jump to navigation

Dosa Transferan! May 9, 2011

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
Tags: ,
trackback

Tidak sedikit dari kita yang percaya adanya karma. Jika kita melakukan ini atau itu bisa jadi sanak kerabat atau anak cucu kita akan mendapatkan ini atau itu juga nantinya. Sehingga banyak dari kita yang takut dan menghindari melakukan perbuatan salah lebih karena kekhawatiran yang besar kesalahan itu akan menyebabkan kesulitan di masa depan bagi anak cucu kita, bukan lantaran lubuk hati kita yang paling dalam yang menginginkannya.

Nah yang menjadi pertanyaan, sanggupkah kita selalu bisa menghindar dari perbuatan salah? kalau saya meyakini itu sangat sulit terwujud. Berbagai tuntutan kehidupan yang ada di sekitar kita sangat mudah menggelincirkan orang. Ini sesuai dengan isyarat dalam sabda Nabi Muhammad SAW, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban).

Kalau konsep karma berlaku, berarti keadaan ini sangat merugikan nasib anak cucu kita di kemudian hari. Hanya karena sifat alami manusia yang tak pernah lepas dari salah, membuat mereka menanggung akibatnya. Tentu hal ini menjadi sangat tidak adil. Ibarat pepatah, “Orang makan nangkanya, kita kena getahnya”.

Konsep karma ini sebelas dua belas (mirip) dengan konsep dosa turunan, yang dulu diberlakukan pemerintah orde baru terhadap orang-orang yang dianggap melakukan kesalahan politik, seperti orang yang terlibat dalam aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI), dll. Kesalahan yang dilakukan para orang tua menjadi pembenar untuk ikut menghukum anak keturunannya. Padahal tindakan seperti ini sangat tidak adil dan manusiawi.

Rupanya meski era orde baru sudah berlalu dan kini jaman reformasi telah bergulir, konsep dosa turunan ini masih belum hilang dalam benak kita. Lihat saja ketika orang ramai-ramai membicarakan NII (Negara Islam Indonesia), semua orang yang pernah terlibat berusaha diungkap. Tidak sampai di situ saja, anak keturunannya juga diidentifikasi dan diopinikan “kemungkinan besar” memiliki kesamaan faham dengan nenek moyangnya. Padahal opini seperti ini sangat tidak berdasar dan cenderung akal-akalan.

Sungguh sayang, jika era reformasi tidak membuat pikiran kita tereformasi pula. Sungguh tidak adil rasanya jika kita menghakimi seseorang lantaran tindakan yang dilakukan pendahulunya. Padahal bisa saja dari orang tua preman, terlahir generasi ustadz atau pemuka agama yang lurus, atau pun sebaliknya.

Sungguh sayang jika kita masih menganggap dosa turunan sebagai konsep kehidupan yang masuk akal dan benar. Padahal perhitungan amal seseorang di akhirat nanti (yang menyebabkan dia masuk surga atau neraka) bukan lantaran adanya dosa transferan dari para pendahulunya tetapi karena baik buruknya amal perbuatan yang dilakukan orang yang bersangkutan selama hidup di dunia. Ini konsep amal dan dosa yang paling masuk akal dan adil. Karenanya tidak elok rasanya kalau kita masih mencari-cari konsep lain yang kebenarannya masih dipertanyakan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: