jump to navigation

Tanah yang Hidup dan Mati November 30, 2016

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags:
trackback
tanah

(Sumber: pertanian.tv)

Dalam sesi kuliah umum yang diadakan Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed, pada 28 November 2016 lalu, seorang pembicara dari LIPI, Dr.rer.nat. Sarjiya Antonius mengungkapkan bahwa tanah yang oleh sebagian kita dianggap benda mati, sejatinya adalah hidup. Mungkin maksud beliau, bukan definisi hidup layaknya kita manusia, hewan, tumbuhan, atau mikroba yang ditandai dengan: memerlukan makanan, bernafas, tumbuh dan berkembang, bergerak, berkembang biak, dan menanggapi rangsangan, melainkan lebih diartikan kepada kemampuan tanah mendukung organisme yang ada disekitarnya dalam menjalani hidupnya.

Tanah yang “Hidup” akan menghidupkan, sementara tanah yang “mati” akan mematikan kehidupan. Tanah yang kita pijak memang terlihat pasif secara kasat mata, tetapi sebenarnya aktif. Secara tidak sadar, saat ini kita banyak melakukan hal-hal buruk kepada tanah, misalnya menggelontorkan bahan-bahan pencemar. Mungkin lantaran tanah terlihat diam dan tidak berontak saat kita melakukan hal-hal merugikan tersebut membuat kita seakan biasa saja melakukannya tanpa rasa bersalah sedikitpun, bahkan mengulangi terus-menerus.

Di bidang pertanian, dosa kita terhadap tanah sudah terlampau banyak. Revolusi hijau yang menargetkan upaya swasembada pangan telah mendorong kita melakukan pencemaran besar-besaran terhadap tanah. Pestisida sintetik dan pupuk anorganik kita gelontorkan dengan dosis dan takaran yang seringkali tidak taat aturan. Pada awalnya, tanah tidak bereaksi, bahkan masih turut membantu kita mewujudkan mimpi kita tentang produksi pangan yang tinggi. Namun lama kelamaan, tanah menjadi lelah. Toleransinya terhadap apa yang kita lakukan terkikis habis seiring dengan pertambahan waktu. Dampaknya, tanah tidak lagi memberikan kehidupan karena memang dia dalam posisi yang tak lagi hidup.

Ulah kita yang tidak bertanggung jawab membuat tanah menjadi mati. Tanah yang mati membuat kehidupan dalam tanah turut mati. Pada akhirnya kita bersiap-siap akan juga turut mati.

Bagaimana agar kita tidak ikut mati? Jawabnya hanya satu, “Bantu tanah untuk hidup kembali”. Bagaimana caranya: perlakukan dia layaknya makhluk hidup. Sayangi dia, muliakan dia! Berikan apa yang dia inginkan, maka dia akan memberikan apa yang kita inginkan. Mari bantu tanah, kurangi racun yang mencemarinya. Kurangi penggunaan pestisida sintetik dan pupuk anorganik. Ganti dengan pupuk hayati. Mungkin akan butuh waktu yang lama agar tanah bisa hidup kembali, tetapi jangan lelah. Terus lakukan saja, anggap saja ini sebagai bukti rasa terima kasih kita kepadanya dan komitmen kita untuk menghapus dosa-dosa kita atau dosa para penghulu kita kepadanya.

 

 

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: