jump to navigation

Memanusiakan Peraturan September 14, 2010

Posted by snhadi in Cermin Tergores, Kursi Patah.
trackback

Kalau ditanya secara jujur, manusia manakah sih yang tidak ingin dimanusiakan? Tentu dengan sangat pasti kita akan menjawab, “semua manusia ingin dimanusiakan”!

Namun adakalanya kita lupa, untuk bisa memanusiakan manusia, kita tentu terlebih dahulu harus memanusiakan peraturan. Peraturan dibuat tentu bukan bermaksud menghambat manusia yang satu memanusiakan yang lainnya, tetapi justru sebaliknya, mengkondisikan semua berjalan pada relnya masing-masing. Atau dengan kata lain semua bisa ditempatkan sebagaimana mestinya (adil).

Kalau saja kita tidak menganggap peraturan (negara/masyarakat) hanya sekedar benda mati, tentu kita akan dengan senang hati menjalani peraturan tersebut. Kita tak perlu lagi menjalani aturan hanya karena ada pengawas (aparat yang bertugas). Kita akan dengan sendirinya mengawasi diri sendiri. Dan dampaknya tentu akan luar biasa, tak ada manusia satupun yang merasa hak-haknya dilanggar oleh yang lainnya.

Misalnya contoh kasus jemaat HKBP di Bekasi, yang membuat masyarakat di sekitarnya resah karena menggunakan rumah tinggal untuk gereja (yang kemudian disegel pemkot Bekasi karena tidak sesuai dengan peraturan yang ada tentang peruntukkan bangunan). Namun jemaat HKBP ini ingin terus melakukan kegiatan keagamaannya di daerah tersebut meskipun sampai menggunakan lahan kosong. Dan inilah yang kemudian memicu kembali protes warga sekitarnya.

Tidak salah memang menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing karena itu telah diatur UUD. Namun alangkah bijaksananya jikalau dalam menjalankan hak ini tidak sampai melangkahi peraturan yang lainnya tentang syarat berdirinya tempat ibadah. Alangkah bijaksana pula, sementara ijin pendirian rumah ibadah belum turun, jemaat HKBP tersebut bergabung dengan jemaat gereja di tempat yang lain untuk beribadah (seperti halnya umat Islam yang bebas beribadah di masjid manapun – tidak ada sekat-sekat penghalang).

Jika peraturan ini bisa dimanusiakan, sudah barang tentu tidak akan ada pihak yang akan merasa terganggu (buktinya ribuan gereja di Indonesia dengan aman berdiri dan melakukan aktivitasnya tanpa ada gangguan dari masyarakat sekitar). Bahkan walaupun tempat tinggal saya saat ini berdekatan dengan dua gereja yang berbeda (di depan dan di samping rumah), tak ada sedikitpun niat untuk mendemo mereka, karena memang mereka sanggup memanusiakan peraturan yang ada. Bahkan saya kadangkala memanfaatkan luar pagar gereja mereka untuk mengais rejeki.

Tetapi tentu saya juga tidak setuju jika kekerasan menjadi langkah yang diambil untuk memanusiakan peraturan. Masyarakat boleh saja memprotes suatu hal namun tetap tidak boleh melakukan kekerasan apalagi sampai melukai yang lainnya. Karena ini sama saja dengan kita ingin orang lain memanusiakan peraturan sementara kita sendiri masih belum mampu melakukannya.

Masalah jemaat HKBP dan masalah-masalah yang lainnya tentu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa tidaklah mudah memanusiakan peraturan apalagi memanusiakan manusia. Namun semua itu bukan mustahil dapat dilakukan kalau kita berangkat dari niat yang sama, ingin kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: