jump to navigation

Piala AFF Pergi, Nasionalisme Juga Pergi (?) January 14, 2011

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags: , ,
trackback

Sebagai rakyat, wajar jika saya dan sebagian besar penduduk negeri ini memiliki harapan besar agar Indonesia menjadi negeri kaya prestasi. Tentu bukan prestasi korupsi dan segala bentuk mafia yang sekarang sedang merajalela di bumi ini. Tetapi prestasi anak negeri yang mampu membuat di manapun penduduknya berada akan merasa bangga telah menjadi bagian dari ibu pertiwi.

Belum genap satu bulan yang lalu, kita hampir saja mampu berbicara di ajang piala AFF 2010. Pertandingan sepakbola yang sempat membuat nasionalisme bangsa kita bangkit dan meredam segala bentuk keegoismean pribadi. Tak ada lagi sekat-sekat suku, agama, ras, atau golongan. Semua tertuju pada satu, mendukung agar putera-putera terbaik bangsa mampu berbicara di ajang internasional.

Namun setelah piala AFF 2010 berlalu dan kita pulang dengan tangan hampa, rupanya nasionalisme itu mungkin tak bersisa lagi di diri sebagian anak negeri. Atau setidaknya patut dipertanyakan.

Semua tahu konflik yang terjadi antara PSSI dan LPI. Meski keduanya sama-sama memiliki tujuan yang mulia, membangun persepakbolaan negeri yang mumpuni, namun ternyata sangat sulit menyatukan mereka. Bahkan Kementrian Pemuda dan Olahraga pun seakan tak mampu menjembatani. Kedua belah pihak sama-sama ingin mempertahankan egoisme masing-masing, tanpa peduli apakah itu akan berdampak baik bagi prestasi bangsa ataupun tidak.

PSSI pimpinan Nurdin Halid dan Nugraha Besoes terlanjur tidak suka dengan ide “konyol” pengusaha pemilik Grup Medco, Arifin Panigoro yang membentuk kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Segala bentuk tujuan mulia LPI, yang notabene juga mungkin baik bagi perkembangan persepakbolaan tanah air ditampik dengan keras. PSSI hanya mau ada satu ajang kompetisi, Indonesia Super League (ISL), yang disinyalir beberapa pihak justru sudah mengalami kemunduran dari segi kualitas (karena diduga anggaran APBD/APBN yang digunakan tidak sedikit yang dikorupsi. Sumber: Kompas). Bahkan PSSI dengan segala upaya dan jalur diplomasinya terus menekan LPI agar mandek di tengah jalan. Sebuah bentuk egoisme diri yang justru bisa menghancurkan prestasi bangsa sendiri.

LPI besutan Arifin Panigoro, meski dinilai sebagian masyarakat Indonesia cukup baik bagi dunia persepakbolaan tanah air, juga tak kalah keras mengusung egoisme pribadi. LPI ingin persepakbolaan negeri ini menjadi lebih profesional, menguntungkan dari sisi bisnis, dan menjauhi subsidi dari APBD/APBN. Sekilas hal ini memang baik, namun jika tidak diatur dengan baik, bisa-bisa demi bisnis, LPI melupakan pemain dan pelatih dalam negeri dan asyik mengurusi pemain-pemain asing berkualitas yang ingin merumput di kompetisi LPI, karena dinilai lebih menjual.

Sebagai rakyat, kembali saya mempertanyakan keseriusan kedua belah pihak dalam mengusung cita-cita persepakbolaan tanah air, membuat Tim Nasional Indonesia lebih mumpuni dan disegani. Saya juga mempertanyakan apakah nasionalisme pasca AFF benar-benar telah pergi tergerus egoisme pribadi, egoisme PSSI ataupun LPI. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya…

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: