jump to navigation

Ketika Ingin Menyerah di Ujung Usaha June 27, 2014

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan, Senyuman Cinta.
Tags: , ,
trackback
Sumber: Voa-islam

Sumber gambar: Voa-islam

Suatu siang, seorang mahasiswa mendekati saya. Raut muka kebingungan tampak di wajah mudanya. Sebagai seseorang yang pernah mengenyam bangku kuliah dan banyak berinteraksi dengan mahasiswa, saya sudah dapat menangkap ada asa yang ingin disampaikan.

Dengan sedikit pancingan, akhirnya keluarlah semua unek-uneknya. Kalau unek-unek tersebut bersifat pribadi, misalnya masalah percintaan dan sejenisnya, saya mungkin tidak terlalu mengambil pusing. Tetapi ternyata unek-uneknya lebih banyak kepada kegalauan mengenai tugas akhir (skripsi) nya yang tak kunjung usai.

Saya kemudian berinisiatif menggali lebih jauh alasan skripsinya belum juga selesai. Ternyata permasalahan tersebut bukan lantaran kemalasan dirinya. Tetapi lebih kepada rasa kekurangpercayaan diri dalam melakukan penelitian skripsinya. Mahasiswa ini, sebut saja Untung, merasa penelitiannya berbeda dibanding teman-teman mahasiswa pada umumnya. Dia merasa background ilmu yang selama ini diperoleh dari bangku kuliah tidak sampai mampu memback up dengan baik penelitiannya. Dia lebih cenderung menggali sendiri ilmu-ilmu baru yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Karena belajar otodidak dan hanya sedikit mendapatkan bimbingan dosen (dia merasa dosen pembimbingnya kurang optimal membantunya di dalam memahami ilmu-ilmu baru tersebut), maka dia merasa was-was dan di hatinya timbul prasangka, jangan-jangan pemahamannya terhadap ilmu barunya tersebut melenceng atau tidak tepat. Ini berujung kepada ketakutannya salah melangkah dalam melakukan penelitian.

Keadaan ini membuatnya harus berjalan tertatih-tatih untuk menyelesaikan skripsinya. Kegalauannya bertambah ketika orang tua, selaku panyandang dana kuliahnya, terus menanyakan kapan waktu kelulusan tiba. Ini menghasilkan tekanan besar pada dirinya. Sementara ini tekanan tersebut dapat “diatasinya” dengan cara “menjauh” dari keluarganya (jarang pulang kampung). Pada kondisi tertentu terlintas di pikirannya untuk menyerah, meninggalkan skripsi “unik” nya dan mengganti dengan topik skripsi yang lebih umum yang memudahkannya cepat mentas dari kampus.

Sebagai seorang yang pernah juga mengalami hal-hal seperti ini, mau tidak mau saya wajib memberikan suntikan moral kepadanya. Saya katakan kepadanya, coba dipikirkan, skripsi itu berapa persen dari rangkaian proses yang dijalani untuk mendapatkan gelar sarjana? Masa harus takluk dan menyerah pada skripsi yang bobotnya hanya beberapa SKS dan pengerjaannya tidak sampai 1,5 tahun (paling maksimal)! Masa tidak ingat bahwa selama menjalani kuliah 3,5 tahun dari semester 1 sampai 7 (sebelum melakukan skripsi) telah banyak perjuangan yang kemudian dimenangkan (laporan praktikum menumpuk setiap hari bisa dirampungkan, 20-24 SKS diambil setiap semester bisa dijalani, tugas dosen yang silih berganti bisa dikerjakan, dan lain sebagainya)?

Masa harus menyerah ketika harus mempelajari ilmu-ilmu baru? Padahal setiap semester dalam proses pendidikan, mahasiswa juga menemui banyak ilmu-ilmu baru yang asing sebelumnya! Perbedaannya hanya pada adanya dosen yang menemani dalam menggali ilmu tersebut. Saya katakan, jangan sungkan bertanya kepada para ahli ilmu baru tersebut. Jangan terpatok hanya pada dosen pembimbing. Banyak ahli-ahli lain di luar kampus. Kalau perlu di luar Indonesia. Jangan sungkan layangkan pertanyaan, via email, surat, dsb. Saya mengatakan kepadanya, saya juga dulu melakukan hal tersebut. Meskipun bahasa inggris saya belepotan, saya berani saja mengirimkan email pertanyaan kepada para ahli di luar Indonesia. Dan saya yakinkan, mereka akan dengan senang hati menanggapi.

Mengenai tekanan yang datang dari orang tua, saya mengatakan kepadanya, jangan takut. Itu justru bentuk perhatian mereka pada kita. Lagi pula sangat wajar mereka melakukan itu, karena kita ini masih dalam tanggung jawab mereka. Kecuali kita membiayai semua kuliah kita dari hasil usaha sendiri. Jangan pernah menjauh dari keluarga, apalagi ibu. Justru kita harus sering-sering bersilaturahim dan meminta doa kepadanya. Katakan dengan baik-baik, penelitian skripsi sedang terus diupayakan dikerjakan. Percayakan saja kepada kita. Yang kita minta, doa dari mereka yang tak terputus agar kita bisa cepat membereskan kuliah kita.

Setelah merasa cukup memberikan vitamin moral, saya melihat ada perubahan wajah pada mahasiswa ini. Wajah yang tadinya menampakkan raut seolah-olah paling menderita sendiri, berubah menjadi ada cahaya optimisme, ada senyuman tersungging di bibir, ada harapan yang terlihat hidup kembali. Sebagai seorang pendidik, saya berharap kondisi ini terus bisa dijaga. Semangat terus bisa dinyalakan. Harapan terus bisa dihidupkan. Mudah-mudahan tidak lama lagi saya mendengar darinya bahwa dia berhasil menaklukkan permasalahannya, berhasil berdiri menyelesaikan problematika tugas akhirnya. Semoga. Aamin.

 

Comments»

1. xordinary - March 6, 2015

kondisi saya sekarang sama dengan mahasiswa tsb yang berbeda adalah saya masa kuliah saya akan berakhir dalam 2 bulan. saya merasa tertekan, saya takut mengecewakan orang orang yang mendukung saya sejauh ini. terpikir untuk menyerah, dan lanjut kuliah di UT sambil kerja mengingat umur saya yang sudah 26tahun….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: