jump to navigation

Karunia yang Terlupakan, Belajar dari Gulma dan Hama Tanaman December 25, 2016

Posted by snhadi in Inspirasi Persahabatan.
Tags: ,
add a comment
sutriono

Bapak Sutriono, Pakar Pertanian Organik Banyumas, dalam salah satu Acara Talkshow di Fakultas Pertanian Unsoed

Sebagian kita mendefinisikan karunia adalah pemberian Tuhan yang mendatangkan manfaat bagi kita. Sementara sebagian lainnya, mengartikannya lebih luas. Apapun yang ada di bumi adalah karunia-Nya, terlepas nyata manfaatnya atau tidak atau bahkan membawa masalah sekalipun untuk kita.

Di bidang pertanian. Sebagian menganggap bahwa gulma (tumbuhan liar di sekitar tanaman budidaya) adalah musuh karena memang sejatinya akan menyaingi tanaman budidaya dalam hal penggunaan nutrisi. Begitu pula dengan keong, dianggap sebagai musuh bagi budidaya tanaman padi. Jarang sekali yang menganggapnya sebagai karunia.

Salah satu yang sedikit berbeda dari petani kebanyakan, adalah Bapak Sutriono. Beliau adalah petani dari Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Bapak Sutriono dan beberapa anggota gabungan kelompok tani (gapoktan) Tani Mulya, Kebasen menganggap bahwa semua yang menjadi musuh, dapat dijadikan kawan bahkan mendatangkan manfaat.

Uniknya, pak Sutrisno tidak sekedar beretorika layaknya elit-elit politik tetapi bertindak nyata membuktikan bahwa yang selama ini dimusuhi petani ternyata justru dapat mendatangkan manfaat yang banyak bagi petani. Misalnya keong mas. Selama ini dianggap sebagai hama penganggu tanaman padi. Oleh pak Sutriono dan kawan-kawan disulap menjadi sumber nutrisi bagi tanaman budidaya, menjadi pupuk hayati. Bahkan di wilayah Banyumas, pak Sutriono dikenal sebagai praktisi pertanian organik (natural farming) alias sistem budidaya tanaman tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetik pabrikan seperti pupuk dan pestisida. Pak Sutriono mengembangkan pertanian organik ini sampai wilayah Kalimantan.

Begitu pula terhadap gulma, pak Sutriono dan kawan-kawan mengolahnya menjadi bahan alami untuk memberantas hama pengganggu tanaman. Mereka sudah tidak mengenal lagi pestisida, yang mereka kembangkan adalah biopestisida. Salah satu biopestisida berbahan gulma.

Memang tidak mudah menemukan orang-orang seperti pak Sutriono dan kawan-kawan. Kenapa? Karena tidak jarang kita tertarik mengembangkan pupuk hayati atau biopestisida, namun karena kerjanya yang tidak seinstan pupuk sintetik dan pestisida, bahkan cenderung lambat, membuat kita tidak sabar dan kembali beralih kepada pertanian konvensional dan kembali menganggap bahan-bahan tersebut adalah musuh yang patut dibasmi. Padahal sejatinya, mereka yang selama ini terlupakan tetap karunia dari Alloh, dan pasti ada manfaatnya. Karena Alloh tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia. Tinggal kita mau apa tidak menganggapnya.