jump to navigation

Jogja Yang Tak Lagi Istimewa? October 2, 2009

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
trackback

Dulu, sebelas tahun yang lalu, saat mengikuti study tour ke Yogjakarta dan sekitarnya, tak pernah saya bayangkan ada kota yang seramah Jogja. Kehidupan tampak tenang meski pusat-pusat keramaian sibuk menyambut para tamu yang datang. Masih tampak orang-orang beraktifitas dengan sepeda ontel tua yang khas menyusuri jalan-jalan Jogja. Tak lupa di sudut-sudut jalan angkringan dengan nasi kucingnya siap menyambut bagi pengunjung yang sudah tidak kuat merasa lapar, dan harganya pun sangat bersahabat.

Malioboro di Kala Malam

Beberapa bulan yang lalu bayangan saya tentang Jogja juga masih sama seperti bayangan saat saya SMA dulu. Kalau dirangkum dalam tiga suku kata maka dengan senang saya menjawab, Jogja menurut bayangan saya adalah kota yang RAMAH, NYAMAN, MURAH!

Ini juga yang menjadi pertimbangan saya untuk merasakan kembali kehidupan Jogja. Namun saya cukup terheran-heran dengan kondisi Jogja saat ini. Sudah jauh berbeda dengan kondisi saat saya kunjungi sebelas tahun yang lalu. Kemudian saya bertanya dalam hati, kemanakah Jogja yang dulu teringat lekat dalam memori saya?

Keramaian Malioboro

Jogja saat ini bagi saya tak lebih dari sebuah kota yang seakan mulai kehilangan jati diri. Tak banyak lagi orang terlihat menaiki sepeda ontel menyusuri jalan-jalan kota. Mungkin juga sekarang jamannya sepeda motor yang menguasai jalanan Yogyakarta, tidak lagi masanya sepeda ontel beraksi. Kendaraan bermesin seakan berlomba saling menguasai jalanan, membuat tampak semrawut dan seringkali menimbulkan kemacetan, plus polusi yang ditimbulkannya.

Belum lagi hiasan hidup berupa pengemis-pengemis jalanan yang tak sedikit dapat kita jumpai di pinggir jalan-jalan kota. Bahkan di kompleks gedung DPRD sekalipun mereka berani menengadahkan tangan mengharap belas kasihan dari para pengunjung kota. Ini yang membuat saya kadang berpikir, kemanakah wakil rakyat kita? Sibuk belanja di Malioboro atau asyik menaiki puncak Borobudurkah mereka, sehingga pengemis lusuh di sekitar kantornya pun luput dari pantauan?

Didukung dengan budaya komersial yang semakin tampak di kehidupan warganya, keramahan masyarakat yang semakin memudar seiring dengan semakin banyaknya budaya luar Jogja yang ikut mempengaruhi, kebudayaan daerah asli Jogja yang mungkin hanya dapat ditemui di waktu-waktu dan di tempat-tempat tertentu saja, membuat bayangan Jogja masa lalu kembali saya rindukan.

Sebagai warga pendatang, saya hanya berharap akan ada perbaikan untuk kota ini di masa depan. Sehingga akan membuat pendatang terus merasa nyaman berada di kota ini.

Comments»

1. romailprincipe - October 2, 2009

Jogja dulu itu mas, ketika generasi 2002 ke atas masuk, perekonomian rata-rata (sekali lagi rata-rata), naik, untuk mahasiswa UGM saja, rata-rata angkatan 2002 berada pada golongan menengah, tidak lagi wong cilik,..wong cilik tiap angkatan hanya sekitar 10% saja.
lihat saja cafe dan klub malam yang bermunculan…

jadi ini efek kapitalisasi?

snhadi - October 2, 2009

Ya mungkin ini adalah efek kapitalisasi…yg bisa mengarah ke semua aspek tdk hanya ekonomi tetapi sosial, budaya, bahkan keilmuan…

2. murni - October 3, 2009

yang buat jogja istimewa ada disini mz…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: