jump to navigation

Selalu Ada Damai di Jogja August 18, 2009

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
trackback

IMG00282 Sebenarnya kemarin agak menyesal gak bawa laptop pas ada waktu berkunjung ke Jogja. Padahal cukup banyak hal yang mau dibagi lewat blog kesayangan ini. Tapi untungnya ada hape jadi bisa foto-foto, lumayan buat bahan menulis, supaya tidak sampai terlewatkan.

Tanggal 13 –15 Agustus kemarin saya pergi ke Jogja. Dengan bekal ingatan 12 tahun lalu, saya menjelajahi beberapa wilayah Jogja, terutama UGM dan sekitarnya, juga Malioboro (Jalan A. Yani) – Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya bisa mengunjungi tempat yang lainnya juga, seperti keraton, candi, dsb.

Berbekal pula dengan adanya informasi bahwa beberapa teman masih tinggal di kota pendidikan ini, saya semakin PD melakukan perjalanan ke sana. Mudah-mudahan mereka ada waktu bertemu saya, lumayan buat mengisi waktu luang di Jogja.

IMG00268

Sayangnya karena tempat tinggal teman-teman Jogja saya cukup jauh dari UGM, jadinya saya terpaksa mencari penginapan. Namanya sih HOTEL HARUM, tetapi saya lebih senang menyebutnya losmen Harum. Letaknya di Jalan SOSROWIJAYAN, seberangnya Masjid DPRD Yogyakarta, di dekat jalan Malioboro.

Malioboro 12 tahun lalu dengan sekarang ternyata nggak jauh berbeda. Saat malam di sepanjang jalan penuh dengan para penjual souvenir dan juga penjaja makanan yang bisa dinikmati secara lesehan. Tidak hanya orang asli Jogja yang tumpah ruah di sana, orang dari daerah lain juga terlihat cukup banyak berlalu lalang (bisa dikenali dari bahasa yang mereka pakai dalam berinteraksi dengan teman-temannya). Belum lagi wisatawan asing, jumlahnya juga cukup sulit dihitung bahkan pakai 10 jari sekalipun🙂 (mungkin memang saat ini waktu yang tepat bagi mereka untuk berlibur).

Bicara tentang turis, saya cukup heran saat mereka dengan nikmatnya bisa menyeruput minuman hangat sekoteng, mencicipi nasi kucing Jogja untuk sarapan, atau menikmati nasi goreng dan bakso pinggir jalan. Apa mereka memang benar-benar suka atau memang cuma coba-coba, sulit menduganya. Yang jelas terlihat sekali mereka sangat menikmati suasana Jogja.

Tidak hanya tamu yang terlihat sangat menikmati suasana kota keraton ini, para penjual jasa pun kelihatannya cukup menikmati pekerjaan mereka. Dari mulai pedagang souvenir, penyedia travel sampai mas-mas penarik becak pun terlihat tanpa beban (meski dalamnya hati siapa tahu). Saya pernah mengabadikan kehidupan para tukang becak di Malioboro. Becak bagi mereka seakan rumah kedua. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menjadikan becaknya menjadi rumah bagi mereka bermalam, setelah lelah seharian mencari nafkah. Akhirnya, jika siang dan malam hari kita melihat Malioboro penuh sesak dengan orang yang berjalan hilir mudik, saat dini hari sampai matahari mulai terbit, Malioboro berubah menjadi wilayah yang lengang, tinggal aktifitas para pembersih sampah saja yang terlihat berlangsung, di temani dengan belasan becak yang parkir di sepanjang jalan dengan manusia-manusia berselimut di dalamnya.

IMG00281

IMG00277

Pokoknya wajar jika kita bisa larut dalam suasana Jogja, karena kota ini akan selalu menyambut dengan senyum tulusnya kepada kita yang hendak mengenalnya lebih jauh.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: