jump to navigation

Nasi Kucing & Lengko; Sebuah Tradisi Kebersahajaan July 23, 2010

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan, Senyuman Cinta.
trackback

Saat pertama kali diperkenalkan oleh seorang teman dengan nasi kucing setahun lalu, saya bergumam dalam hati, syukurlah masih ada kesederhanaan yang tampak di Jogja yang pada akhir-akhir ini telah berkembang menjadi kota yang cukup materialistis. Setidaknya nasi kucing mampu menemani hari-hari mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan.  Cukup dengan 1000 rupiah kita bisa mendapatkan sebungkus nasi kucing (nasi dengan sedikit tempe oreg atau sambal teri).

Seringkali saat menikmati nasi kucing, pikiran saya melayang membayangkan nilai-nilai filosofi dari sebungkus nasi yang menjadi menu khas angkringan Jogja (pedagang nasi dengan gerobak dorong). Secentong kecil nasi yang dibungkus dengan satu lauk (sambal teri atau tempe oreg atau kadang mie) mengajarkan kita kepada sikap hidup tidak berlebih-lebihan. Dengan demikian kita juga akan semakin peka dengan kehidupan di sekitar kita.

Tempat jualan yang hanya berupa gerobak dengan bangku-bangku kayu di pinggir jalan, tetap menarik bagi pembeli yang saat itu perutnya sedang lapar. Hal ini mendidik kita bahwa tampilan luar kehidupan bukanlah hal yang utama kita agung-agungkan, justru isi di dalamnya lah yang seharusnya lebih kita pedulikan.

Jika kita perhatikan, angkringan selain menjual nasi kucing yang merupakan menu utama, juga disediakan aneka lauk-pauk sebagai teman makan nasi kucing. Ada sate usus, sate ati ampela, sate telor puyuh, aneka gorengan (tempe, bakwan jagung, tahu isi, cabe goreng, dll), tempe bacem, ceker dan kepala ayam, serta aneka minuman (teh hangat dan dingin, jeruk hangat dan dingin, dll). Hal ini menggambarkan bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia itu sama (seperti butuhnya kita makan nasi untuk pengganjal perut), namun keinginan setiap orang bisa jadi berbeda (seperti banyaknya pilihan lauk yang bisa dinikmati di angkringan). Ada orang yang cukup puas dengan kebutuhan pokoknya saja, namun tidak sedikit juga orang yang tidak pernah puas untuk memenuhi segala keinginan hidupnya.

Ingat nasi kucing, saya jadi ingat nasi lengko yang menjadi makanan khas Cirebon, kampung halaman saya. Dengan 1000 rupiah kita juga bisa menikmati nasi dengan lauk berupa tempe tahu diiris kecil, tauge, daun kucai, kecap, dan sedikit sambal. Kedua nasi ini menggambarkan hal yang serupa, kesederhanaan akan terasa nikmat jika kita terus mensyukurinya.

Saya tidak tahu kapan lagi akan bisa menikmati nasi kucing ini, menu andalan hampir setiap mahasiswa yang menuntut ilmu di Jogja. Saya hanya berharap, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan bisa terusa saya bawa ke mana pun kaki ini kan melangkah.

Yogyakarta, 23 Juli 2010. Selamat tinggal JOGJA, terima kasih untuk semua yang pernah kau berikan. Mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi dengan keadaan yang jauh lebih baik. Aamiin.

Comments»

1. dealer pulsa - February 21, 2011

nasi kucing, murah dan merakyat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: