jump to navigation

Saat Kebenaran Dimaknai Salah December 22, 2010

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags: ,
trackback

Pagi tadi, sepeti biasa saya berangkat ke tempat penelitian di Jakarta menggunakan kereta listrik ekonomi (KRL). Namun karena saat saya datang kereta yang akan berangkat pukul 07:05 dari Bogor hanya satu set (empat gerbong), saya terpaksa menunggu kereta keberangkatan berikutnya (pukul 07:20). Karena seperti yang telah diketahui bersama, dengan jumlah gerbong lengkap saja (8 gerbong), tidak jaminan bakal longgar jumlah penumpangnya, apalagi hanya empat gerbong.

Saya bersyukur sempat memperoleh tempat duduk. Dan kebetulan saat itu penumpang yang naik dari Bogor tidak terlalu banyak, jadi banyak tempat yang kosong. Suasana kereta yang relatif “kosong” ini dimanfaatkan penumpangnya untuk beragam aktivitas, dari mulai tidur, membaca koran, sampai main domino. Bahkan beberapa orang tanpa terbebani menghabiskan waktu dengan merokok di dalam gerbong, meskipun belum tentu orang di sekililingnya bakal senang.

Saya termasuk orang yang paling anti kalau ada orang yang merokok di samping/depan saya. Enak saja, dia yang enak menghisap, kita yang dapat asap dan penyakitnya. Biasanya beragam cara akan saya lakukan untuk “menghalau” orang-orang yang gak peduli ini (orang yang tak taat peraturan karena sejatinya di Bogor sudah ada larangan merokok di kendaraan umum) seperti beranjak pergi, menutup hidung, mengibas-ngibaskan tangan atau kertas, pura-pura batuk, dll. Namun saya sangat jarang menegur dengan kata-kata.

Saat di samping kiri dan kanan saya orang-orang dengan seenaknya merokok, langkah yang saya ambil awalnya adalah pura-pura batuk. Namun karena orang yang merokok belum sadar juga, saya kemudian membeli koran, sengaja untuk saya kibas-kibaskan sesekali di dekat hidung saya agar asap rokok mereka gak terlalu banyak saya hirup. Saya tidak mengambil langkah beranjak pergi karena kalau pergi, saya bakal nggak kebagian tempat duduk lagi, padahal perjalanan saya masih sangat jauh (sekitar 1 jam, 20 menit dengan kereta ekonomi).

Namun rupanya langkah yang menurut saya baik itu tidak disenangi dengan perokok di samping saya. Dengan nada tidak suka dia melontarkan kata-kata,”Sebaiknya Abang pindah aja supaya nggak kena asap rokoknya!” Sebenarnya ingin sekali saya menimpali, “Kenapa saya yang harus pergi? Kan hak saya melindungi tubuh saya dari paparan asap beracun. Harusnya yang merokok dong yang pergi!”. Tapi karena saya khawatir merusak suasana hati saya, apalagi saya ingin mengawali hari dengan senang hati, ocehan si perokok tidak saya gubris. Toh itu bukan salah saya!

Saya yakin tidak sedikit orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Saat kebenaran belum tentu dimaknai dengan benar. Itulah hidup, seringkali terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Saya hanya berharap kepedulian terhadap nasib orang lain di sekitar kita lambat laun semakin meningkat, agar kita kembali menemukan jati diri kita sebagai orang yang membutuhkan kehadiran orang lain, bukan menjadi orang yang egois dan individualistis, yang menganggap orang lain hanya sebagai pelengkap saja bukan bagian terpenting yang mengiringi langkah kita.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: