jump to navigation

Tuhan Telah Memilihmu… May 28, 2013

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan, Senyuman Cinta.
Tags: , , ,
trackback

Bintan Beach1Saat mendengar kabar isteri akan menjalani kuretase, saya pikir ini adalah cobaan terberat yang menimpa saya dan keluarga. Maklum saja, keberadaan buah hati tentu menjadi harapan dan dambaan setiap pasangan suami isteri, termasuk juga kami. Tetapi Alloh SWT berkehendak lain, DIA “mengambil”nya setelah lima atau enam minggu menitipkannya kepada kami. Sebagai manusia, kami tentu sedih, namun kehadiran anak mutlak hak prerogratif Alloh SWT meski kami telah berusaha dan berdoa sekuat dan seoptimal yang kami mampu.

Beruntung kami dikelilingi orang-orang yang tak henti-hentinya memberikan semangat, doa, dan dukungannya. Hal itu tentu memberikan dorongan tambahan yang menjadikan kami Insya Alloh lebih kuat dalam menjalaninya. Belum lagi kisah inspiratif beberapa kolega yang menuturkan ujian Tuhan yang ternyata jauh lebih besar dibanding ujian yang ditimpakan Alloh SWT kepada kami.

Seorang rekan dosen, yang bahkan usianya masih lebih muda dibanding saya, dengan ketegaran yang dimilikinya membagi kisahnya kepada saya. Kisah yang berisi rangkaian ujian keimanan Tuhan kepadanya dan keluarga, yang mengharuskan suaminya terapi dengan biaya puluhan juta rupiah karena kanker stadium empat yang menyerang ginjalnya. Bahkan kanker tersebut kini telah menyebar melalui darah ke organ-organ dalam suaminya. Belum lagi ujian lain yang menimpa anaknya yang terlahir dengan kelainan genetika berupa alergi hebat, bahkan terhadap debu sekalipun. Rekan saya harus benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada sang anak yang juga alergi terhadap beberapa macam protein dan kepada sang suami yang dalam bahasanya “tinggal menunggu gong waktu” – meskipun kapan datangnya maut, hanya Alloh SWT yang tahu, di tengah kesibukannya selaku dosen di sebuah perguruan tinggi negeri.  Semangat dan ketegarannya membuat saya merasa malu jika harus mengeluh dan terpuruk terhadap ujian Tuhan yang menimpa saya dan keluarga.

kanker-ginjal

Stadium I-IV pada kanker ginjal

Begitu pula kisah ujian yang dituturkan kolega lainnya, yang harus menerima kenyataan bahwa anak pertamanya lahir menyandang down syndrome. Meski awalnya bapak muda yang satu ini tidak terima takdir Tuhan yang dialami keluarganya, namun lambat laun kepasrahan akan kuasa Tuhan membuat dia dengan kecintaan yang mendalam tetap merawat dengan baik anaknya tersebut, hingga saat ini usianya sudah mencapai 9 tahun. Anak yang dulu beliau kira akan membuat malu dan merepotkan, ternyata tumbuh menjadi anak yang kuat (jarang sakit) dan mendatangkan banyak keberkahan kepada keluarganya.

Down Syndrome

Ciri anak dengan Down Syndrome

Kalau ditanya kepada mereka, apa yang membuat mereka pada akhirnya menerima dengan ikhlas takdir Tuhan yang sebagian orang menganggapnya sebagai takdir “kurang beruntung”, jawabnya hanya satu, “Tuhan telah memilihmu”. Tuhan telah memilih isteri dan saya merelakan calon anak kami kembali ke pangkuan-Nya. Tuhan pula yang telah memilih rekan dosen saya memiliki suami pengidap kanker ginjal stadium empat (kanker dengan populasi sangat jarang diderita manusia, hanya berkisar 1% dari beragam kanker yang ada) dan anaknya yang alergi berat makanan bahkan debu, yang populasinya juga hanya 1% diidap penduduk bumi. Tuhan juga yang memilih kolega saya mempunya anak down syndrome, yang populasinya hanya 1 di antara 700 kelahiran anak di dunia.

Ketika Alloh SWT telah memilih, sudah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Alloh SWT juga sudah pasti tahu bahwa yang “terpilih” akan menjadi manusia kuat dan mampu menghadapinya, bukan manusia lemah yang terus menerus menghiasi hari-harinya dengan keluh kesah dan penyalahan terhadap takdir Tuhan.

Sebagai manusia biasa, saya dan isteri berharap ujian yang Alloh SWT anugerahkan bisa menjadi peluruh dosa-dosa kami, membuat keimanan kami semakin tebal dan kokoh, menaikkan derajat kami sekeluarga, dan semoga Alloh SWT menyiapkan gantinya dan menganugerahkan kami keturunan yang banyak, yang jauh lebih baik dan indah pada waktunya. Keturunan yang Insya Alloh kelak akan menjadi anak-anak yang sholeh yang berbakti kepada agama, bangsa, dan orang tuanya. Aamiin.

Sebuah doah penutup tulisan ini, “Terima kasih ya Alloh atas semua nikmat dan karunia yang tak pernah putus Engkau limpahkan kepada kami dan keluarga. Jadikanlah kami menjadi manusia yang senantiasi bersyukur dan termasuk kepada golongan orang-orang sholeh. Aamiin”.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: