jump to navigation

Smart Phone, “Musuh” Tersembunyi December 23, 2012

Posted by snhadi in Kursi Patah.
Tags:
trackback

Lunch bareng SahabatDalam sebuah sesi dialog komersial di salah satu stasiun televisi swasta, salah seorang pemasar smart phone dengan bangga mengatakan, “smart phone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita”. Di mana pun kita berada, smart phone selalu hadir menemani. Bahkan di acara spesial pun misalkan kumpul makan-makan bareng keluarga atau sahabat, smart phone tak pernah absen bergabung meramaikan suasana.

Bagi saya itu bukan suatu kebanggaan. Saya bukan anti smart phone, bahkan saya suka sekali dengannya. Tetapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa kita begitu bergantung padanya. Saat kita kumpul makan bersama bareng keluarga atau teman misalnya, smart phone seolah telah merampas kehangatan suasana karena seringkali kita lebih asyik bercengkrama dengan smart phone kita dan melupakan kehadiran orang-orang di sekiling kita. Obrolah basa-basi dengan teman semeja pun seolah menjadi mati, karena kita lebih asyik mengobrol dengan orang lain via smart phone, yang bahkan keberadaan mereka pun seringkali kita tidak mengetahuinya.

Saat kita menunggu bus, atau kegiatan yang menghadirkan kita di tempat yang penuh khalayak ramai, kita seakan tidak menyadari dan seolah kita hidup menyendiri dan asyik bermain bersama smart phone kita. Tak ada lagi tegur sapa dan percakapan ringan dengan orang-orang sekitar. Tak ada lagi senyum tulus kita terlontar untuk mereka, hanya senyuman tipis tersungging, itupun kita persembahkan untuk smart phone kita saat hal-hal menarik tiba-tiba muncul dalam pesan-pesan singkat di hand phone kita. Padahal smart phone tak pernah bisa membalas senyum kita, atau orang di seberang telepon mungkin tak pernah tahu bahwa kita tersenyum untuknya.

Mencintai smart phone bukan hal yang salah. Tetapi bukan hal yang tepat pula jika kita tidak bisa menempatkan interaksi dengannya  secara baik. Kita boleh saja bercengrama seharian dengan smart phone kita, tetapi tentu kita harus pula bisa menghargai kehidupan sosial kita. Tidak sulit bukan, dalam 1 jam acara makan malam dengan sahabat atau keluarga, kita menyimpan dulu smart phone kita dan fokus pada suasana kekeluargaan yang ada? Karena di luar waktu itu masih banyak waktu tersisa untuk bercengkrama dengan smart phone tercinta kita.

Yang perlu kita catat, smart phone hadir untuk membantu kelancaran kita dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari, bukan untuk merampas kehangatan interaksi kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Smart phone seharusnya memintarkan kita bukan malah sebaliknya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: