jump to navigation

Pujian Yang Melenakan September 26, 2013

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback

Pujian

Sebagian kita merasa sangat senang jika pujian atas apa yang kita lakukan dialamatkan kepada kita. Tidak sedikit pula, pujian dari rekan, sahabat, teman, atau orang-orang sekitar membuat kita terlena. Membuat kita seakan sudah berada pada titik paling tinggi, titik yang sebagian besar orang menyebutnya dengan kesuksesan.

Terlepas dari tulus atau tidaknya sebuah pujian yang diberikan orang lain kepada kita, pujian bisa membuat kita mabuk dan terbuai. Bahkan bisa jadi membuat kita melupakan cita-cita yang jauh lebih tinggi.

Seorang pemilik kawasan industri ternama di Batam pernah berkata kepada saya saat kebetulan kami berada dalam suatu ruangan rapat. Menurut beliau, kita jangan terlena dengan kata sukses yang diarahkan orang kepada kita. Karena pada hakikatnya sukses itu tidak ada. Karena setiap kita berhasil mencapai tujuan kita (yang menurut orang lain merupakan suatu kesuksesan), kita harus kembali melangkah untuk menggapai tujuan yang lebih tinggi. Dan ini akan terus dan terus kita kejar sampai pada akhirnya kita meninggalkan dunia. Saat itulah kita bisa dianggap sukses karena perjuangan kita di dunia telah berakhir.

Kata-kata yang meluncur santai dari mulut salah satu pengusaha sukses asli Kepulauan Riau itu (yang beristerikan orang Singapura), membuat saya tidak gampang terlena akan pujian kesuksesan yang diberikan orang lain kepada saya. Jika saya terlena, dimungkinkan saya tidak bisa mencapai cita-cita demi cita-cita yang didambakan.

Saat masih menuntut ilmu di Jogja, teman-teman saya yang asli Jogja dan lulusan universitas favorit di sana sering memberikan pujian kepada saya. Menurut mereka latar belakang saya yang berasal dari sebuah institut, yang menurut sepengetahuan mereka terkenal dengan mahasiswanya yang sangat “gila” belajar, akan memudahkan saya menggapai sukses saat belajar di universitas mereka. Meskipun saya tahu, pujian ini murni karena kekaguman mereka, namun tidak lantas membuat saya “jatuh” dalam bayang-bayang kepuasan. Saya tetap fokus menggapai tujuan saya, bisa lulus dalam waktu singkat dan dengan predikat terpuji.

Uniknya, teman-teman saya, yang sering memuji saya, ternyata justu merupakan lulusan terbaik program studi kami. Bahkan salah satu di antaranya mendapatkan nilai nyaris sempurna, 3.96 (skala 4.0). Sementara yang lainnya dalam tahun pertama memiliki IPK 4.00 sebelum akhirnya di tahun kedua memilih pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi dengan beasiswa. Coba bayangkan jika pujian-pujian tulus mereka membuat saya sampai terlena, bisa dipastikan saya tidak akan bisa lulus sesuai target yang saya inginkan. Syukur saya bisa mencapai tujuan saya sembari kembali melangkah untuk menggapai tujuan-tujuan berikutnya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: