jump to navigation

BBM-ku? March 29, 2012

Posted by snhadi in Kursi Patah.
Tags:
trackback

Satu April mendatang, pemerintah ngotot akan menaikkan harga BBM. Sementara rakyat juga ngotot ingin harga BBM tidak naik. Sulit memang menyatukan dua pendapat yang saling bertolak belakang. Walaupun sebenarnya yang berhak menentukan naik-tidaknya BBM itu rakyat, bukan pemrintah atau anggota dewan karena notabene rakyatlah yang sebenarnya mensubsidi BBM untuk keperluannya sendiri (karena sebagian besar anggaran untuk belanja negara itu berasal dari uang rakyat).

Berangkat dari keinginan pemerintah yang sangat mulia, agar subsidi BBM jangan sampai dinikmati oleh orang yang tidak berhak (karena ternyata konsumsi premium bersubsidi selama ini justru lebih banyak dinikmati oleh mereka yang berpenghasilan menengah ke atas), akhirnya pemerintah mengusulkan opsi pembatasan BBM bersubsidi bagi pemilik kendaraan pribadi dan juga melakukan upaya konversi dari bensin ke gas. Awalnya pemerintah yakin dapat melakukan hal ini, tetapi entah mengapa di tengah jalan pemerintah seakan menjadi kurang percaya diri. Justru langkah ini kemudian malah ditinggalkan, dan pemerintah lebih memilih cara instan dengan mengurangi subsidi BBM atau dengan kata lain menaikkan harga BBM.

Padahal kalau kita lihat, sebenarnya opsi ini bukan langkah penyelesaian yang bijak. Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab pemerintah, dengan menaikkan harga BBM apakah pemerintah yakin orang-orang kaya tidak akan lagi melirik BBM bersubsidi ini dan beralih menggunakan BBM Non subsidi? Kalau saya menyakini, BBM bersubsidi akan tetap diincar mereka meskipun harganya lebih mahal dari sebelumnya. Kalau sudah begitu, bagaimana nasib rakyat menengah ke bawah dengan penghasilan tetap?

Jika harga BBM bersubsidi naik dari 4500 menjadi 6000 atau sekitar 33%, maka hampir bisa dipastikan pengeluaran untuk transportasi pun akan ikut naik, berkisar 25-35% (Info: organda DKI Jakarta berencana akan menaikkan tarif angkutan umum sebesar 35% jika harga BBM jadi naik 1 April mendatang). Belum ditambah naiknya harga-harga kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak, dll. Kenaikkannya diperkirakan berkisar 10-15%. Penderitaan rakyat ekonomi menengah ke bawah dengan penghasilan tetap akan semakin bertambah jika biaya-biaya lain latah ikut-ikutan naik misalnya biaya pendidikan buat anak, harga pakaian, dll.

Pengurangan subsidi BBM sebesar 33% di satu sisi akan mengurangi beban pemerintah, namun di sisi lain justru menambah beban rakyat. Bagi masyarakat ekonomi kaya sekelas pejabat pemerintah dan anggota dewan, kenaikan BBM tidak menjadi persoalan yang serius. Sementara bagi rakyat kecil, beban yang dipikul semakin bertambah-tambah. Tidak naiknya harga BBM saja mereka sudah sulit apalagi kalau sampai harga BBM jadi dinaikkan.

Untuk mengurangi beban rakyat miskin pemerintah sudah menyiapkan beberapa langkah. Salah satunya adalah bantuan langsung tunai, yang kalau dikalkulasikan jumlahnya sangat tidak sebanding dengan dampak kenaikan harga BBM terhadap perekonomian rakyat miskin. Sudah jumlahnya kecil, mendidik rakyat menjadi peminta-minta pula! Belum lagi seringkali bantuan semacam ini tidak tepat sasaran, bahkan bisa jadi akan membuka ladang baru bagi para koruptor kelas teri.

Dengan meningkatnya jumlah pengeluaran akibat kenaikan BBM, maka hampir bisa dipastikan ada pos-pos pengeluaran lainnya yang harus dikurangi, kecuali jika pos-pos pendapatan bisa diusahakan bertambah. Kalau masyarakat ekonomi menengah ke atas, pengurangan bisa dilakukan pada pos-pos pengeluaran yang bersifat kesenangan misalnya makan di luar, rekreasi, dll. Sementara bagi masyarakat ekonomi lemah, tentu hal ini tidak bisa dilakukan. Boro-boro mengurangi pos-pos pengeluaran yang bersifat kesenangan, pos-pos pengeluaran yang wajib saja seringkali sulit dipenuhi. Jadi kemungkinan besar, untuk masyarakat miskin pos ekonomi yang bersifat wajib yang nantinya akan dikurangi dengan sendirinya. Jika biasanya makan tiga kali sehari, akibat BBM bisa jadi intensitas makan akan berkurang menjadi dua kali sehari. Kalau sudah begini, masyarakat ekonomi lemah akan menjadi semakin lemah baik dari segi ekonomi ataupun fisik.

Saya berharap pemerintah mengurungkan niatnya menaikkan harga BBM. Meskipun saya tidak menafikkan dengan adanya pengaruh harga BBM dunia yang semakin melonjak. Beban subsidi seharusnya bisa diatasi jika pemerintah berani dengan tegas memberantas korupsi yang menyebabkan anggaran keuangan negara menjadi bocor, berani berhemat dan memangkas pengeluaran departemen yang bersifat tidak perlu dan cenderung mubadzir, mencontohkan gaya hidup sederhana agar rakyatnya bisa percaya bahwa pemerintah yang menjadi wakil mereka mengurus negara juga ikut merasakan penderitaan yang mereka alami, dan lain sebagainya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: