jump to navigation

Kejujuran Seorang Pedagang January 19, 2012

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback

Sebenarnya beberapa hari ini saya hampir-hampir kehilangan ide untuk menulis. Kondisi fisik yang masih dalam masa pemulihan pasca terkena flu beberapa hari lalu membuat otak rasanya malas sekali untuk berpikir kritis, yang ujungnya membuat imajinasi menjadi seolah terhenti. Tapi berhubung saya tidak mau otak sampai karatan karena terlalu lama diistirahatkan, saya berusaha sedikit demi sedikit mencari ide kembali. Dari beberapa topik yang ingin saya tulis di blog ini, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mendapati para pedagang yang jujur, tempatnya bukan di pelosok desa, tetapi di ibukota yang notabene kejujuran seringkali kalah dengan urusan perut.

Berbeda dengan oknum pedagang buah salak di dalam bus ekonomi jurusan Jakarta-Tasikmalaya yang dengan berbusa menawarkan salaknya yang katanya manis, tetapi ternyata masam sehingga sempat membuat komplain pembeli, berbeda juga dengan oknum pedagang kue moci khas sukabumi di terminal Bogor yang menjual moci dengan harga standar namun dengan kualitas moci yang buruk bahkan basi, atau oknum-oknum pedagang sejenis yang seenaknya menaikkan harga ketika melihat ada pembeli yang wajahnya baru dikenal, pedagang buah di pinggiran jalan UKI yang mau ke arah tol menuju Bogor dan pedagang buah sejenis di belakang warung nasi padang di perempatan simpang POLSEK Tanjung Uncang Batam begitu berbeda. Kilauan materi tak menyebabkan mereka mau mengorbankan hati nuraninya.

Suatu ketika, menjelang sore hari saya kehausan. Sembari menunggu kedatangan bus menuju Bogor (dulu masih berhenti di dekat terowongan UKI), saya ingin membasahi lidah ini dengan menyantap buah yang tampak segar dan begitu tersusun rapi di gerobak seorang tukang buah. Bayangan akan manisnya rasa ditambah dinginnya tekstur buah karena disisipkan di antara beberapa bongkah es batu membuat ingin rasanya cepat-cepat mengunyahnya di dalam lidah. Namun saya agak ragu ketika mendekat, buah nanas incaran saya kelihatan tidak begitu matang. Tetapi karena penasaran akhirnya saya bertanya kepada sang penjual:

“Mas, buah nanasnya manis nggak? soalnya kelihatan kurang kuning/matang!”
Saya pikir si pedangan akan menjawab dengan jawaban klise khas para pedagang, “Tentu manis mas…”, ternyata saya kecele, si pedangan justru menjawab, “Waduh mas, maaf saya belum sempat mencicipi, jadi tidak tahu pasti apa nanas ini benar-benar manis atau ada rasa asamnya”.

Ups…jujur sekali mas-mas pedagang buah ini. Pengalaman yang sama juga saya alami pada pedagang sejenis di Pulau Batam dan beberapa kota lainnya. Pedagang yang masih berusaha jujur mengatakan apa adanya meskipun itu sangat berisiko karena bisa jadi calon pembeli akan mundur (tidak jadi membeli) lantaran ungkapan apa adaanya tentang kualitas barang dagangannya.

Kira-kira kenapa yah masih ada pedagang-pedagang yang seperti ini, di kota yang notabene menjadikan uang sebagai raja, bahkan tidak jarang uang dipertuhankan?

Untuk umat muslim, memiliki jiwa berdagang sangat dianjurkan. Bahkan sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada pada perniagaan. Maka sangatlah wajar pemimpin-pemimpin muslim jaman dulu tidak saja pandai berorasi dan berperang melawan musuh, tetapi juga lihai dalam berdagang. Bahkan sebagian besar mereka sebelum diangkat menjadi pemimpin umat Islam, dulunya adalah saudagar yang memiliki harta berlimpah. Bahkan Muhammad muda saat usianya 25 tahun (belum menjadi rosul) ketika meminang Khodijah memberikan mahar 100 ekor unta (kalau dirupiahkan untuk saat ini berkisar 1,2 milyar!!).

Namun, apakah generasi muslim pionir tersebut mendapatkan kekayaannya dengan jalan tidak jujur? tentu tidak. Bahkan Nabi Muhammad sangat dikenal dengan kejujurannya tidak hanya diakui oleh orang muslim sendiri tetapi oleh kalangan non-muslim, baik saat dia berprofesi menjadi pegangan ataupun setelah menjadi rosul dan pemimpin besar Islam. Begitu pula dengan sahabat-sahabat dan penerus nabi yang lainnya, mereka sangat menjunjung tinggi kejujuran. Karena mereka paham benar ajaran islam mewajibkan umatnya untuk berbuat jujur. Dalam sebuah hadist shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة، وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا. وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا. متفق عليه

Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia menturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaknya kalian senantiasa berbuat jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan membimbing kepada surga, dan senantiasa seseorang itu berbuat kejujuran dan senantiasa berusaha berbuat jujur, hingga akhirnya ditulis disisi Allah sebagai orang yang (shiddiq) jujur. Dan berhati-hatilah kalian dari perbuatan, karena sesungguhnya kedustaan akan membimbing kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan akan membimbing kepada neraka. Dan senantiasa seseorang berbuat dusta dan berupaya untuk berdusta hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih)

Begitu pula di hadist yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan para sahabatnya yang sedang menjalankan perniagaan di pasar:

يا معشر التجار! فاستجابوا لرسول الله صلى الله عليه و سلم ورفعوا أعناقهم وأبصارهم إليه، فقال: إن التجار يبعثون يوم القيامة فجارا، إلا من اتقى الله وبر وصدق. رواه الترمذي وابن حبان والحاكم وصححه الألباني

“Wahai para pedagang!” Maka mereka memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menengadahkan leher dan pandangan mereka kepada beliau. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan kelak pada hari qiyamat sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa kepada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.” (Riwayat At Timizy, Ibnu Hibban, Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Albany).

Dengan berlaku jujur, tidak hanya hasil jualan kita dipenuhi keberkahan tetapi membuat para pembeli memberikan kepercayaan yang tinggi kepada kita. Yang pada akhirnya akan menaikkan omzet hasil dagangan kita. Kalau sudah begitu, kira-kira siapa yang bakal diuntungkan? tentu kita sebagai pedagang. Itulah sunatullah yang sangat wajar diterima. Kejujuran akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat, begitulah pesan agama Islam, tidak hanya untuk umatnya tetapi juga umat-umat agama lain di dunia.

Pikiran saya kemudian melayang…membayangkan negeri ini dipenuhi para pedagang yang jujur, para pemimpin yang jujur, para guru yang jujur, para karyawan yang jujur, para petani yang jujur, sehingga akan membawa negeri ini kembali penuh keberkahan. Semoga…

Comments»

1. Murtini - August 8, 2012

bagi” donkz pak carax biar bisa posted? clx sy pengen banget pak menulis banyak hal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: