jump to navigation

Kenapa Saya Hijrah dari Jakarta? February 21, 2017

Posted by snhadi in Uncategorized.
add a comment

Masih tentang Jakarta, tempat saya pernah tinggal & bekerja di sana. Kenapa saya memutuskan hijrah dari Jakarta?

1. Jakarta banyak membuang energi saya sia-sia. Saat orang lain masih asyik mendengarkan ceramah agama selepas shubuh di masjid atau di TV, saya harus siap berangkat pagi-pagi, bahkan terkadang sholat shubuh jadi terburu-buru demi mengejar jadwal bus agar datang tepat waktu ke tempat kerja karena kemacetan Jakarta memang sulit diprediksi. Setelah itu berebut naik bus, beruntung kalau bisa duduk, bisa langsung tidur kembali. Kalau pas dapat yang berdiri, ehm…nikmatnya! Pulangnya, untuk menghindari kemacetan saya pilih pulang selepas magrib. Itupun seringkali masih terjerembab macet di beberapa titik Jakarta. Sampai rumah, baju kusut, muka lecek, badan cape2, mata ngantuk. Untung saat itu saya belum berkeluarga jadi tak sampai baper karena sampai rumah anak isteri sudah tidur!

2. Selain sempat melaju PP Bogor – JKT, saya sempat juga menghuni kamar kontrakan ukuran sekitar 3×3 meter bersama seorang teman di daerah Kalideres. Untuk mengirit, pilih kontrakan dengan kamar mandi luar. Untuk sekedar melepaskan hajat, harus siap antri. Juga harus siap dengan air mandi yang basa dan berbuih dengan aroma seperti tercemar. Malamnya harus siap tidur dikerubuti nyamuk! Siap juga mendengar keluh kesah pasangan suami isteri yang jadi tetangga kontrakan tentang problematika hidup dan pekerjaan mereka. Pokoknya harus siap dengan segala macam tekanan kehidupan tempat tinggal. Belum lagi tekanan pekerjaan karena tak sampai hati melihat ibu-ibu hamil 8 bulan masih bekerja shif malam! Juga siap mendengar keluh kesah karyawan kontrak yg sering diputus kerja sepihak oleh pabrik menjelang hari raya (mungkin menghindari THR).

Selepas pindah dari Jakarta ke Batam, wow ternyata Jakarta memang mungkin layak saya tinggalkan! Bayangkan, di Batam saya tak pernah terjebak macet! Saya juga bisa menikmati hidup, menjumpai matahari saat berangkat dan pulang kerja! Saya bisa tinggal di kamar ber-AC, kamar mandi dalam dengan shower dan bathub, TV dan kulkas serta fasilitas laundry! Saya bisa juga sarapan roti bakar dengan selai gratis. Saya juga pernah tinggal di pulau kecil dengan pemandangan laut yang indah. Untuk lulusan S1 dari PTN di Jawa, saya mengambil kesimpulan Batam secara umum lebih manusiawi dibanding Jakarta: dari segi gaji, fasilitas, perlakuan atasan kepada bawahan.

Tentu pengalaman hidup saya tidak bisa digeneralisir ke semua orang. Tapi paling tidak bisa jadi bahan pertimbangan buat penduduk Jakarta. Kalau masih ingin lama tinggal di sana, carilah sebuah perubahan. Perubahan apa? Carilah pemimpin yang memanusiakan dan adil, bukan pemimpin yang condong kepada para cukong dan pemilik modal kuat, sementara kaum papah digusur tak manusiawi!  cari pemimpin yang punya program visioner untuk atasi kemacetan dan banjir, bukan program status quo yang terbukti masih gagal! Carilah memimpin yang punya program pemberdayaan ekonomi rakyat, misalnya mendukung UMKM, bukan cuma berpihak pada konglomerat kelas kakap. Carilah pemimpin yang peduli lingkungan dan generasi, jangan cari pemimpin pendukung reklamasi yang diprotes green peace, WALHI dan sejumlah LSM dan pakar lingkungan.

Berjuanglah warga Jakarta untuk nasibmu 5 tahun mendatang atau kalau tidak sanggup, mungkin bisa dipikirkan untuk hijrah ke tempat baru!

Info tambahan: selepas kuliah saya sempat bekerja 1 tahun di Jakarta setelah itu hijrah ke Batam dan tinggal sekitar 7-8 tahun. Terakhir hijrah lagi ke daerah kecil di Jawa Tengah untuk membangun kehidupan bersama keluarga di daerah pedesaan.