jump to navigation

Pembeli adalah Raja…Sebuah Doktrin yang Ketinggalan Jaman! April 13, 2012

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback

Dulu, saat saya belum terjun ke dunia usaha (meskipun saat ini pun masih baru tahap belajar), dalam benak saya selalu ada pikiran bahwa pembeli adalah raja. Jadi sangatlah wajar ketika kemudian saya menganggap diri saya (pembeli) derajatnya lebih tinggi dibanding penjual. Ibarat kata, raja itu bagaikan tuan jadi segala sesuatunya harus dilayani. Raja juga berhak memerintah dan menekan bawahannya agar tunduk dengan segala titahnya.

Sebagai pembeli yang di dalam benaknya selalu ada doktrin, “Saya adalah raja”, maka ketika saya membeli sesuatu maunya serba sempurna, ada sedikit saja kesalahan dari penjual, maka tanpa segan saya meninggalkan mereka. Tidak peduli pedagang itu mungkin telah berbuih-buih mulutnya menawarkan barang dagangannya kepada kita.

Ternyata tipe pembeli seperti saya tidak sedikit, bahkan jauh lebih banyak yang lebih buruk lagi. Ada pembeli yang menawar harga serendah-rendahnya sampai-sampai si pedagang hampir kehabisan nafas karena syok melihat barang dagangannya ditawar tidak sepadan dengan jerih payah yang telah dikeluarkan.

Tetapi kemudian semua berubah. Saya mulai menyadari bahwa bukan perbuatan yang membanggakan jika kemudian kita sanggup membuat pedagang tidak berdaya menolak tawaran kita meski dengan harga jauh dari harga pasaran. Bukan pula menjadi sesuatu yang patut disombongkan jika kita sanggup mengakhiri drama tawar menawar harga dengan sebuah kemenangan gemilang.

Perubahan tersebut bukan lantaran saat ini saya mulai merasakan suka dukanya menjadi pedagang. Tetapi lantaran saya membaca sebuah buku yang berjudul, “Muhammad Marketing”. Sungguh luar biasa, ternyata sejak lebih dari 1400 tahun lalu, sebuah konsep yang adil telah dihadirkan Islam melalui perantara nabi Muhammad SAW. Islam sejak 1400 tahun lalu telah mengupas tuntas bagaimana berinteraksi dengan orang khususnya dalam hal jual-beli.

Dalam islam, tidak seperti sistem kapitalis saat ini, ternyata tidak mengenal konsep, “Pembeli adalah raja atau sebaliknya pedagang adalah tuan”- sebuah konsep yang sering menghasilkan ketimpangan karena salah satunya seringkali menjadi tidak adil kepada yang lainnya.

Dalam Islam konsep kesetaraan posisi sangat diutamakan, entah dia pedagang atau pun pembeli. Tidak ada istilah salah satu pihak memiliki keistimewaan lebih dibanding pihak yang lain. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda, “

“Alloh mengasihi orang yang bermurah hati ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih (HR Bukhori)

Sungguh hadist ini membuka mata hati dan pikiran saya, bahwa kita tidak layak berlaku tidak adli (pada posisi apapun kita berada). Karena kedudukan antara pedangan dan pembeli setara. Ketika pedagang memahami benar hadist di atas, dia tidak akan semena-mena menaikkah harga barang dagangannya sehingga sulit terjangkau bagi masyarakat pada umumnya. Sementara sebagai pembeli tidak boleh juga menawar harga serendah-rendahnya meskipun dia tahu bahwa harga tersebut merupakan harga pasaran yang ada.

Bermurah hati di dalam menjual mengandung makna bahwa pedagang tidak melulu harus melihat berapa besar untung yang ingin diperoleh, yang pada akhirnya seringkali diwujudkan pada harga barang yang mahal. Pedagang yang baik adalah pedagang yang mengambil untung tidak membabi buta, karena misalnya yakin bahwa tidak ada pedagang saingan. Sehingga pada akhirnya memberatkan pembelinya, apalagi jika barang tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Bermurah hati ketika membeli memiliki makna bahwa kita tidak boleh semena-mena dalam menawar harga. Jangan karena merasa kita adalah raja yang harus dilayani, kita bisa menekan pedagang seenaknya saja, sehingga mau menjual barang dagangannya dengan nominal rendah. Apalagi jika kita tahu pasti bahwa banyak pedagang dengan produk yang sejenis.

Dalam Islam, untung berupa materi bukan segalanya. Tetapi hubungan yang baik, yang harmonis antara pembeli dan penjual adalah prioritas utama yang ingin dicapai. Karena jika hal ini bisa terwujud, pintu-pintu rejeki akan semakin terbuka lebar bagi keduanya.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: