jump to navigation

Terlepas dari Jeratan Kartu Kredit April 5, 2011

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags: ,
trackback

Beberapa tahun yang lalu, bersama seorang teman (saat itu masih bekerja di Batam), kami berkunjung dari satu kantor bank ke kantor bank lainnya. Bukan untuk membuka rekening atau sekedar iseng jalan-jalan, melainkan bermaksud mengajukan permohonan kartu kredit. Saat itu kami meyakini, kartu kredit adalah jurus yang cukup ampuh jika kita dalam kondisi kepepet (misalnya ingin beli tiket mendadak dsb). Namun kami menjadi kecewa karena semua aplikasi yang kami ajukan DITOLAK pihak bank tanpa alasan yang jelas.

Selepas dari Batam, saya kembali ke tanah Jawa untuk melanjutkan studi dan memulai merintis usaha kecil-kecilan secara online (www.souvenir-nikahku.com). Rupanya “pekerjaan” saya ini justru menarik beberapa bank menghubungi saya untuk menawarkan sejumlah programnya, termasuk aplikasi kartu kredit. Dengan segala bujuk rayunya, sang marketing berusaha meyakinkan saya untuk mengikuti program yang mereka tawarkan. Namun karena saya sudah keburu kecewa (karena dulu pengajuan aplikasi saya selalu ditolak), saya menolak semua tawaran mereka.

Sekarang, saat masalah kartu kredit menjadi buah bibir di tanah air terutama semenjak kasus kematian Irzen Octa, seorang nasabah pengguna kartu kredit Citibank oleh ulah deb collector yang disewa pihak bank untuk melakukan penagihan hutang, saya merasa sangat bersyukur tidak sempat bersentuhan dengan kartu kredit.

Buat saya, penagihan hutang dengan memanfaatkan jasa deb collector adalah tindakan kurang bijak dan cenderung primitif. Apa tidak ada instrumen lain seperti pengajukan ke sidang perdata, restrukturisasi hutang, dll. Karena bagi saya, jasa deb collector meskipun dinilai cukup efektif menagih hutang, namun membuat pihak yang berhutang menjadi sangat dirugikan. Padahal mungkin saja jumlah yang ditagihkan kepadanya bukan lagi jumlah hutang aslinya melainkan hanya bunga yang telah berbunga. Dan bisa saya yakinnya secara umum orang tentu mengerti bahwa hutang itu wajib dibayar, jadi tanpa perantara deb collector sekalipun, orang yang baik-baik akan taat untuk mengembalikan hutangnya.

Jika sampai si penghutang tidak bisa membayar tentu ada alasan yang jelas (misalnya kebangkrutan, terkena PHK, dll), dan ini jarang dipahami dengan baik oleh pihak bank. Semua dipukul rata, hutang wajib dilunasi pada jatuh tempo yang diberikan tanpa melihat apakah si penghutang sanggup membayar atau tidak. Dan untuk bisa memperoleh targetnya, pihak deb collector dikerahkan, tak peduli sistem apa yang diberlakukan jasa deb collector dalam melakukan penagihan.

Belum lagi seringkali demi kebutuhan marketing, pihak bank tidak jujur kepada nasabahnya. Perhitungan bunga kartu kredit seringkali tidak disebutkan secara detail, akhirnya terjadi perbedaan perhitungan jumlah hutang yang harus dibayar nasabah antara bank dan pihak penghutang. Jadi amatlah wajar jika kemudian si pengguna kartu kredit terjerat semakin kuat dengan sistem bunga berbunga yang dibebankan. Kalau dulu kita menyebutnya sebagai sistem lintah darat atau rentenir yang sangat merugikan si penghutang. Dan seharusnya kita menghindari sistem seperti ini karena HARAM hukumnya secara agama.

Melihat semua situasi yang berkembang saat ini, saya semakin bersyukur, Alloh SWT selalu menjaga saya. Selalu menjauhkan saya dari hal-hal yang bisa membuat kerugian bagi saya. Dan saya semakin yakin untuk berkata, “CREDIT CARD, ABSOLUTELY NO!”.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: