jump to navigation

Satinah dan 21 Milyar Harga Kebebasannya! April 2, 2014

Posted by snhadi in Kursi Patah.
Tags: , ,
trackback

20140325_165504Sebuah pelajaran berharga dari negeri Arab. Betapa beratnya hukuman bagi orang yang menghilangkan nyawa seorang anak manusia. Kasus teranyar adalah yang menimpah Satinah, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi,  yang harus membayar denda (diyat) jika ingin terbebas dari hukuman mati.

Kasus denda yang disyaratkan pihak keluarga korban untuk melepaskan Satinah dari hukuman pancung hingga 21 milyar rupiah (sekarang konon kabarnya diturunkan menjadi 15 milyar) sontak membuat mata kita terbelalak. Benarkah begitu besar denda yang dibebankan? Secara angka, 21 milyar tentu bukan angka yang sedikit. Tetapi bagi nilai kemanusiaan, nyawa seseorang tentu tidak bisa dinilai dengan milyaran juta rupiah. Terlepas latarbelakang apa yang membuat Satinah membunuh majikannya, tetapi secara hukum tindakan melenyapkan nyawa seseorang tetap tidak bisa dibenarkan, sehingga sangat wajar jika pihak keluarga korban meminta ganti rugi kalau Satinah ingin selamat dari hukuman mati.

Berbeda di Arab, berbeda di negeri ini. Hukuman bagi pembunuh masih tergolong ringan. Hukuman mati hanya akan diterapkan bagi yang melakukan kejahatan pembunuhan berencana, itu pun jarang diterapkan. Sementara bagi yang melakukan pembunuhan secara sengaja namun tidak direncanakan, paling-paling hukumannya kurungan penjara belasan tahun.

Hukuman yang masih tergolong ringan ini membuat kasus pembunuhan kerapkali terjadi di negeri ini, bahkan karena masalah yang teramat sepele. Karena uang ribuan atau persoalan percintaan saja, nyawa orang bisa melayang. Nyawa manusia seolah tak berharga. Orang tidak berpikir 1000 x untuk menghabisi kehidupan orang lain.  Padahal jika merujuk pada ajaran agama, membunuh satu nyawa manusia yang tidak berhak dibunuh sama saja dengan membunuh nyawa seluruh umat manusia!

Kasus Satinah, memberikan kita hikmah yang sangat berharga. Membunuh nyawa manusia bukan perkara sepele, maka jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Justru kita harus berpikir membela hak manusia untuk hidup dan menjaganya sebagai bentuk rasa cinta kepada Sang Pencipta.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: