jump to navigation

Tua-tua Keladi; Oleh-oleh dari Kota Pemalang October 7, 2009

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags: ,
trackback

Akhir minggu lalu saya sempat berkunjung ke Pemalang, sebuah kota kecil di jalur Pantai Utara Jawa Tengah. Saya senang memiliki kesempatan mengunjungi kota ini meski hanya sebentar. Minimal di kota ini saya sempat mampir ke alun-alun kota dan masjid agung.

Bicara tentang Masjid Agung Pemalang, mengingatkan saya akan satu pelajaran yang cukup berharga. Masjid Agung Pemalang tergolong masjid yang cukup besar dengan arsitektur yang cukup menarik (seperti masjid-masjid agung pada umumnya). Namun ketika saya sempat singgah untuk sholat shubuh, saya agak terheran-heran, masjidnya sebesar ini tetapi yang sholatnya bisa dihitung dengan jari. Ke masjid manakah penduduk kota Pemalang menunaikan kewajiban sholat shubuhnya? Yah mungkin di masjid-masjid lain selain masjid agung, pikir hati positif saya.

Sholat Shubuh Di Masjid Agung Pemalang

Dari peristiwa ini saya merasa bersyukur, saat ini saya berada di Yogyakarta, meski mungkin kondisi kota tak senyaman dulu, tetapi nuansa religi tetap cukup kental terasa, terutama di kawasan yang banyak dihuni mahasiswa. Masjid-masjid yang ada mungkin tidak sebagus masjid Agung Pemalang, namun tak pernah sepi dari sholat berjamaah, meski sholat shubuh sekalipun, yang kata orang memang sangat cocok untuk kembali melanjutkan mimpi.  Jamaah baik yang muda atau sudah berumur tetap antusias datang mendekati Tuhannya.

Kembali ke Pemalang di waktu shubuh. Meski jumlah jamaah relatif sedikit namun semangat mereka untuk menghadap Tuhannya terlihat tak tergoyahkan. Bahkan di samping saya, ada seorang tua, dengan kondisi tubuh yang renta dan sakit (bahkan untuk ke masjid saja harus dituntun), sanggup menjalani sholat berjamaah shubuh meski harus sesekali tertinggal dari kami (jamaah yang lain) karena keterbatasan gerak tubuhnya. Mungkin ini yang dinamakan tua-tua keladi, makin tua makin menjadi (maksudnya semakin banyak kebaikannya).

Sungguh semangat yang luar biasa dari kakek yang satu ini. Sebagai anak muda, malu rasanya saya dibuat bapak ini. Dengan penuh keterbatasan, beliau masih sangat bersemangat “menyapa” Tuhannya, sedangkan saya dengan kesempurnaan tubuh yang masih baik seringkali justru malas menghampiri Tuhan, dan lebih enak menghabiskan waktu sholat dengan kegiatan duniawi.

Tuhan, terima kasih Engkau telah perjalankan hamba ke kota Pemalang, kota yang memberi saya pelajaran tentang makna keterbatasan yang tidak harus membuat kita memanjakan diri dan menjadi alasan untuk mengendurkan semangat untuk terus memperbaiki diri. Berikanlah terus bimbingan-Mu kepada kami yang mencintai agama-Mu. Aamiin.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: