jump to navigation

Antara Filosofi Padi, Bambu, dan Alfalfa November 6, 2014

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags: , ,
trackback
Bunga Alfalfa (plants.usda.gov) 24 okt 14

Bunga Medicago sativa L (Alfalfa) (plants.usda.gov)

Para orang tua kita selalu menasihati kepada kita, “jadilah seperti padi. Semakin berisi, semakin merunduk”. Maknanya semakin tinggi ilmu yang kita miliki seyogyanya kita semakin rendah hati, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain karena dianggap ilmunya tidak ada apa-apanya dibanding ilmu kita, dan juga tidak pamer terhadap ilmu yang dimiliki.

Filosofi ini sejalan dengan pepatah yang berbunyi “Tong kosong nyaring bunyinya” yang bermakna bahwa orang yang biasanya banyak berulah, bersuara nyaring, sombong dan pamer ilmu yang dimilikinya biasanya justru hanya sedikit memiliki ilmu tersebut. Orang yang memiliki ilmu luas cenderung menghindari perilaku berbunyi nyaring yang berujung kepada ajang pamer keilmuan. Tapi tentu orang seperti ini tak menjadi pelit untuk berbagi ilmu yang dimilikinya.

Namun filosofi padi dipandang oleh sebagian orang kurang tepat dalam menggambarkan jiwa ilmuwan sejati. Ilmuwan sejati ketika mendapatkan ilmu akan semakin haus lagi untuk terus memperdalam ilmunya. Bukan seperti padi yang punya keterbatasan, hingga terpaksa harus merunduk karena beban bulir-bulir padi yang dimiliki. Ketika sudah berisi bulir, padi dianggap tidak tahan oleh terjangan permasalahan seperti angin kencang, sehingga seringkali roboh bersama bulir-bulir yang dimilikinya.

Bagi orang yang tidak setuju dengan filosofi padi akan mencari filosofi lain yang lebih menggambarkan karakter pribadinya. Salah satunya adalah filosofi bambu. Bambu terus tumbuh tinggi, seperti seorang yang tak pernah bosan terus belajar, belajar, dan belajar. Tidak seperti padi yang punya batas tumbuh. Setelah tinggi, meskipun ada tantangan yang datang seperti terjangan angin, bambu akan tetap bertahan karena ujungnya yang menjuntai elastis sehingga tidak mudah patah.

Selain filosofi padi dan bambu, saya memperkenalkan sebuah filosofi lain, yaitu filosofi alfalfa. Apa itu alfalfa? Alfalfa adalah tumbuhan hijauan yang kaya nutrisi. Bahkan dijuluki sebagai “Bapaknya tumbuhan”. Daun alfalfa bisa terus dipanen tidak mengenal waktu dan musim. Ini menandakan bahwa seorang ilmuwan sejatinya terus memberikan manfaat kepada sekitarnya tanpa mengenal waktu dan musim. Alfalfa juga memiliki masa hidup yang panjang bahkan jika dipelihara dengan baik dapat dipanen hingga 25 tahun kemudian. Artinya ilmunya akan terus dia bagikan kepada orang lain sepanjang hayatnya.

Daun Alfalfa (Medicago sativa L) (plants.usda.gov)

Daun Alfalfa (Medicago sativa L) (plants.usda.gov)

Alfalfa tidak hanya memberikan manfaat dari daun atau batangnya, tetapi juga dari akarnya. Akar alfalfa mengandung bintil-bintil yang berisi bakteri Rhizobium (penambat nitrogen dari atmosfir). Bakteri pada akar alfalfa membuat tanah di sekitar alfalfa menjadi kaya nitrogen (salah satu unsur makro penting bagi tumbuhan). Yang unik, akar alfalfa ini dapat menghujam jauh ke dalam tanah hingga 4,5 meter. Bagi seorang pencinta ilmu, tidak seharusnya ilmu yang didapatnya menjadikan dia sombong. Justru harus membuat dia semakin rendah hati (menghujam jauh ke tanah) dengan tetap memberikan manfaat kepada sekitarnya dengan menyediakan daun-daun yang bisa dipanen setiap waktu dan dalam jangka waktu panjang.

Akar alfalfa yang panjang dan mengandung bintil-bintil membuat alfalfa menjadi tumbuhan yang tahan hidup di lingkungan tidak subur. Bahkan tidak hanya mampu bertahan hidup, alfalfa mampu secara alami membuat sedikit demi sedikit lingkungan di tempat tumbuhnya menjadi subur dengan menyediakan sumber nutrisi dan air bagi tanah. Tentu ini akan membuat tumbuhan lain bisa tumbuh dan berkembang di lingkungan tersebut. Sejatinya seorang ilmuwan harus mampu memberikan inspirasi dan dorongan kepada orang-orang di sekitarnya untuk tumbuh dan berkembang serta berkarya sehingga lingkungan tinggalnya menjadi lebih mendatangkan manfaat bagi makhluk hidup lainnya.

Sekali lagi alfalfa adalah bapak dari segala tumbuhan. Seyogyanya filosofi ini juga dimiliki para ilmuwan yang akan menjadi bapak untuk calon-calon ilmuwan lainnya, dan begitu seterusnya sehingga atmosfir keilmuwan di negeri kita akan terus tumbuh dan berkembang secara paripurna.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: