jump to navigation

Bioindikator, Saat Alam Membunyikan Alarm September 30, 2016

Posted by snhadi in Goresan Ilmu.
trackback

katakManusia hidup tidak bisa sendiri. Selain butuh manusia yang lainnya, kita juga butuh makhluk hidup lain di sekitar kita. Terkadang kita memang sombong, karena diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling sempurna dibanding makhluk lainnya, kita merasa bahwa merekalah yang butuh kita, bukan kita yang butuh mereka. Sebagai contoh, kita merasa hewan peliharaan di rumahlah sebenarnya yang butuh dan bergantung kepada kita, kita sama sekali tidak butuh mereka, kalaupun butuh hanya sebagai hiburan semata. Padahal benarkah demikian?

Dalam sebuah lingkungan ekosistem, saat manusia dan makhluk hidup lain serta komponen tak hidup yang ada saling berinteraksi erat, tidak ada yang seharusnya merasa menjadi paling hebat. Meskipun tentu secara kodrati, manusia jauh lebih sempurna dibanding makhluk lain, tetapi secara alami, kita tetap membutuhkan ciptaan Tuhan lain di sekitar kita. Salah satunya karena mereka dapat memberikan kita peringatan akan keadaan lingkungan tempat tinggal kita yang mungkin akan menjadi ancaman bagi kita. Mereka dapat menjadi indikator hidup (bioindikator) bahwa lingkungan tempat tinggal kita masih nyaman dan sehat atau justru sudah sakit dan membahayakan.

Beberapa orang ahli mendefinisikan apa itu bioindikator. Fureder dan Reynolds (2003) mengatakan bahwa bioindikator adalah organisme-organisme yang bereaksi terhadap perubahan lingkungan melalui perubahan metabolisme, aktivitas, atau aspek lainnya atau yang mengakumulasi senyawa-senyawa beracun pada dirinya. Sementara Hamza-Chaffai (2014) mendifinisikan bioindikator sebagai organisme-organisme yang mengindikasikan interaksi jangka panjang dari beberapa kondisi lingkungan, tetapi juga bereaksi terhadap suatu perubahan faktor-faktor penting dalam lingkungan yang terjadi secara tiba-tiba. Definisi manapun yang kita ambil pada akhirnya kita mengetahui bahwa bioindikator dapat bercerita kepada kita tentang efek akumulatif dari zat-zat pencemar dalam suatu ekosistem dan tentang sudah berapa lama suatu permasalahan hadir di suatu ekosistem (Jain et al., 2010).

Lalu, makhluk hidup apa saja yang dapat dijadikan sebuah bioindikator? Ternyata semua makhluk hidup baik mikroba (jasad renik), tanaman, maupun hewan dapat berperan sebagai indikator hidup kerusakan atau pencemaran suatu lingkungan. Sebagai contoh, kita sering melihat katak (kodok) di sekitar kita. Terkadang kita jijik terhadap mahkluk hidup yang satu ini dan kita berusaha menyingkirkan mereka dari sekitar tempat tinggal kita. Padahal, katak bisa menjadi alarm bagi kita. Lingkungan yang masih dihuni katak, dapat mengindikasikan bahwa lingkungan tersebut masih belum tercemar, khususnya lingkungan perairannya. Justru kalau kita tidak menemui katak hidup di lingkungan kita maka kita harus waspada bahwa jangan-jangan sudah terjadi pencemaran air di tempat tinggal kita. Lalu, kenapa katak dapat menjadi bioindikator? Ternyata karena katak, secara alamiah hidup di dua alam. Pada saat telur dan berudu (kecebong) katak akan menetap di air. Jika airnya tercemar maka calon katak ini akan mati karena zat pencemar akan mudah masuk dan meracuni tubuh bayi katak melalui kulitnya yang semipermeable. Kalau sudah demikian, maka katak dewasa yang hidup di darat akan sulit kita temui.

Contoh lainnya, bakteri yang dikenal sebagai bioluminiscent bacteria, seperti Photobacterium fisceri dan P. phosphoreum dapat menjadi bioindikator.  Biasanya mikroba jenis ini digunakan untuk menguji keberadaan zat pencemar (racun) yang ada di lingkungan sekitar. Apabila terdapat racun di dalam air, maka racun akan mengganggu bahkan bisa menghambat proses metabolisme seluler di dalam tubuh mikroba. Kondisi ini menyebabkan bakteri tersebut memberikan respon dengan mengemisikan (memancarkan) cahaya. Cahaya inilah yang kita dapat deteksi dan ukur.

Selain hewan dan mikrobia, kelompok tanaman juga dapat berperan sebagai bioindikator. Contohnya adalah lichen. Lichen seringkali ditemui di bebatuan. Lichen termasuk jenis lumut yang mengandung fungi dan algae pada dirinya yang saling bersimbiosis. Ketidakhadiran lichen di suatu tempat misalnya hutan dapat mengindikasika bahwa sudah terjadi stress pada lingkungan tersebut misalnya karena kandungan senyawa Sulfur dioksida yang tinggi atau polutan lain berbasis sulfur dan nitrogen.

Selain contoh di atas tentu masih banyak lainnya dari mulai capung, kupu-kupu, sampai makhluk hidup yang kita anggap menjijikan seperti lintah dan cacing tanah dapat menjadi alarm bagi kondisi lingkungan tempat tinggal kita. Yang diperlukan hanya apakah kita peka atau tidak terhadap petunjuk Tuhan melalui alam sekitar. Kalau kita peka, maka kita dapat mulai menyusun strategi agar ketidaksehatan lingkungan tidak sampai membuat kita menjadi ikut sakit dan terdampak.

Sumber pustaka:

  • Amel Hamza-Chaffai. 2014. Usefulness of Bioindicators and Biomarkers in Pollution Biomonitoring. International Journal of Biotechnology for Wellness Industries, 3. 19-26.
  • Fureder L, Reynolds JD. Is austropotamobius pallipes a good bioindicators? Bull Fr Pêche Piscic 2003; 157-63.
  • Akanksha Jain, Brahma N. Singh, S. P. Singh, H. B. Singh & Surendra Singh. 2010. Exploring Biodiversity as Bioindicators for Water Pollution. National Conference on Biodiversity, Development and Poverty Alleviation.

 

 

 

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: