jump to navigation

Tanda Cinta dari Seorang Teman untuk para Pendidik January 20, 2014

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
trackback
Kompas.com

Kompas.com

Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bahkan untuk berkata pun, lidah seakan kelu. Baru kali ini saya memberanikan diri memberikan komentar.

Saya sangat memahami perasaan kalangan dosen akhir-akhir ini yang merasa menjadi anak tiri remunerasi di kemendikbud. Saya juga sangat memahami anggapan beberapa rekan pendidik bahwa upaya pemerintah untuk mensejahterakan para dosen dianggap setengah hati. Terlihat dari program sertifikasi dosen (serdos) yang semakin berat saja persyaratan dan pertanggungjawabannya.

Namun saya juga sangat memahami, pemerintah yang dalam hal ini kemendikbud terus melakukan upaya perbaikan. Perbaikan yang diharapkan akan membawa kebaikan. Perbaikan yang dalam perjalanannya jangan sampai menghabiskan seluruh anggaran demi membiayai gaji para pegawainya (menurut sumber saat ini 70% anggaran digunakan untuk menggaji para pegawai), hingga program-program mencerdaskan anak bangsa lainnya bisa terbengkalai.

Saya berterima kasih untuk rekan-rekan dosen yang begitu peduli akan nasib kalangan pendidik di negeri ini. Di sisi lain saya juga berterima kasih untuk pemerintah yang terus-menerus tanpa henti mentransformasi diri untuk menjadi lebih baik.

Jika saya ditanya, “Anda sebenarnya ada di pihak mana?”. Maka saya akan menjawab, “Saya mendukung siapapun yang berada pada jalur yang benar”. Ketika mungkin ada pertanyaan lanjutan yang diajukan,”Memangnya Anda tidak ingin para dosen hidupnya lebih sejahtera?”. Saya akan menjawab,”Tentu sangat ingin. Agar dosen tak lagi harus berpikir macam-macam untuk sekedar membuat asap dapurnya mengepul. Agar dosen fokus kepada pekerjaan yang diamanatkan kepadanya: pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Agar tidak lagi ditemukan dosen yang menyambi jadi kontraktor atau pedagang atau barangkali menjadi “tim ahli” dalam membuat skripsi mahasiswa dengan bayaran jutaan rupiah”.

Sejujurnya, saya senang jika kemudian para dosen memperoleh penghasilan yang tinggi, yang berdampak kepada semakin sengitnya persaingan menjadi dosen dan pada akhirnya yang berhasil lolos menjadi dosen memang benar-benar kompeten dan punya komitmen mencetak generasi penerus dan pelurus bangsa yang handal. Saya tidak ingin, pekerjaan menjadi tenaga pendidik kemudian ditinggalkan anak-anak muda yang potensial karena kesejahteraan yang dianggap kurang dibanding bekerja di perusahaan swasta, bumn, ataupun wiraswasta. Dampaknya minat menjadi dosen menjadi sangat rendah. Ini akan berujung kepada lahirnya dosen-dosen yang asal-asalan tanpa dibekali kompetensi yang mumpuni.

Tetapi saya juga tidak ingin, para dosen terjebak kepada perjuangan menuntut materi semata, sementara pekerjaan banyak terbengkalai. Menginjakkan kaki di kampus pun bisa dihitung dengan jari. Keluhan mahasiswa tentang sulitnya mencari waktu bertemu dianggap hanya angin lalu. Atau melakukan bimbingan kepada mahasiswa sekedarnya saja. Saya tidak ingin para dosen terjebak pada keinginan dilayani, sementara kesiapan melayani tidak kunjung diperbaiki.

Saya percaya para dosen adalah manusia-manusia terbaik bangsa. Bekerja bukan sekedar mencari nafkah tetapi berkah. Bekerja bukan sekedar mencari koin tetapi poin di mata Tuhan, bukan manusia.

Saya percaya, materi bukan segalanya. Ada hal lain yang lebih berharga yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan mulia ini. Saya tidak mengapa jika dianggap munafik oleh orang yang mungkin menganggap saya seakan tidak doyan harta, padahal di dalam hatinya mengharapkan, bahkan menuntutnya. Bagi saya silakan orang menganggap diri saya seperti apapun. Saya tidak akan terpengaruh. Bekerja dengan gaji besar, bahkan lebih dari 4x gaji dosen yang saya terima saat ini, pernah saya jalani. Tetapi toh pada akhirnya saya tetap memilih jalan ini dengan segala konsekuensi yang diterima.

Bagi saya, sekali lagi, tugas menjadi pendidik adalah pekerjaan mulia, yang karenanya bisa mendekatkan kita kepada Sang Pencipta, Alloh SWT.

Advertisements

Comments»

1. aya - January 30, 2014

komen tanda sayang
sy sedikit menangkap ttg bagaimana memposisikan diri yg terbaik bagi seorang pendidik dlm menyikapi “kebijakan” dari petinggi kemdikbud.
Sy sangat percaya bahwa perjuangan teman2 dosen itu tidak terkait dengan mengejar materi yg tak seberapa nilainya (malah bisa jadi nol) bagi yg telah tersertifikasi, karena memang bukan menuntut tunjangan dobel supaya bisa hidup mewah. Ada ketidakpekaan dlm kebijakan ini dan menyentuh sisi keadilan yg terabaikan
Sebagian teman2 dosen bersimpati pada teman sejawat mereka yg tak tersentuh oleh kebijakan ini, misalnya teman2 dosen yg belum sertifikasi dan yg menunggu giliran sertifikasi. Siapa yg membela mereka? siapa yg menghibur mereka? mereka terlupakan oleh “orang tuanya” sendiri.
Bagaimana dengan mereka yg sedang tugas belajar? yg tunjangannya harus dilepas, ini seperti mendorong ke depan tapi kaki dicantoli beban. Masih bisa maju tapi dengan berdarah-darah.

sy pikir motivasi terbesarnya adalah rasa trenyuh betapa sebagian tmn sejawat mereka ditinggal begitu saja tanpa ada sapaan sedikitpun.

aya - January 30, 2014

mohon izin sy beri ilustrasi
dengan prinsip tak ada duplikasi tunjangan, maka sebenarnya jika pun kebijakan itu tak mengecualikan dosen (guru peg daerah) maka kebijakan itu akan baik2 saja, karena dosen hanya akan menerima salah satu diantara TUKIN atau TProfesi. Untuk besaran tukin seperti sekarang(47%) ini dipastikan tunjangan profesi lebih besar dari tukin, sehingga dosen hanya akan menerima tunjangan profesi saja (krn ga blh duplikasi, hanya salah satu).
Tetapi bagi yg belum sertifikasi sudah tentu tukin sangat berarti, karena belum mendapat tunjangan apa2.
Pengecualian pada dosen (yg hanya terjadi di kemdikbud) telah menyebabkan kelompok ini dianggap tidak ada. Padahal mereka ada, dan kekerja seperti pns kemdikbud lainnya.
Sy jg sangat heran kenapa ada kegalauan p mentri karena 70% anggaran habis “hanya” untuk gaji. Itulah gunanya anggaran, salah satunya untuk membayar ongkos “proses”. Jika ongkos proses lebih tinggi dari pada biaya membangun tempat proses itu berlangsung, itulah pendidikan. Membangun manusia itu tak pernah berhenti dan dalam rentang waktu yang jauh lebih lama dari pada membangun gedung. Itu sebabnya gaji menjadi komponen yg besar dlm pendidikan. Menjamin bahwa proses itu berlangsung secara berkualitas jauh lebih penting nilainya. Dan kualitas proses itu ada pada manusianya.
Anggaran pendidikan 1 tahun cukup untuk membangun 3 buah jembatan selat sunda. Tetapi membangun jembatan menuju kejayaan Indonesia jauh lebih mahal p mentri.
Beliau lupa kalau institusi besar yg namayanya Kemdikbud itu didirikan untuk menjamin berlangsungnya proses pembelajaran bangsa yg besar ini.
…… mohon maaf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: