jump to navigation

Cerita Semut dan Manusia June 6, 2011

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags:
trackback

Suatu ketika, di jaman antah berantah, hiduplah kawanan semut, dipimpin seekor ratu semut di sebuah pohon alpukat besar, berdaun rimbun, dan berbuah banyak. Kawanan semut ini telah hidup beberapa generasi di sana dengan nyaman dan tentram. Sarangnya pun telah kokoh terbangun, hasil gotong-royong para semut pekerja yang tak pernah kenal lelah mengerjakan perintah sang ratu.

Namun tiba-tiba semua berbalik 180 derajat. Nasib buruk menimpa sang ratu semut dan para pengikutnya. Predator terganas mereka, manusia, telah datang merengkuh sarang mereka, dengan dalih untuk pengobatan tradisional. Mereka tidak peduli telah membunuh ratusan semut yang berada di sarang itu, seakan nyawa semut mereka yang punya. Tidak hanya itu, telur-telur semut pun tak luput dari aksi pemusnahan mereka, dengan alasan demi memuaskan nafsu makan hewan peliharaan mereka.

Tak ayal, sang ratu dan beberapa pengikutnya yang sempat melarikan diri, hidup terlunta-lunta. Mereka terpaksa terusir dari tempat tinggalnya yang sudah mereka tinggali selama beberapa generasi. Demi menyambung hidup, sang ratu dan pengikutnya mengembara. Dan rupanya nasib baik mempertemukan mereka dengan tempat baru, di sebuah rumah mewah nan asri. Rumah dengan halaman yang luas dan dihiasi sangkar burung di beberapa tiangnya.

Di sudut-sudut ruang mereka menemukan sisa-sisa makanan yang tak pernah mau dihabiskan sang pemiliknya. Di sudut-sudut ruang itu pula mereka menemukan asa yang baru untuk kembali merajut masa depan. Namun sayang hal itu tak berlangsung lama, sang pemilik rumah merasa tidak nyaman atas kehadiran mereka di sudut-sudut ruang. Tanpa ampun mereka kembali terusir. Kali ini bara api melalap sebagian besar anggota keluarga semut yang baru saja ingin memulai hidup baru. Sisa semut yang masih hidup lari tunggang langgang. Ada yang berlari naik ke atap, ada yang berlari kencang menuju belakang lemari untuk berlindung, ada juga yang tanpa sadar telah memanjat tubuh sang predator manusia. Namun sayang semua usaha mereka sia-sia. Lari sang semut memanjat atap tak secepat kilatan api yang menyambar. Begitu pula perlindungan di balik lemari tak mampu menghindari mereka dari panasnya api yang menyala. Sementara beberapa ekor semut yang berlindung di tubuh manusia, terpaksa mati tergerus oleh tangan-tangan jahat mereka yang tanpa ampun menggilas tubuh mungil sang semut tanpa ampun. Kini semua generasi semut sudah benar-benar musnah. Saat itulah perang antara manusia dan semut berakhir untuk kemenangan telak sang predator manusia.

Namun, kemenangan itu tidak berlangsung lama. Tuhan menampakkan keadilannya. Di pohon-pohon yang dulu dihuni semut kini tampak gerombolan ulat-ulat bulu, sebagai hasil dari metamorfosis kupu-kupu. Tak ada lagi predator alami yang berguna untuk menyeimbangkan populasi. Tak ada lagi semut pekerja yang akan memakan telur-telur kupu-kupu atau memakan ulat-ulat bulu. Apalagi burung yang telah lebih dulu menjadi tawanan manusia.

Telur kupu-kupu dengan leluasa menetas. Ribuan ulat-ulat bulu pun tanpa ada halangan berpesta. Menghabiskan semua daun-daunan pohon hingga pohon itu mati kehilangan energi. Ulat-ulat bulu yang tidak kebagian makanan di ladang, menyerbu rumah-rumah manusia untuk sekedar mencari makan. Tak lupa bulu-bulu mereka tinggalkan di sembarang tempat yang menimbulkan rasa panas dan gatal jika kulit manusia menyentuhnya. Ulat-ulat bulu ini lambat laun mengusir manusia dari tempat tinggalnya atau setidaknya memerangkap mereka di dalam sangkar-sangkarnya seperti ulah mereka yang telah mengusir sang semut dari rumahnya atau memenjarakan sang burung di sangkar yang sempit.

Masa depan memang tidak bisa diprediksi, namun bisa dipersiapkan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: