jump to navigation

Menjelajahi Lingkar Perut Slamet February 13, 2014

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
trackback
Kabut di Siang Hari

Kabut Siang di Kaligua

Saat kecil sampai seusia sekolah menengah atas, saya banyak menghabiskan waktu di Cirebon. Saya sudah terbiasa melihat pemandangan Gunung Ciremai yang berdiri tegak nan anggun. Warna birunya dari kejauhan begitu menggoda para pendaki menaklukkannya.

Begitu pula saat saya menghabiskan masa kuliah di Bogor, pemandangan gunung biasa ditemui. Bahkan di daerah ini ada beberapa gunung yang mengelilingi, membuat hawa nya sejuk dan menyegarkan. Hal yang sama pula saya rasakan saat tinggal di Yogyakarta selama menuntut ilmu lanjutan di sana. Gunung Merapi begitu gagah berada di kejauhan, sebelum akhirnya meletus dan menghancurkan desa-desa di sekitarnya.

Tuhan sepertinya memang menakdirkan saya hidup di wilayah yang dekat dengan gunung. Setelah sekitar 8 tahun melanglang buana, termasuk ke wilayah Kepulauan Riau (Batam), akhirnya saya berlabuh di Purwokerto, kota kecil di Jawa Tengah, tidak jauh dari Cirebon, tempat saya banyak menghabiskan hidup (2,5 jam perjalanan kereta, 4-5 jam perjalanan mobil). Kota yang terkenal dengan tempe mendoan, lanting, dan getuk gorengnya ini membuat saya kembali menikmati suasana tinggal di wilayah ketinggian.

Purwokerto

Adalah Gunung Slamet (tinggi 3.428 dpl)  berdiri gagah dan menantang yang menjadi latar belakang kota Purwokerto. Gunung berapi yang menjadi gunung tertinggi di Jawa Tengah dan masih aktif ini termasuk gunung dengan lingkar perut yang cukup besar. Selain Purwokerto, ada beberapa daerah lain yang mengelilinginya: Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Banyumas, Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang. Menariknya, beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan menjelajahi lingkar perut Gunung Slamet ini.

Gunung Slamet

Gunung Slamet (Wikipedia)

Bersama tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kami menyusuri jalan lingkar perut Gunung Slamet. Perjalanan kami bertujuan mengunjungi beberapa daerah di kaki gunung untuk melihat potensi apa yang bisa dikembangkan di sana, yang sekiranya mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.

Ada tiga lokasi yang sempat kami kunjungi. Lokasi pertama adalah dataran tinggi Kaligua di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Ketinggiannya ± 1200 meter dpl. Dari lokasi ini kami bergerak menuju lokasi kedua, yaitu Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Desa yang dikenal sebagai salah satu pintu pendakian menuju puncak Gunung Slamet ini memiliki ketinggian ±1200 meter dpl. Tidak puas sampai di sini, kami kembali “mendaki” menuju tempat yang lebih tinggi. Desa terakhir yang kami kunjungi adalah Desa Pulosari 3, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Desa yang terlihat baru dibuka ini memiliki ketinggian ± 1800 meter dpl.

Kaligua

Kaligua

Desa-desa yang kami kunjung relatif masih sedikit dihuni penduduk. Mata pencaharian mereka adalah bertani. Uniknya meskipun sama-sama petani dan tinggal di daerah ketinggian, komoditas pertanian yang dibudidayakan berbeda. Untuk wilayah Kaligua, masyarakat setempat mengembangkan bawang daun dan kentang sebagai komoditas andalan. Sementara untuk wilayah Desa Penakir dan Purwosari, komoditas utama yang mereka budidayakan adalah kubis, cabai, dan bawang daun. Meskipun ada yang menanam jagung, tetapi hanya sebatas untuk dikonsumsi sehari-hari penduduknya.

Kabut di Penakir

Kabut Sore di Perkebunan Kubis, Desa Penakir

Desa-desa di kaki Gunung Slamet ini sangat potensial dikembangkan. Masyarakatnya pun sangat terbuka terhadap pihak-pihak yang mau bekerjasama. Tentu ini menjadi modal yang sangat baik bagi para peneliti dari kampus.

Sore hari, selepas Ashar, kami memutuskan turun dan kembali ke Purwokerto, melalui wilayah Pemalang dan Purbalingga (saat berangkat kami memilih jalan berbeda: Purwokerto – Banyumas – Brebes – Tegal – Pemalang). Kalau dihitung-hitung, dari pagi sampai petang hari, kami sudah menjelajahi lingkar perut Gunung Slamet. Sebuah perjalanan yang menarik dan mudah-mudahan memberikan manfaat. Saya berharap suatu saat bisa kembali menjelajahi wilayah-wilayah ini, terutama beberapa daerah yang selama perjalanan kemarin tidak sempat disinggahi.

Advertisements

Comments»

1. Maskur - April 1, 2014

indah
aku malah belum pernah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: