jump to navigation

Politik Odong-odong April 3, 2012

Posted by snhadi in Kursi Patah.
Tags:
trackback

Sebagian besar kita tentu mengenal baik odong-odong, apalagi anak-anak. Wahana hiburan masyarakat kelas bawah ini kerap kita jumpai dari mulai di pinggiran kota sampai pelosok pedesaan. Dengan 1000 rupiah, anak-anak kita bisa terhibur. Satu odong-odong biasanya ada kurang lebih empat atau enam kursi yang bisa ditempati anak-anak. Sementara si abang odong-odong berada di belakang sambil terus mengayuh agar odong-odong bisa selalu bergerak seirama dengan alunan musik nan membuat hati balita kita terbuai. Seringkali dalam satu tempat tidak cukup hanya ada satu odong-odong bergantung pada jumlah anak yang biasanya ada di tempat tersebut.

Lalu apa hubungannya odong-odong dengan politik di negeri ini? Bagi saya, situasi politik di negeri ini layaknya odong-odong. Partai-partai yang bergabung dalam sekertariat gabungan (setgab) seperti anak-anak yang sedang menikmati kebersamaan di odong-odong. Semuanya memiliki hak yang sama, tidak ada yang dilebihkan. Kalaupun ada perbedaan, paling dari segi usia atau bobot badannya saja, sementara hak mendapat perhatian dari abang si tukang odong-odong tidak berbeda. Sementara partai politik yang selama ini menjuluki diri mereka sebagai partai oposisi adalah anak-anak yang tidak kebagian jatah naik odong-odong karena jumlah bangkunya yang terbatas. Karena ingin mendapatkan kenikmatan yang sama, anak-anak ini tidak jarang mengganggu anak-anak yang duduk nyaman di atas odong-odong.

Karena beberapa kondisi, tidak selamanya anak-anak yang berada di dalam odong-odong merasa nyaman. Bisa karena alunan music dan nyayian yang diperdengarkan tidak lagi cocok di telinga mereka, atau abang odong-odong yang semakin kelelahan mengayuh, atau bisa juga karena melihat kondisi sekitarnya yang berubah misalnya diminta ibunya untuk turun karena sang ibu sudah kehabisan uang.

Saya menyoroti posisi PKS saat ini sama dengan salah satu anak yang tiba-tiba merasa bahwa kondisi sekitarnya membuat dia berpikir untuk suatu saat berhenti naik odong-odong. Kondisi ibu yang kehabisan uang (saya menganologikan untuk kondisi rakyat yang menjerit karena melambungnya harga kebutuhan pokok, meskipun harga BBM belum naik, apalagi nanti kalau sampai harga BBM jadi naik). Kondisi ini membuat PKS tidak lagi merasa nyaman menikmati ayunan dan alunan music di atas odong-odong. Meskipun bisa saja dia tidak mau turun dan membiarkan sang ibu mencari akal tambahan dengan cara apapun untuk memenuhi uang jajannya, karena sudah merasa nyaman di atas odong-odong.

Benarkah kondisi ini menjadikan PKS layak disebut sebagai pembelot dan pengkhianat, hanya karena perbedaan cara pandang dan kepekaan hati? Terus terang saya bukan simpatisan PKS apalagi kader, saya hanya ingin agar opini public menjadi seimbang, tidak berat sebelah. Bukannya Alloh SWT melarang kita memberlakukan orang lain secara tidak adil, hanya karena dilandasi factor kebencian?

Menurut saya sikap PKS dengan kader-kadernya yang loyal, masih jauh lebih baik dari orang-orang yang dibesarkan oleh suatu partai, kemudian karena ingin tujuan tertentu (sebagian besarkan meraih kekuasaan) memutuskan keluar dari partai tersebut dan masuk ke partai lainnya. Istilah lainnya adalah bajing loncat politik.

Yang unik, jika di tingkat pusat anggota setgab merasa kebakaran jenggot saat anggota setgab lainnya berpandangan berbeda, di tingkat daerah hal ini tidak berlaku lagi. Coba lihat, apakah ke enam parpol yang tergabung dalam setgab memilih pasangan yang sama untuk calon gubernur, misalnya cagub DKI Jakarta? Tidak bukan? Golkar mencalonkan Alex Nurdin, Demokrat mencalonkan Foke, sementara PKS mencalonkan Hidayat Nurwahid. Apakah ini bukan termasuk bentuk perbedaan yang masih bisa ditolelir setgab? Atau apakah istilah “pembelotan” atau “pengkhianatan” setgab hanya berlaku untuk tingkat pemerintahan pusat, sementara di tingkat daerah tergantung kebijakan anggota tingkat daerah yang bersangkutan?

Para elit seharusnya bercermin. Mereka ada di pucuk-pucuk pemerintahan dan duduk nyaman di gedung dewan karena pengorbanan masyarakat, bukan murni karena jerih payah mereka sendiri. Kalau kemudian sebagian masyarakat yang memilih mereka menghendaki harga BBM tidak naik, sudah sepantasnya lah mereka juga ikut aspirasi arus bawah bukan bermain-main dengan pasal-pasal yang bersayap dan cenderung menipu rakyat. Ingat bung, rakyat kita tidak lagi bodoh dan mau dibodohi! Janganlah menjadi politisi yang mengkhianati rakyat.

Yang lebih aneh lagi dua partai yang dari awal sudah gembar-gembor menolak kenaikan BBM, eh malah kabur saat pemungutan suara tinggal menghitung menit. Mana bentuk konsistensi terhadap kata-kata para elitnya bahwa tidak penting menang dan kalah, yang terpenting adalah berjuang demi rakyat. Ternyata semua omong kosong, PDIP dan HANURA malah ngacir dan takut kalah saat pemungutan suara pada saat rapat paripurna beberapa waktu lalu. Tinggal PKS dan Gerindra yang masih setia mendukung aspirasi rakyat, ditambah 2 orang dari fraksi PKB.

Menyaksikan semua itu, rakyat hanya bisa menatap dengan miris, beginikah wajah wakil rakyat kita? Sampai kapankah mereka benar-benar berjuang demi rakyat?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: