jump to navigation

Mental Jamu, Bukan Mental Tempe! Revolusi Mental untuk Hadapi MEA 2015 September 11, 2014

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback
Contoh Produk Jamu

Contoh Jamu, produk asli Indonesia menjadi warisan budaya dunia

Ada ungkapan unik yang cukup melekat di kalangan masyarakat kita, yaitu mental tempe. Ungkapan ini biasanya disematkan untuk menggambarkan orang yang tidak cukup punya daya juang atau mudah menyerah. Orang dengan mental tempe ini seringkali mudah bersemangat tetapi ketika menghadapi ujian maka mentalnya mudah mlempem (bahasa Jawa untuk kerupuk yang terkena air atau banyak angin). Padahal sejatinya untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang sebentar lagi datang di tahun 2015, masyarakat kita seharusnya sudah mulai meninggalkan mental tempe ini (harap dicatat bukan meninggalkan tempenya ya…meskipun tempe sekarang umumnya berbahan dasar kedelai impor J).

Dalam MEA 2015 nanti, persaingan kita tidak hanya antarorang Indonesia tetapi juga dengan orang wilayah ASEAN. Jika kita masih bermental tempe, bisa dijamin kita akan kerepotan untuk berkompetisi dengan orang asing dalam berbagai hal terutama dalam menggapai kesejahteraan. Sudah saatnya kita meninggalkan mental tempe dan beralih ke mental jamu!

 Lho kok mental jamu? Ungkapan apa lagi itu?

Sabar-sabar, saya belum selesai menjelaskan. Jadi begini ceritanya…Ungkapan tersebut terispirasi dari kata jamu. Masyarakat Indonesia sudah barang tentu tidak asing dengan kata jamu, bukan? Produk asli bangsa Indonesia yang sudah mendarah daging dari mulai nenek moyang sampai ke generasi kita saat ini – mudah-mudahan sampai ke generasi selanjutnya. Saya yakin, hampir bisa dipastikan setiap orang Indonesia sudah pernah merasakan jamu. Meski terkesan tradisional, jamu tetap lekat menjadi budaya bangsa yang tidak mudah luntur alias tetap lestari dari dulu sampai sekarang, bahkan sekarang menjadi warisan budaya dunia (Suprana, 2013). Pada perkembangannya sekarang ada produk jamu yang sudah distandardisasi dan dikemas secara modern. Rasa pahit jamu pun bisa disulap menjadi rasa manis yang membuat kita tergoda mencicipi.

Kira-kira tahu tidak kenapa jamu tetap lestari sebagai budaya bangsa Indonesia? Karena bangsa Indonesia mencintai jamu. Meski rasa jamu pada umumnya pahit, namun khasiat jamu yang luar biasa, bisa membuat jamu tetap menjadi pilihan masyarakat kita untuk memperoleh kesehatan prima. Nah, berkaitan dengan keistimewaan jamu inilah, ungkapan mental jamu sudah sepantasnya menggantikan ungkapan mental tempe untuk menyambut MEA 2015.

Satu alasan yang pasti adalah meskipun rasanya pahit, jamu dapat menyehatkan sehingga membuatnya tetap lestari hingga saat ini. Dalam menyambut MEA 2015, kita harus bermental jamu. Kita harus berjuang dengan kekuatan optimal, dengan kerja keras dan pantang menyerah, hingga dapat merebut dan memenangkan kompetisi. Sikap ini harus tetap menjadi bagian lestari mental bangsa. Meskipun perjuangan untuk merebut dan memenangkan kompetisi seringkali terasa pahit pada awalnya (seperti rasa jamu), tetapi yakinlah akan berbuah manis pada akhirnya (seperti manfaat jamu yang menyehatkan). Kalau hal ini bisa terus kita pelihara seperti memilihara kecintaan kita pada jamu, maka yakinlah kemenangan kompetisi itu akan bisa tetap lestari hingga berganti generasi.

Daftar Pustaka

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: