjutnya menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari individu di negeri ini atau dengan kata lain, asuransi telah menjadi budaya masyarakat kita.

Comments»

1. manfaat asuransi jiwa prudential - May 13, 2014

manfaat asuransi jiwa prudential

Membumikan Asuransi; Sebuah Harapan Untuk Masa Depan | Sapto Nugroho Hadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: