jump to navigation

Merindu Rakyat Indonesia yang Dulu… June 15, 2011

Posted by snhadi in Cermin Tergores.
trackback

Saat sekolah dasar dulu, sekitar tahun 1990-an, saya dan teman-teman dengan bangga menyebut diri kami bagian dari rakyat Indonesia. Rakyat yang dikenal santun, ramah, jujur, ikhlas, dan selalu berprasangka baik. Guru-guru kami selalu menginspirasi kami bagaimana menjadi individu yang tidak anti sosial dan mencintai lingkungan. Karena keikhlasan mereka, didikan yang mereka tanamkan hingga saat ini masih terasa.

Kini, 20 tahun kemudian, semua berubah – meskipun rasa cinta saya kepada negeri ini tak akan pernah berubah. Entah karena apa. Rakyat kita seakan sudah kehilangan nurani. Tidak sedikit dari kita yang tak lagi ramah dan mendahulukan kepentingan orang lain. Egoisme kita membutakan tindak tanduk kita. Tidak sedikit dari kita berusaha ramah namun bukan merupakan cerminan hati melainkan basa-basi belaka. Tidak sedikit dari kita yang sudah teracuni prasangka buruk terhadap orang lain.

Kasus terakhir yang membuat saya sedih adalah kasus contek masal di sebuah sekolah dasar di Surabaya. Tuhan, beginikah cerminan generasi penerus Indonesia masa depan? Mereka tak ragu bekerja sama dalam perbuatan melawan hukum. Bahkan guru dan kepala sekolah yang seharusnya menjadi panutan dan tulang punggung idealisme dan kejujuran justru ikut memberikan ruang berkembangnya kebobrokan mental para penerus bangsa ini. Yang lebih aneh, sang pelapor adanya kecurangan, ibu Siami dan keluarganya DIUSIR oleh masyarakat setempat karena dinilai tidak punya hati! Tuhan, beginikah potret manusia yang mengaku beragama di republik ini?

Belum lagi kemarin, saat pulang dari Jakarta menuju Bogor menggunakan jasa kereta api ekonomi, saya melihat orang berbondong-bondong menghakimi pencopet yang tertangkap basah sedang melakukan aksinya. Nada-nada provokasi seperti BAKAR SAJA! UDAH MATIIN AJA! kerap terdengar keluar dari mulut manusia yang mengaku punya AGAMA dan ber TUHAN! Inikah potret rakyat ibu pertiwi? Lari kemanakah rasa kemanusiaan itu?

Tuhan, semoga semua ini hanya sementara dan cerminan sesaat anak bangsa yang sedang kehilangan jati diri. Semoga kita bisa lekas kembali dan menyelami makna hidup yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Karena kalau tidak, saya tidak sanggup berandai-andai, akankah masih ada negeri yang namanya INDONESIA di masa mendatang?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: