jump to navigation

Petani Jenderal; Saat Mantan Kapolri pun Ingin Bertani January 23, 2015

Posted by snhadi in Senyuman Cinta.
Tags: ,
trackback
033700_sutarman

Jenderal Sutarman (detik.com)

Sebuah keputusan yang mengejutkan sekaligus unik ketika dalam sebuah berita di media massa, mantan Kepala POLRI, Jenderal Sutarman berani menolak tawaran Presiden Joko Widodo untuk mengemban jabatan baru selepas diberhentikan dengan hormat dari jabatan puncak POLRI (tribunnews.com).

Apapun alasan sang jenderal menolak jabatan menggiurkan dari pemuncak negeri ini, bukan menjadi perkara yang menarik bagi saya. Yang justru menjadi perhatian bagi saya adalah ketika beliau ingin “membantu” presiden dalam bentuk lain, yaitu menjadi petani. Catat: Menjadi PETANI di kampung halaman, Sukoharjo Jawa Tengah!

Saat orang lain berebut posisi di kekuasaan, bahkan seringkali tidak memikirkan masih pantas atau tidak dilihat dari sisi usia dan kemampuan, sang jenderal justru ingin menjauh. Menggeluti pekerjaan baru mengikuti jejak sang ayah menjadi petani. Pekerjaan yang justru ditinggalkan oleh sebagian besar pemuda dan pemudi republik ini karena alasan tidak “basah” dan bergengsi. Padahal sejatinya menjadi petani adalah pekerjaan yang berkelas dan sangat menjanjikan di masa depan. Kenapa demikian?

Untuk menjawab hal tersebut, saya ingin melontarkan pertanyaan sederhana. Siapa yang tidak butuh makan? Penduduk bumi yang bermilyar milyar apa bisa tidak makan? Lalu siapakah pemasok kebutuhan makan mereka? tentu petani dan jaringan luasnya. Seberapa mahal pun harga bahan pangan yang disodorkan petani, mau tidak mau akan dibeli oleh penduduk negeri yang semakin hari semakin padat.

Menjadi petani bukan perkara yang mudah. Perlu keseriusan dan totalitas. Jangan dilupakan juga perlu sebuah ketulusan. Sebuah pengalaman berharga yang saya peroleh beberapa minggu ini, bahwa bertani itu penuh tantangan. Dari mulai tantangan menumbuhkan benih, mengolah tanah, sampai tantangan menghadapi serbuan hama yang menyerang tanaman tercinta. Padahal saya hanya “bertani” di lahan samping rumah yang luasnya hanya sekitar 50 m2. Bagaimana dengan petani yang punya lahan dengan luas hektaran?

Tetapi meskipun penuh tantangan, tidak sedikit hal menyenangkan yang bisa didapat dari bertani. Betapa senangnya ketika benih yang disemai tumbuh menjadi tanaman kecil dan bertambah tinggi dari waktu ke waktu, dan kita bisa memandangnya setiap hari tanpa bosan. Betapa indahnya ketika bibit yang kita tanam tumbuh daun dan tangkai baru. Betapa tak terkiranya nikmatnya ketika kita pada akhirnya bisa memetik hasil tanaman kita dan dapat disuguhkan menjadi hidangan untuk makan keluarga tercinta.

Merasakan pengalaman berharga ini, saya sangat mahfum dengan pilihan hati sang jenderal. Menjadi seorang petani memang tanpa jabatan atau pangkat, tetapi memberikan kenikmatan tersendiri bahkan dapat membawa manfaat yang jauh lebih besar bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: