jump to navigation

Budaya Mundur Untuk Pejabat Publik April 12, 2011

Posted by snhadi in Kursi Patah, Senyuman Cinta.
Tags: , , , ,
trackback

Bukan barang aneh kalau kita mendengar pejabat di negara lain, seperti Jepang, Cina, dll akan mengundurkan diri dari jabatannya karena kedapatan bersalah, meskipun mungkin pengadilan belum sampai memutuskan yang bersangkutan benar-benar bersalah.

Sementara di negeri ini, budaya meletakkan jabatan saat melakukan kesalahan sangat jarang terjadi, bahkan meskipun pengadilan sudah memutuskan bersalah, kekuasaan yang digenggam tak kunjung juga diserahkan. Terbukti sangat banyak pejabat publik yang sudah jelas-jelas diperkarakan masih saja tetap bersikukuh memangku jabatan dengan alasan tidak mau lari dari tanggung jawab atau yang lebih parah adanya anggapan bahwa mengundurkan diri saat pengadilan belum memutuskan bersalah sama saja dengan mengakui diri sendiri bersalah (mana ada sih maling yang mau mengaku dengan suka rela bahwa dirinya mencuri?). Pejabat publik ini lebih suka kalau diberhentikan secara paksa dan tak terhormat.

Namun untungnya, ada momentum yang sangat baik untuk menggalakkan budaya malu di negeri ini. Setidaknya momentum yang diawali mantan presiden Soeharto dan sekarang dicontohkan Arifinto, anggota DPR dari Fraksi PKS yang dituduh melakukan kegiatan tidak pantas saat sidang dewan harusnya terus bisa dijaga.

Arifinto atau siapapun yang sekarang sedang diamanati menjabat tentu bukanlah malaikat yang akan selalu benar dalam tindak tanduknya. Ada sisi manusia yang tak luput dari pernah melakukan kekeliruan. Namun karena sang manusia tersebut sedang menerima tanggung jawab besar berupa jabatan, yang dituntut selalu benar dalam menjalankan amanahnya, tentu tak elok kiranya kalau sampai melakukan tindakan tercela. Karena hal tersebut bisa menjadi preseden buruk bagi bawahan yang dipimpinnya. Apalagi kalau sampai tindakannya itu menjadi contoh dan dilakukan para bawahannya di kemudian hari. Karenanya sangatlah logis jika pejabat publik yang melakukan kesalahan harus tahu diri. Mereka harus malu dan merasa tak pantas menjabat lagi. Mereka harus malu karena tidak bisa menjadi pemimpin yang bisa mencontohkan hal-hal baik bagi bawahan atau rakyatnya. Jadi mundur adalah langkah yang tepat dan bertanggung jawab, bukan langkah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab jabatan seperti yang diyakini sebagian orang di negeri ini.

Secara pribadi saya sangat menghargai dan mengapresiasi dengan baik Arifinto atau siapapun pejabat publik yang mau lengser dengan suka rela ketika tak lagi bisa memegang amanah dengan baik. Rakyat butuh mental pejabat yang demikian, bukan pejabat yang haus kekuasaan sehingga dengan mati-matian membela diri agar tetap kokoh memegang jabatan meskipun rakyat telah muak melihat tingkah lakunya.

Saya juga mengapresiasi tindakan partai politik yang mau secara tegas melakukan hukuman kepada anggotanya ketika mereka bersalah, bukan malah mendukung mereka melakukan pembelaan diri. Rakyat butuh sikap partai politik yang berani berdiri di atas kebenaran seperti ini.

Saya berharap momentum ini bisa terus lestari sehingga anak cucu kita nanti akan menjadi bangga pernah dilahirkan dan dibesarkan di bumi pertiwi.

Comments»

1. dhila13 - April 12, 2011

hmm… setuju..
salam,

snhadi - April 12, 2011

terima ksh, salam juga…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: