jump to navigation

Mereka Yang Berdamai Dengan Alam December 17, 2009

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback

AlamDulu saat Tuhan hendak menciptakan manusia untuk menghuni bumi, Malaikat, sang pembantu setia Tuhan bertanya, “Ya Tuhanku, Kenapa Engkau mau menciptakan manusia yang nantinya justru akan membuat kerusakan di bumi?” Tuhan menjawab, “Aku lebih tahu darimu, wahai malaikat-Ku!”

Tidak salah memang malaikat memperkirakan demikian. Saat ini terbukti tidak sedikit manusia justru menjadi biang keladi kerusakan bumi. Mereka tidak lagi mau bersahabat dengan alam. Alam hanya dijadikan objek yang bisa diperlakukan semena-mena tanpa tanggung jawab. Manusia menjadi sangat mudah dikuasai oleh nafsunya, menguasai alam, setelah itu meninggalkannya penuh kerusakan.

Tepat juga jawaban Tuhan saat menghadapi pertanyaan kritis malaikat-Nya. Tuhan tentu jauh lebih tahu tentang manusia daripada malaikat. Terbukti, di saat sebagian manusia berlomba-lomba membuat kerusakan di bumi, sebagian lainnya justru dengan penuh cinta menjaga bumi. Saat tidak sedikit manusia menjadikan bumi sebagai objek sapi perahan, sebagian lainnya justru berusaha bersahabat erat dengan bumi. Memanfaatkannya tanpa mencelakakannya.

Contoh sederhana saya temui hari ini. Saat sedang menunggu teman lama di samping sungai kecil, di seberang gedung Magister Manajemen UGM. Saya menemukan dua pemandangan menarik di sekitar sungai tersebut. Yang pertama adalah nikmatnya tidur seorang lelaki muda di ayunan kain. Suara lalu lalang kendaraan seakan musik klasik yang menenangkan. Aliran sungai seakan menjadi pelengkap dongeng menuju istirahat panjang. Gedung megah di sampingnya dianggap seperti hiasan dinding kamar yang memiliki keindahan yang menyejukkan.

Tidur dalam ayunan sang alam

Pemandangan kedua yang berhasil saya rekam di saat yang bersamaan di sungai yang sama pula adalah pemandangan seorang wanita tua yang sedang melakukan aktivitas mencuci pakaian. Sang nenek tak canggung membenanamkan kaki keriputnya ke dalam sungai dan mencuci satu demi satu kain kotor yang dibawanya. Sentuhan air sungai yang tak lagi bersih seakan sentuhan lembut sang ibu, penuh kasih sayang dan jauh dari keinginan mencelakakan. Sampah-sampah yang sesekali terbawa aliran sungai bukan lagi dianggap barang yang menjijikan, tetapi  justru menjadi teman di saat sendiri beraktivitas.

Menyapa alamMenyapa alam di sore hari

Tak hanya itu, selepas mencuci, sang nenek dengan relanya menyiramkan air keruh sungai ke wajah keriputnya, juga ke sekujur tangannya. Bebas dari rasa curiga akan kemungkinan air tersebut membawa ribuan bibit penyakit ke wajah dan tangannya. Terlepas dari prasangka buruk kepada alam.

Mereka berhasil membuktikan kepada kita berdamai dengan alam adalah suatu keniscayaan. Masihkah kita tak bergeming melihatnya?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: