jump to navigation

Saat Yang Murah Belum Tentu Murahan… July 9, 2013

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags: ,
trackback

Sekolah GratisSenin malam, 8 Juli 2013 saya tergerak hati menarikan jari-jari saya di atas tombol-tombol keypad komputer jinjing saya yang sudah mulai usang setelah di hari yang sama saya membaca sebuah berita di koran daerah yang menurut saya sangat menarik.

Dengan judul yang cukup apik, “Murid Sekolah Gratis Mampu Meraih Nilai Sempurna”, koran ini berusaha mengungkap realita dunia pendidikan kita. Di saat banyak dari kita masih beranggapan bahwa sekolah mahal dengan biaya masuk dan SPP selangit pasti akan mencetak lulusan terbaik dan menjadi favorit, sementara sekolah dengan biaya seadanya atau mungkin tak dipungut sumbangan sama sekali diragukan kualitas jebolannya, Sekolah Gratis Kuncup Melati di Semarang justru membalikkan anggapan ini.

Lulusan sekolah dasar ini bahkan sanggup bersaing dengan lulusan sekolah dasar swasta di Semarang, bahkan mungkin di Indonesia. Di ujian nasional tingkat sekolah dasar yang diselenggarakan beberapa bulan lalu, salah satu lulusan sekolah gratis yang sering dipandang sebelah mata ini bahkan mendapat nilai sempurna (10) untuk mata pelajaran matematika dan 9 untuk bahasa Indonesia!

Dari dulu sampai saat ini, saya masih mempercayai bahwa kualitas itu bisa terus diasah, sekurang apapun kualitas awalnya dan seminim apapun fasilitas pendukungnya. Saya meyakini bahwa pisau setumpul apapun akan bisa menjadi tajam jika secara terus menerus diasah, terlepas pisau itu diasah di tempat asahan khusus yang berharga mahal ataupun hanya diasah di atas sebuah batu kali yang dianggap tak bernilai.

Yang menjadi faktor kunci adalah kita (pendidik) mau tidak secara telaten mengasahnya, bukan malah terfokus kepada kualitas bahan utama pisau yang akan kita asah dan fasilitas yang digunakan untuk mengasahnya.

Bagi guru dan dosen di sekolah dan perguruan tinggi dengan kualitas awal anak didik yang memang sudah cukup tinggi, akan sangat mudah mengantarkan anak didiknya menjadi lulusan dengan kualitas mumpuni. Sementara guru di sekolah dengan kategori kelas pertengahan atau bawah, yang kualitas anak didiknya bisa jadi seadanya, mengantarkan mereka menjadi lulusan berkualitas adalah tantangan tersendiri. Selain membutuhkan kesabaran juga membutuhkan motivasi yang kuat dari seorang pendidik.

Sejujurnya saya merasa kecewa ketika ternyata masih ada saja pendidik yang beranggapan bahwa kualitas awal peserta didik adalah segalanya. Seolah-olah bahwa raw material seadanya dengan motivasi belajar siswa yang kadang seadanya tak bisa menjadikan anak didik kita menjadi jebolan yang berkualitas super dan bisa bersaing dengan jebolan sekolah-sekolah favorit. Kalau pendidiknya saja kekurangan motivasi dan pesimistis, apa jadinya anak didiknya kelak?

Sepengalaman saya di dunia swasta, lulusan perguruan tinggi favorit tidak menjamin lulusannya menjadi favorit! Bahkan perguruan tinggi yang dinilai biasa seringkali menghasilkan lulusan yang jauh lebih baik dan bisa diajak maju bersama. Jadi kualitas raw material hanya menyumbang sebagian kecil dari kualitas anak didik, bukan faktor penentu utama. Masih selalu ada harapan untuk menghasilkan lulusan anak didik yang lebih baik dan berkualitas, selama masih ada kemauan dan motivasi positif yang kuat dari para pendidiknya.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: