jump to navigation

Revolusi Jamu, Pelan Tetapi Pasti Menuju Modernitas September 11, 2014

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags: ,
trackback
Jamu Tradisional

Jamu Tradisional Versi Sepeda Onthel

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya pertama kali bersentuhan dengan produk asli Indonesia yang bernama jamu. Mungkin saat saya belum memasuki usia sekolah. Yang jelas puluhan tahun kemudian, saat usia saya sudah melewati angka tiga puluhan tahun, ternyata produk jamu juga masih kerap saya temui. Namun tentu dengan sedikit perbedaan di sana-sini.

Saya masih ingat, dulu saya berlangganan jamu pada seorang penjual jamu yang memasarkan jamunya dari pintu ke pintu dengan berjalan kaki. Dengan membawa bakul yang dipenuhi botol-botol berisi jamu racikan tangan di punggungnya (diikat dengan kain panjang seperti selendang), sementara tangan kanannya menjinjing ember berisi air cucian untuk membersihkan gelas para pelanggannya, tanpa ragu si penjual menawarkan jamu racikannya. Untuk memberi kesan tradisional, si penjual jamu sengaja mengenakan busana daerah; kebaya dan kain panjang menutupi hingga kakinya – meskipun kadang karena busananya ini, gerak tubuhnya agak terhambat.

Saat itu, anak kecil seusia saya biasanya hanya mengkonsumsi jamu yang rasanya tidak pahit, misalnya jamu beras kencur. Yang menarik dan ditunggu saya adalah minuman penutup yang disiapkan ibu penjual jamu. Meskipun diberikan hanya sekitar seperlima ukuran gelas (beberapa tegukan saja), tetapi rasanya yang manis dengan sensasi dingin yang menyejukkan membuat ketagihan. Bahkan beberapa anak sengaja hanya membeli minuman penutupnya saja, bukan jamu utamanya.

Jamu Versi Plastik

Ibu Darkem, penjual jamu dalam kemasan plastik

Kini, dengan versi baru, jamu sudah dikemas secara apik, higienis, dan menarik dalam kemasan khusus yang aman dan higienis.Tidak lagi menghuni botol-botol yang tidak jelas kesterilannya. Meskipun di beberapa tempat masih juga ditemui penjual jamu yang menjajakan jamunya dalam botol-botol bekas sirup atau dalam plastik-plastik kecil yang diikat kemudian dimasukkan dalam termos.

Jamu memang unik, di saat obat-obatan modern tumbuh berkembang dengan pesat dan dikonsumsi oleh sebagian besar orang saat mereka sakit, jamu tetap memiliki pelanggan setia, tidak kehilangan ketenarannya di tengah masyarakat, meski mungkin tidak lagi dalam versi kuno yang masih lekat dengan nuansa ketradisionalan.

Saat ini saya merindukan suasana saat mengkonsumsi jamu yang dituangkan langsung dari botol-botol yang dijajakan ibu-ibu penjual jamu berpakaian tradisional. Dengan senyum ramahnya menyapa si pelanggan, dan dengan sugestinya yang kuat menambah daya khasiat jamu. Namun tentu saya tidak akan sanggup menahan perkembangan jamu ke arah lebih modern, yang menawarkan kepraktisan, kehigienisan, dan keampuhan khasiat jamu lewat standardisasi produk yang ditawarkan.

Jamu Versi Kemasan Modern

Jamu versi kemasan modern, terstandardisasi dan higienis

Suatu saat saya mungkin harus rela kehilangan momen menunggu kucuran minuman penutup yang manis dan membawa sensasi dingin dari botol khusus yang disodorkan penjual jamu tradisional. Tetapi tidak mengapa, asalkan produk jamu asli buatan tangan-tangan orang Indonesia masih tetap dapat saya jumpai dengan mudah, tidak berganti dengan produk obat-obatan kimia sintetik yang sudah mulai marak menggerus pamor jamu tradisional. Semoga kita dan generasi kita, masih terus dapat menghargai warisan budaya bangsa yang kini bahkan telah menjadi warisan budaya dunia (Suprana, 2013).

Sumber pustaka:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: