jump to navigation

Bahasa Digital, Bahasa Komunikasi Masa Depan November 30, 2009

Posted by snhadi in Alam Khayal.
Tags:
trackback

Terus terang, saya termasuk orang yang kadangkala memiliki kebiasaan iseng, tentu yang bersifat baik donk! Berkaitan dengan digital booming akhir-akhir ini di sistem pendidkan kita, khususnya kalangan kampus, saya juga sesekali menerapkan keisengan saya. Di kampus, saya sering berpidah-pindah lokasi dalam memanfaatkan area hotspot gratis yang disediakan oleh pengelola kampus (mumpung gratis, kalau ke warung internet bisa tekor kantong!).

Keisengan saya muncul jika di sekitar saya ada juga beberapa pengguna yang sedang mengakses internet. Biasanya saya pura-pura berdiri dan berjalan berkeliling, padahal hanya mau mengintip, apa sih yang sedang mereka akses, karena kelihatan begitu serius. Ternyata, dari survei kecil-kecilan saya di kampus, hampir 100% mahasiswa yang mengakses internet di area hotspot gratis, entah itu S1, S2, ataupun S3, tak lepas dari membuka situs pergaulan facebook! Belum lagi kalau survei ini berlanjut ke warnet!

Walah…saya pikir mereka lagi mengakses jurnal ilmiah atau sedang browsing untuk keperluan studi (karena terlihat begitu serius), ternyata sedang asyik menikmati facebook! Dalam hati saya berkata, facebook memang luar biasa, sanggup merasuk jauh ke kehidupan masyarakat, sampai kalangan akademisi (baik dosen maupun mahasiswa), jauh lebih dahsyat dibanding friendster dulu. Padahal kalau saja kita tidak bisa memposisikan dan mengatur diri dengan baik, banyak waktu yang terbuang sia-sia karena situs jejaring ini!

Nah terkait dengan lagi trend-nya facebook di lingkungan akademisi kita, tentu kesempatan ini jangan sampai disia-siakan begitu saja. Jangan biarkan facebook hanya dimanfaatkan untuk situs perkenalan dan promosi barang saja, tetapi juga harus bisa mendukung kemajuan pendidikan kita.

Kalangan akademisi harus mampu memanfaatkan bahasa digital ini sebagai bahasa komunikasi pendidikan. Facebook yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja, memungkinkan interaksi dosen dan mahasiswa terjadi tidak hanya di dunia nyata. Ini adalah suatu keuntungan tersendiri bagi dunia pendidikan kita.

Saya jadi membayangkan, andai setiap dosen memiliki facebook khusus yang bisa dijadikan sarana belajar mengajar jarak jauh atau sekedar konsultasi pendidikan dengan mahasiswanya, tentu ini akan jauh lebih memiliki makna. Mahasiswa akan bisa belajar dari dosen tanpa harus bertatap muka langsung. Apalagi kalau dosennya sangat mobile, tentu ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa.

Tentu supaya interaksi digital ini tidak membosankan, para dosen juga harus diajak lebih sedikit gaul. Mereka harus sedikit menyempatkan waktu untuk bisa menampilkan wajah facebook-nya menjadi wajah yang lebih ramah, dengan tutur bahasa yang mudah dimengerti dan bersahabat.

Saya yakin semua ini bisa dilakukan, asal kita mau sedikit berkorban untuk lebih memberdayakan bahasa digital ini sebagai bahasa pendidikan kita. Kalau sudah bisa diterapkan, saya yakin pendidikan kita akan jauh lebih berkualitas di masa mendatang.

Advertisements

Comments»

1. Bahasa, please! - December 3, 2009

bahasa digital tetap pakai Bahasa Indonesia kan? 😀 salam kenal dari pondok bahasa kita 🙂

snhadi - December 8, 2009

Ya…boleh efisiensi tp jangan keterlaluan 🙂 Hidup bahasa Indonesia!

snhadi - December 8, 2009

Ya…boleh efisiensi tp jangan keterlaluan 🙂 Hidup bahasa Indonesia!

2. nonadita - January 13, 2010

Sekarang sudah banyak guru dan dosen yang aktif di facebook. Semoga membawa manfaat untuk diri dan murid2nya 🙂

snhadi - January 19, 2010

Asal jangan hanya sekedar buat iseng banyak-banyakin teman he3…

3. maiton gurik - March 6, 2010

Ia membuat segalasesuatu indah pada waktunya bahkaniamembrikan kekekalan dalam hati manusia tetapi manusia tidak menyalami pekerjaan yang di lakukan dariawal sampai akhir

4. maiton gurik - March 6, 2010

Terus terang, saya termasuk orang yang kadangkala memiliki kebiasaan iseng, tentu yang bersifat baik donk! Berkaitan dengan digital booming akhir-akhir ini di sistem pendidkan kita, khususnya kalangan kampus, saya juga sesekali menerapkan keisengan saya. Di kampus, saya sering berpidah-pindah lokasi dalam memanfaatkan area hotspot gratis yang disediakan oleh pengelola kampus (mumpung gratis, kalau ke warung internet bisa tekor kantong!).

Keisengan saya muncul jika di sekitar saya ada juga beberapa pengguna yang sedang mengakses internet. Biasanya saya pura-pura berdiri dan berjalan berkeliling, padahal hanya mau mengintip, apa sih yang sedang mereka akses, karena kelihatan begitu serius. Ternyata, dari survei kecil-kecilan saya di kampus, hampir 100% mahasiswa yang mengakses internet di area hotspot gratis, entah itu S1, S2, ataupun S3, tak lepas dari membuka situs pergaulan facebook! Belum lagi kalau survei ini berlanjut ke warnet!

Walah…saya pikir mereka lagi mengakses jurnal ilmiah atau sedang browsing untuk keperluan studi (karena terlihat begitu serius), ternyata sedang asyik menikmati facebook! Dalam hati saya berkata, facebook memang luar biasa, sanggup merasuk jauh ke kehidupan masyarakat, sampai kalangan akademisi (baik dosen maupun mahasiswa), jauh lebih dahsyat dibanding friendster dulu. Padahal kalau saja kita tidak bisa memposisikan dan mengatur diri dengan baik, banyak waktu yang terbuang sia-sia karena situs jejaring ini!

Nah terkait dengan lagi trend-nya facebook di lingkungan akademisi kita, tentu kesempatan ini jangan sampai disia-siakan begitu saja. Jangan biarkan facebook hanya dimanfaatkan untuk situs perkenalan dan promosi barang saja, tetapi juga harus bisa mendukung kemajuan pendidikan kita.

Kalangan akademisi harus mampu memanfaatkan bahasa digital ini sebagai bahasa komunikasi pendidikan. Facebook yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja, memungkinkan interaksi dosen dan mahasiswa terjadi tidak hanya di dunia nyata. Ini adalah suatu keuntungan tersendiri bagi dunia pendidikan kita.

Saya jadi membayangkan, andai setiap dosen memiliki facebook khusus yang bisa dijadikan sarana belajar mengajar jarak jauh atau sekedar konsultasi pendidikan dengan mahasiswanya, tentu ini akan jauh lebih memiliki makna. Mahasiswa akan bisa belajar dari dosen tanpa harus bertatap muka langsung. Apalagi kalau dosennya sangat mobile, tentu ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa.

Tentu supaya interaksi digital ini tidak membosankan, para dosen juga harus diajak lebih sedikit gaul. Mereka harus sedikit menyempatkan waktu untuk bisa menampilkan wajah facebook-nya menjadi wajah yang lebih ramah, dengan tutur bahasa yang mudah dimengerti dan bersahabat.

Saya yakin semua ini bisa dilakukan, asal kita mau sedikit berkorban untuk lebih memberdayakan bahasa digital ini sebagai bahasa pendidikan kita. Kalau sudah bisa diterapkan, saya yakin pendidikan kita akan jauh lebih berkualitas di masa mendatang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: