jump to navigation

“TIMNAS”, di antara Bisnis dan Prestasi! July 16, 2013

Posted by snhadi in Kursi Patah.
Tags:
trackback

TIMNASKekalahan telak 7-0 “TIMNAS” sepakbola kita oleh klub elit Inggris, Arsenal, beberapa hari lalu dan kekalahan 3-0 atas TIMNAS Belanda pada pertandingan sebelumnya tidak perlu disesali. Bahkan jika tim selanjutnya seperti Chelsea atau Liverpool jadi datang ke tanah air dan melakukan laga persahabatan dengan “TIMNAS” kita, saya meyakini kekalahan yang sama juga bakal terulang (kecuali ada faktor lain di luar kertas).

Semua ini bukan kesalahan “TIMNAS”-nya. Mereka sudah berjuang habis-habisan, mengeluarkan tenaga dan pikiran, bahkan taktik dan strategi. Namun lantaran memang “TIMNAS” kita masih kalah telak dalam hal teknik, fisik, ataupun strategi, sangat wajar jika mereka kesulitan meraih kemenangan, bahkan bisa mengimbangi permainan tim-tim elit sepakbola dunia itu saja relatif sukar.

Bagi saya kedatangan tim-tim elit sepakbola atau tokoh-tokohnya, lebih kental aroma bisnis dibanding dengan visi untuk memperbaiki kualitas permainan sepakbola pemain kita. Para promotor ini bukannya menutup mata tentang kualitas “TIMNAS” kita yang belum selevel dengan tamu undangannya. Namun aroma keuntungan terlalu menggiurkan untuk disepelekan. Dengan bisa mendatangkan para “selebritis” sepakbola dunia ini ke tanah air, keuntungan besar akan bisa direguk. Terlepas akan dipermalukan atau tidaknya “TIMNAS” kita oleh mereka.

Siapapun tahu, masyarakat kita sangat cinta sepakbola. Bahkan mereka tak segan-segan mengeluarkan isi kantong hanya demi melihat secara langsung tim-tim elit dunia yang selama ini hanya bisa mereka lihat lewat televisi. Tak peduli “TIMNAS” mereka bakal kalah atau menang, raut muka senang akan tetap tampak di wajah-wajah para suporter fanatik ini. Bagi mereka kekalahan “TIMNAS” dianggap wajar dan biasa saja. Mereka jauh lebih tertarik melihat atraksi sang tamu di lapangan hijau.

Bagi dunia hiburan dan bisnis, mungkin hampir tak ada nilai negatif yang akan didapat. Namun sebaliknya bagi dunia persepakbolaan di negeri ini khususnya “TIMNAS”, hal ini bisa menjadi preseden buruk. Bertanding dengan tim-tim yang levelnya jauh di atas mereka justru mungkin akan merusak mental mereka. Mereka merasa sudah berjuang habis-habisan, tetapi ujung-ujungnya tetap kalah, bahkan kalah banyak. Ini yang akan membuat mental mereka drop. Apalagi jika kemudian lawan-lawan tanding selanjutnya juga memiliki kelas serupa, jauh dari kualitas “TIMNAS”. Bisa-bisa mereka akan merasa kecil hati (minder) duluan sebelum bertanding. Dan ini pantangan bagi sebuah tim yang akan bertanding!

Lebih arif jika “TIMNAS” kita diperlakukan lebih adil dengan menyediakan lawan tanding yang sepadan. Kalaupun harus dihadapkan dengan tim dengan level di atasnya, jangan sampai levelnya terlalu jauh. Saya yakin masih banyak tim-tim elit Asia Tenggara ataupun Asia yang bisa dijadikan lawan tanding seimbang bagi TIMNAS kita. Bisnis memang menggiurkan, tetapi kalau itu ujung-ujungnya akan membuat kualitas permainan TIMNAS tidak membaik bahkan cenderung memburuk, sudah selayaknya itu dikesampingkan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: