jump to navigation

Pertamina, Saat Idealisme Menjadi Sebuah Keniscayaan January 5, 2010

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback

Akhir-akhir ini kata-kata idealisme kembali sering saya dengar, terutama di kelas kampus saya. Tugas-tugas dosen yang seabrek memunculkan idealisme yang berbeda-beda di mata mahasiswa yang mengerjakannya. Ada yang ingin mengerjakan tugas-tugas tersebut murni dari hasil kerja kerasnya, meski mungkin akan menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Tetapi ada juga yang mengerjakannya cukup dari hasil alih bahasa artikel asing, lalu jreng tugas pun selesai tanpa harus mengeluarkan waktu dan tenaga yang banyak!

Yang mengerjakan tugas dengan cara instan ini dengan santai berkilah,”Ah nggak apa-apa lah. Tugas-tugas lain kan masih banyak, sesekali idealisme dinomorduakan dulu”.

Ups…benarkah idealisme kadang-kadang juga perlu dipinggirkan?

Tertarik dengan masalah idealisme ini, saya sedikit akan menghubungkannya dengan Pertamina, salah satu BUMN ternama di republik ini. Mungkin situasi seperti ini juga terjadi di tubuh Pertamina. Mungkin masih ada pihak-pihak tertentu yang beranggapan bahwa program transformasi Pertamina hanya membuang-buang biaya, tenaga, dan waktu saja. Kenapa sih program transformasi harus dilakukan, toh Pertamina tidak akan bangkrut, kan ada pemerintah di belakang Pertamina.

Tetapi tentu tidak sedikit yang justru beranggapan sebaliknya. Untuk bisa tetap eksis di dunia minyak dan gas (migas), Pertamina tidak bisa tidak harus berubah. Dukungan pemerintah bukan lagi menjadi kekuatan utama untuk tetap berjalannya Pertamina di masa depan. Program transformasi harus dijalankan untuk bisa mencapai idealisme masa depan Pertamina, yaitu menjadikan Pertamina sebagai perusahaan migas nasional berkelas dunia.

Saya tidak tahu seberapa kuat tarik-menarik kedua belah pihak ini di tubuh Pertamina. Tetapi melihat keseriusan Pertamina menjalankan road map menuju cita-cita tahun 2023, saya optimis idealisme masa depan masih menjadi tujuan utama Pertamina. Idealisme tidak akan dinomorduakan atau mungkin malah disingkirkan.

Saat idealisme menjadi sebuah keniscayaan di mata seluruh pihak yang ada di tubuh Pertamina, dari mulai buruh sampai manajemen puncak dan pemerintah, maka seberat apapun kerja yang akan dilakukan atau selama apapun waktu yang akan ditempuh untuk mencapainya, bukan lagi hal yang akan memberatkan. Karena di mata mereka hanya ada satu tujuan, “Pertamina masa depan harus berbeda dari Pertamina saat ini dan masa lalu. Pertamina masa depan harus bisa menjadi perusahaan migas kebanggan negeri, yang unggul tidak hanya dari kualitas produknya tetapi juga layanan yang diberikan kepada konsumen serta pengabdian yang dilakukan untuk masyarakat sekitarnya”.

Saat di tubuh Pertamina, idealisme menjadi sebuah keniscayaan, kenapa tidak kita sebagai masyarakat di luar Pertamina beranggapan yang sama. Karena pada hakikatnya masyarakat kita akan bangga jika negeri ini memiliki perusahaan lokal yang memiliki kualitas dunia. Dan saat masyarakat sudah merasa bangga terhadap Pertamina, jangan salahkan mereka jika kemudian mereka akan mati-matian membela Pertamina.



Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: