jump to navigation

Saat Kesederhanaan Menghilang di Bulan Suci August 4, 2009

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags:
trackback

47438_1024_768 Sebentar lagi umat muslim di Indonesia dan di belahan bumi lain, Insya Allah akan kembali  menjumpai bulan suci Ramadhan. Bulan yang kehadirannya selalu dinanti. Bulan yang dianggap sebagai kawah candra dimukanya penggodokan spiritual manusia.

Bulan Ramadhan selain mampu mengubah perilaku spiritual kita – meski kadang hanya sementara – juga mampu mengubah perilaku sosial kita. Kita menjadi lebih peduli kepada orang lain. Kita menjadi bisa ikut merasakan nasib kaum miskin yang hidup apa adanya dan serba kekurangan.

Tetapi sayangnya, seringkali hakikat tujuan puasa untuk membuat kita bisa lebih ikut merasakan nasib kaum dhuafa justru menjadi hilang. Coba kita jawab secara jujur, adakah perbedaan gaya hidup kita di saat bulan puasa dengan bulan lain? Saya yakin sebagian dari kita akan menjawab iya.

Di bulan lain mungkin kita merasa sudah cukup, saat kita mau makan di meja makan tersaji tempe goreng, ikan asin, sambal, dan sayur asam, tetapi ketika kita puasa, tak cukup rasanya lauk-pauk tersebut menjadi sumber energi bagi kita menjalani hari. Jadilah kemudian di meja makan kita juga tersedia ayam goreng, buah, manisan, es buah, dan sebagainya.

Selain budaya makan yang semakin konsumtif, budaya belanja untuk kebutuhan penampilan kita juga ikut berubah. Di bulan lain, mungkin dalam sebulan belum tentu kita menganggarkan dana untuk membeli pakaian baru. Tetapi saat mendekati Idul Fitri, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membeli pakaian baru. Bulan Ramadhan seakan membuat kita hidup lebih konsumtif.

Bahkan kalau mau jujur, hampir di setiap keluarga di negeri ini, pasti pengeluaran bulanan di saat ramadhan akan jauh lebih besar dibandingkan bulan-bulan yang lain. Bahkan mungkin ada keluarga yang sampai rela harus besar pasak daripada tiang untuk membuat ramadhan menjadi lebih berkesan.

Jadi sangatlah wajar ketika saat bulan suci dan menjelang hari raya, harga-harga kebutuhan pokok melonjak drastis. Dan apa dampaknya? Bagi kita yang uang tidak menjadi permasalahan, mungkin hal ini tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi kaum miskin yang dengan harga kebutuhan pokok seperti biasa saja sudah mengalami kesulitan, naiknya harga membuat hidup mereka lebih menderita. Mereka yang seharusnya dengan kehadiran bulan suci ini ikut bergembira, justru malah semakin dibuat sengsara oleh perilaku konsumtif kita yang semakin menjadi-jadi. Kesederhanaan kita yang seakan lenyap di bulan suci baik langsung atau pun tidak, ikut melenyapkan kegembiraan orang-orang miskin di sekitar kita.

Saya berharap, di bulan suci tahun ini, semua bisa jauh lebih baik dibanding tahun-tahun yang lalu. Meski mungkin pengeluaran kebutuhan hidup kita tetap bertambah, tetapi tidak sampai berlebih-lebihan yang dampak negatifnya justru dirasakan oleh orang lain yang seharusnya kita bantu.

Akhirnya, selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan! Semoga Ramadhan membuat hidup kita menjadi lebih hidup.

Comments»

1. heri - August 8, 2009

pertamax

2. Iklan Gratis - September 1, 2009

memang konsumtif seolah sudah menjadi bagian dari kaum muslimin saat ini. suatu hal yang sangat ironis dengan fungsi dari Ramadhan itu sendiri. hikmah supaya dapat berempati dengan yang hidup berkekurangan menjadi amat mahal ditemui, terkalahkan oleh nafsu syahwat yang hanya mengingunkan kepuasan diri.
Iklan Gratis


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: