jump to navigation

Tak Berani Ambil Resiko! July 11, 2009

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags:
trackback

ZODIAK_LIBRA1 Malam ini tiba-tiba ingatan saya menerawang ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2001. Saat itu saya mendengar keluh kesah kakak saya yang ingin memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar (SD) negeri. Katanya susah masuk SD negeri sekarang, beberapa sekolah menolak hanya karena keponakan saya tidak TK. Sekolah-sekolah itu hanya mau menerima anak yang sudah bisa baca tulis sebelumnya, yang memang jadi pelajaran pokok bagi anak-anak TK sekarang (padahal TK kan idealnya hanya main-main, ga dibebani dengan pelajaran baca-tulis yang macem-macem!).

Melihat ini saya jadi membandingkan dengan sekolah jaman saya SD dulu, sekitar 21 tahunan lalu. Bahkan yang saya inget, satu kelas tidak  ada yang pernah TK, tapi gurunya tetap senang dan sabar mengajar kami mengenal huruf dan menulis. Gurunya masih mau repot!

Kasus yang mirip dialami teman saya baru-baru ini, Dia merasa kesulitan memasukkan adiknya yang ingin nyambung sekolah ke kelas 6 SD. Maklum tempat kerja buat dia harus mengajak ikut serta adik dan orang tuanya pindah ke daerah lain. Alasannya pihak sekolah tak mau ambil resiko memasukkan anak tersebut ke sekolah mereka. Apalagi jika harus masuk ke kelas 6 yang setahun lagi harus melaksanakan ujian nasional.

Menurut saya, seharusnya ini menjadi tantangan sendiri bagi sekolah dan guru. Bagaimana bisa dalam waktu setahun mampu buat anak ini bisa lulus dengan baik dari sekolahnya. Justru ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi nama baik sekolah dan membuktikan bahwa sistem belajar mengajar di sekolah tersebut sangat baik. Dan yang terpenting harusnya mereka mendukung upaya pemerintah mewujudkan “WAJIB BELAJAR 9 TAHUN”.

Terlepas dari itu semua, tentu kita tidak bisa memaksa sekolah melakukan apa yang kita mau. Sekolah punya sistem pengelolaannya sendiri yang mungkin memiliki seabrek peraturan yang wajib diikuti calon siswanya. Mungkin juga sekolah ini masih menganut sistem, “Kalau mau memiliki lulusan yang baik, cari bakal murid yang berkualitas”. Dengan calon murid yang berkualitas, mereka tidak akan banyak direpotkan dalam mendidik, sehingga tanpa perlu banyak polesan, diharapkan nanti anak muridnya bisa lulus dengan nilai terbaik dan mengharumkan nama sekolah. Masa bodo dengan calon murid yang punya kualitas “standard atau di bawah normal”. Biar mereka pilih sekolah yang lain.

Tetapi yah mudah-mudahan sekolah yang menerapkan kebijakan begini hanya sedikit. Mudah-mudahan masih ada sekolah yang adil, sehingga masih ada harapan bagi mereka yang kurang beruntung baik dari segi ekonomi maupun segi kualitas kecerdasannya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: